Brussels,REDAKSI17.COM – Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa aliansi pertahanan tersebut tidak terlibat dalam eskalasi terbaru di Timur Tengah. Namun, ia memperingatkan bahwa kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran yang terus berkembang menimbulkan ancaman tidak hanya bagi kawasan tersebut, tetapi juga bagi Eropa.
Pernyataan itu disampaikan Rutte pada Selasa (3/3/2026) dalam konferensi pers bersama Presiden Makedonia Utara Gordana Siljanovska-Davkova di Skopje.
Menjawab pertanyaan mengenai perkembangan terbaru di Timur Tengah, Rutte seperti dikutip dari laporan TRT menegaskan, “NATO tidak terlibat secara langsung.”
Meski demikian, ia menyoroti meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut dan menyatakan bahwa aliansi tetap waspada terhadap situasi yang berkembang.
Rutte menuduh Iran sebagai “pengekspor kekacauan” dan menyebut negara itu bertanggung jawab atas berbagai serangan teroris dan upaya pembunuhan selama beberapa dekade terakhir.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu (28/2). Sejak hari itu, serangan terhadap Iran dilaporkan telah menewaskan hampir 800 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Dorong Peningkatan Belanja Pertahanan
Dalam kesempatan yang sama, Rutte menekankan pula pentingnya negara-negara anggota meningkatkan belanja pertahanan dan memperkuat kapasitas produksi guna memenuhi target kemampuan yang telah ditetapkan serta mendukung penuh rencana, kegiatan, dan misi NATO.
“Ini bukan waktunya untuk berpuas diri; semua sekutu harus berbuat lebih banyak,” ujar Rutte.
Ia menambahkan bahwa peningkatan investasi di sektor pertahanan akan berdampak pada meningkatnya keamanan, pertumbuhan ekonomi, serta penciptaan lapangan kerja.
Rutte turut menyampaikan bahwa pasukan Kosovo Force (KFOR)—misi penjaga perdamaian yang dipimpin NATO di Kosovo—masih memegang peranan penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas jangka panjang bagi seluruh komunitas di Kosovo. Ia menegaskan bahwa NATO akan memastikan misi tersebut tetap berjalan dengan kuat, efektif, dan sesuai dengan tujuannya.
Sementara itu, Presiden North Macedonia, Gordana Siljanovska-Davkova, menyatakan bahwa keanggotaan negara-negara Balkan Barat di Uni Eropa merupakan bentuk investasi paling besar bagi keamanan, baik untuk kawasan tersebut maupun untuk Eropa secara keseluruhan.





