JAKARTA,REDAKSI17.COM — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) M. Hidayat Nur Wahid mengecam keras kejahatan Israel yang berulang. Kali ini, bahkan sudah tiga hari berturut-turut Zionis Israel menutup Masjid Al Aqsha. Hal ini dinyatakan oleh Imam dan Khatib Masjid Al Aqsha, Syaikh Ikrimah Shabir, serta pernyataan terbuka Organisasi Persatuan Ulama Palestina yang disampaikan melalui platform X. Akibat penutupan Masjid Al Aqsha tersebut, umat Islam untuk kali pertama sepanjang sejarah tidak dapat melaksanakan salat wajib maupun salat tarawih di dalam Masjid Al Aqsha, kiblat pertama umat Islam itu.
Kejahatan tersebut dilakukan Israel ketika bersama Amerika Serikat mulai mengobarkan perang terhadap Iran, sehingga fokus perhatian umat teralihkan dari penutupan Masjid Al Aqsha oleh Israel. Akibatnya, Israel leluasa melakukan tindakannya terhadap Masjid Al Aqsha. Karena itu, HNW, sapaan akrabnya, mengingatkan umat Islam dan negara-negara Islam, khususnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), agar dalam kondisi apa pun tetap waspada, membela, dan tidak melupakan nasib Masjid Al Aqsha yang menjadi target Zionis Israel.
HNW mengatakan, khusus untuk OKI agar segera mengambil langkah konkret untuk lebih maksimal membela dan menyelamatkan Masjid Al Aqsha. Keselamatan Masjid Al Aqsha juga akan berdampak pada penyelamatan Palestina. Apabila Masjid Al Aqsha sampai jatuh dalam kekuasaan Israel, terlebih jika diubah menjadi Solomon Temple seperti yang diinginkan Zionis Israel, maka ide menghadirkan Palestina merdeka sekalipun dalam skema two state solution tidak akan dapat diwujudkan. Padahal, membela dan menyelamatkan Masjid Al Aqsha serta kemerdekaan Palestina merupakan tujuan utama didirikannya OKI.
“Penutupan Masjid Al Aqsha selama tiga hari berturut-turut di bulan Ramadan oleh Israel adalah tragedi dan merupakan kejadian pertama sepanjang sejarah. Hal ini seharusnya makin menjadi perhatian publik karena bersamaan dengan kembali dilanggarnya perjanjian damai ketika Israel menutup lagi perbatasan di Rafah sehingga bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang sebelumnya terlaksana tidak sampai sepertiga dari yang disepakati, kini bahkan tidak lagi dapat dimasukkan. Penutupan Masjid Al Aqsha juga beriringan dengan dilancarkannya serangan perang Israel dan AS ke Iran. Maka OKI seharusnya segera mengambil sikap konkret sesuai latar belakang pendiriannya, yaitu untuk menyelamatkan Masjid Al Aqsha dan memerdekakan Palestina agar penutupan Masjid Al Aqsha segera diakhiri, masjid dapat dibuka kembali, dan umat Islam dapat leluasa menjalankan salat wajib serta salat tarawih di dalamnya,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Senin (2/3).
HNW menyampaikan lebih lanjut bahwa OKI sebagai organisasi yang didirikan untuk membela Masjid Al Aqsha perlu fokus mengawal persoalan tersebut yang perkembangannya semakin mengkhawatirkan. Israel, selain menangkap Imam dan Khatib Masjid Al Aqsha, Parlemen Israel (Knesset) juga mulai menyetujui pemindahan hak administrasi pengelolaan Masjid Al Aqsha kepada lembaga keagamaan Yahudi, dan kini Israel menutup masjid tersebut secara total. “Padahal UNESCO, lembaga resmi PBB, telah menetapkan bahwa Masjid Al Aqsha merupakan warisan budaya umat Islam sejak 2016,” ujarnya.
Oleh karena itu, HNW menambahkan penting bagi Indonesia sebagai anggota OKI untuk mengusulkan agar Sekretaris Jenderal OKI segera mengundang penyelenggaraan KTT Luar Biasa tingkat kepala negara anggota OKI guna memutuskan langkah yang lebih tegas dan konkret untuk menyelamatkan Masjid Al Aqsha dan Palestina. “Sekalipun langkah Indonesia itu tidak lagi melalui Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), karena pelanggaran Israel terus berulang sehingga perdamaian tidak kunjung terwujud. Bahkan Israel dan AS semakin mengobarkan perang dengan menyerang Iran dengan berbagai eskalasinya, dan itu semua dibiarkan atau didukung oleh Trump. Fakta-fakta tersebut membuat BoP tidak lagi memiliki legitimasi moral maupun legal serta efektivitas sebagai lembaga yang menghadirkan perdamaian,” ujarnya.
“Semoga kejahatan Israel terhadap Masjid Al Aqsha, masjid suci dan kiblat pertama umat Islam, dapat menyadarkan umat untuk bersatu dan bekerja sama menyelamatkan Masjid Al Aqsha serta menghentikan penjajahan. Kesadaran untuk bersatu dan bekerja sama semakin penting karena upaya Zionis Israel untuk menghancurkan Masjid Al Aqsha semakin menggunakan cara machiavellian, yaitu menghalalkan segala cara, sebagaimana dinyatakan Rabbi Yahudi Yousef Mizrahi melalui platform X agar Israel menjatuhkan bom atas Masjid Al Aqsha dengan menuduh Iran sebagai pelakunya,” pungkasnya.


