Home / Nasional / Selat Hormuz Memanas, Ratusan Kapal Tertahan Meski Iran Diklaim Belum Resmi Menutup

Selat Hormuz Memanas, Ratusan Kapal Tertahan Meski Iran Diklaim Belum Resmi Menutup

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat, kapal tanker tertahan dan aktivitas militer memicu kekhawatiran jalur energi dunia terganggu. Sabtu 01/03/2026 (Foto: Foto: lavizzara/Shutterstock)

JAKARTA,REDAKSI17.COM – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat menyusul laporan insiden maritim dan aktivitas militer signifikan di sekitar Selat Hormuz yang dikuasai Iran.

Di tengah beredarnya klaim bahwa Iran menutup jalur pelayaran vital tersebut, otoritas maritim Inggris menegaskan belum ada pengumuman resmi penutupan melalui saluran keselamatan pelayaran internasional.

Informasi ini merujuk pada laporan yang dihimpun Al Jazeera dari berbagai pernyataan resmi, termasuk dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO).

Kapal Terkena Proyektil Tak Dikenal

Kapal-di-Selat-Hormuz.jpg

UKMTO melaporkan sebuah kapal di perairan utara Oman, sebelah timur Selat Hormuz, terkena “proyektil tak dikenal” di atas garis air.

Awalnya ruang mesin dilaporkan terbakar, namun kemudian api berhasil dikendalikan. Otoritas terkait disebut tengah melakukan investigasi.

PBNU Instruksikan Qunut Nazilah di Seluruh Indonesia, Nahdliyin Diminta Baca Tiap Shalat Fardhu

Insiden ini menjadi laporan kedua dalam satu hari, setelah sebelumnya UKMTO menerima informasi kejadian dua mil laut di utara Kumzar, Oman—wilayah yang berada di jalur masuk Selat Hormuz.

Belum ada keterangan resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Ratusan Kapal Tertahan

Data pelacakan kapal yang dikutip Al Jazeera menunjukkan sedikitnya 150 kapal tanker—termasuk pengangkut minyak mentah dan LNG—menjatuhkan jangkar di perairan Teluk, di luar Selat Hormuz.

Puluhan kapal lain terpantau diam di sisi seberang jalur sempit tersebut.

Kapal-kapal itu tersebar di perairan dekat negara-negara produsen energi utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Qatar.

HNW Dorong Prabowo Mediasi Konflik Iran hingga Pakistan-Afghanistan Sesuai Amanat Konstitusi

Pergerakan ini terjadi setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meningkatkan eskalasi konflik kawasan.

Penahanan kapal dilakukan sebagai langkah kehati-hatian di tengah ketidakpastian keamanan dan meningkatnya risiko terhadap pelayaran komersial.

Aktivitas Militer ‘Signifikan’

Dalam peringatan terbarunya, UKMTO menyatakan adanya “aktivitas militer signifikan” di kawasan Teluk Arab, Teluk Oman, Laut Arab Utara, dan Selat Hormuz. Lingkungan keamanan maritim dinilai sangat volatil.

UKMTO mengingatkan pelaut akan risiko salah perhitungan atau salah identifikasi, terutama di dekat unit militer dan fasilitas maritim sensitif.

Meski demikian, UKMTO menegaskan bahwa:

Iran Tutup Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam

“No official closure of the Strait of Hormuz has been formally communicated to the maritime industry through recognised maritime safety channels.”

Lembaga itu juga menyatakan bahwa komunikasi radio VHF yang berisi pembatasan transit tidak dapat dianggap sebagai penangguhan hak lintas transit yang diakui secara hukum internasional.

Penutupan Resmi atau Gangguan De Facto?

Selat Hormuz merupakan jalur ekspor minyak paling vital di dunia, yang menghubungkan produsen utama Teluk dengan pasar global melalui Laut Arab. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat ini.

Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi yang menyatakan Selat Hormuz ditutup secara hukum.

Namun secara praktik, meningkatnya insiden keamanan dan kehadiran militer besar-besaran telah membuat banyak kapal memilih menunda atau membatalkan pelayaran. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *