Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Bunyi tabuhan tambur yang bergema pada Rabu (25/02) malam, di depan Kantor Gubernur DIY, menandai resmi dibukanya event Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI Tahun 2026. Selama seminggu, mulai dari 25 Februari hingga 3 Maret 2026, event tahunan ini akan berlangsung dengan berbagai rangkaian kegiatan menarik yang berpusat di Kampoeng Ketandan Yogyakarta.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang membuka langsung event ini menekankan bahwa Yogyakarta dengan keistimewaannya, tumbuh dari kesediaan untuk membuka ruang bagi setiap identitas yang datang dengan niat baik dan kerja keras. Pekan Budaya Tionghoa pun adalah bagian dari narasi panjang tersebut.
“Oleh karenanya, dari Ketandan, kita mengirim pesan, bahwa harmoni bukan utopia. Ia adalah pilihan sadar, yang terus kita rawat. Di Ketandan, di lorong-lorong kampung tua yang sarat sejarah, di panggung-panggung budaya yang malam ini kembali menyala, kita menyaksikan bagaimana masyarakat menyapa masa lalu, menata masa kini, dan mengirim pesan kepada masa depan,” tutur Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, PBTY adalah momentum perjumpaan nilai. Tak hanya sekadar pertemuan tradisi, tetapi pertemuan kesadaran. Dalam nilai kebijaksanaan Tiongkok, dikenal konsep “Yin dan Yang” yang melambangkan keseimbangan antara terang dan teduh, antara gerak dan diam, antara kekuatan dan kelembutan. Kehidupan pun tumbuh bukan di satu sisi, melainkan dalam keselarasan dua kutub, yang saling melengkapi.
Sementara itu, dalam peradaban Jawa, dikenal falsafah “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang bermakna merawat keindahan dan menjaga harmoni dunia. Manusia, dipanggil untuk menjaga keseimbangan dengan sesama, dengan alam, dan dengan semesta.
“Dua nilai moral dari bahasa yang berbeda ini, bertemu dalam satu pesan yang sama, bahwa keseimbangan adalah fondasi peradaban. Dan ketika keseimbangan menjadi landasan, energi perubahan pun harus diarahkan dengan bijaksana,” ungkap Sri Sultan.
Sri Sultan pun menyebut, memasuki Tahun Kuda Api, berarti berbicara tentang daya gerak dan cahaya transformasi. Yang mana kuda melambangkan keberanian melangkah; api melambangkan semangat yang menyala. Meski demikian, api hanya memberi terang ketika terkendali, dan dapat membakar bila dilepas tanpa arah.
Dalam laku Jawa sendiri, dikenal watak ‘rèh‘ dan ‘ririh‘ yang bermakna kesabaran dan kehati-hatian, tidak ‘grusa-grusu‘, tidak mudah tersulut. Energi tidak dimatikan, tetapi dituntun. Semangat tidak dipadamkan, tetapi dijernihkan.
“Hal ini selaras dengan ajaran Konfusianisme, yang menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama, berakar pada kasih dan kepedulian terhadap sesama. Martabat manusia terjaga, ketika ia memperlakukan sesamanya dengan toleran, hormat, dan welas asih,” papar Sri Sultan.
Oleh karena itu, disampaikan Sri Sultan, PBTY tahun ini kian bermakna, karena berlangsung dalam suasana Ramadan. Di tengah laku menahan hawa nafsu, ruang budaya tetap terbuka, sebagai ruang perjumpaan nilai. Bahkan, PBTY menghadirkan tausiah, berbagi takjil, dan kegiatan kebersamaan lainnya, yang menjadi penanda bahwa kebudayaan dan ketakwaan dapat berjalan beriringan.
“Pekan Budaya ini, juga menghadirkan wajah ekonomi kerakyatan. Di antara gemilang cahaya lampion dan pertunjukan seni, para pelaku UMKM, pedagang kuliner, perajin, dan seniman memperoleh ruang berkarya, dan menghidupi keluarganya. Pergerakan ekonomi tidak hanya terasa di Ketandan, tetapi menjalar ke Malioboro dan sekitarnya, menguatkan denyut kota, memperluas distribusi manfaat, dan mempererat kohesi sosial,” ucap Sri Sultan.
Dalam kesempatan ini, Sri Sultan juga menggarisbawahi, akulturasi budaya bukanlah cerita baru di Yogyakarta. Wayang Potehi yang tampil berdampingan dengan kesenian Jawa, hingga ragam kuliner dan seni yang saling mempengaruhi, semuanya menjadi bukti bahwa perjumpaan budaya bukan sekadar koeksistensi.
“Itulah linimasa proses kreatif, yang melahirkan kesejahteraan dan memperkaya peradaban. Dari jejak sejarah itu kita belajar, bahwa peradaban yang besar bukanlah yang seragam, melainkan yang mampu merawat perbedaan dalam keseimbangan,” sebut Sri Sultan.
Sementara itu, Ketua Umum Panitia PBTY XXI Tahun 2026, Jimmy Sutanto mengatakan, PBTY saat ini bukan sekadar sebuah perayaan budaya. Sebab, selama lebih dari dua dekade, PBTY telah menjadi simbol harmoni keberagaman serta semangat kebersamaan di Kota Yogyakarta sebagai City of Tolerance.
Event yang digelar selama tujuh hari ini kata Jimmy akan menghadirkan beragam pertunjukan budaya, salah satunya adalah Malioboro Imlek Carnival yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 Maret 2026. Pertunjukan yang menampilkan kolaborasi seni Tionghoa dan budaya lokal ini nantinya akan menempuh jarak kurang lebih sejauh 1,8 km dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer.
Selama carnival tersebut berlangsung, masyarakat bisa melihat pertunjukan Barongsai dan Liong yang ikonik. Selain itu ada pula pertunjukan parade yang menampilkan perpaduan seni wastra dan kriya.
Di samping pertunjukan seni, PBTY juga senantiasa menghadirkan bazar kuliner. Tahun ini, Jimmy melaporkan terdapat sebanyak 120 UMKM ikut dalam pagelaran PBTY selama 7 hari ini.
“Dengan mengusung tema Warisan Budaya Kekuatan Bangsa kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Semoga Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XXI dapat berjalan dengan lancar, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta semakin memperkuat semangat persatuan toleransi dan kebudayaan di Yogyakarta,” pungkas Jimmy.
Adapun, acara yang terselenggara berkat kolaborasi antara Jogja Chinese Art & Culture Center (JCACC) dengan Dinas Pariwisata DIY, Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta serta didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti dan Ketua DPRD DIY, Nuryadi. Hadir pula, jajaran Forkopimda DIY, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Gunungkidul Endang Subekti Kuntariningsih, dan jajaran kepala OPD di lingkungan Pemda DIY.
Humas Pemda DIY




