K.H. Achmad Chalwani merupakan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo dan Rais ‘Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN). Spirit perjuangannya dalam lingkungan pesantren dan berbagai organisasi NU dengan berpedoman pada kaidah “berpijak pada kebaikan lama dan bijak dalam merespon kekinian” berhasil mengantarkannya pada masa kemajuan Pondok Pesantren An-Nawawi yang kini telah mencapai 2779 santri dengan 11 cabang yang tersebar di Indonesia.
Masa Kecil dan Pendidikan
K.H. Achmad Chalwani lahir di Purworejo pada hari Ahad Pahing tanggal 23 Rabi’ul Akhir 1374 H. bertepatan dengan 19 Desember 1954 M. Beliau adalah putra ke tiga pasangan K.H. Muhammad Nawawi dan Nyai Saodah dari lima bersaudara, secara berurutan yaitu Chafidhoh, Muhammad Chazim, Achmad Chalwani, Chaizah, dan Chabibah.1
Pernikahannya dengan Nyai Siti Sa’adah binti K.H Achmad Abdul Haq Dalhar Watucongol dikaruniai tiga orang anak; Hj. Ashfa Khoirunnisa’, H. Muhammad Khoirul Fata dan Salik Iqtafa.2
Riwayat pendidikan formalnya bermula dari SDN Gintungan (1968), PGMA Ma’arif Berjan (1971), MTs Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri (1973), MA Hidayatul Mubtadi’in (1976), dan Strata Satu Pendidikan Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta (2001).3
Sebagaimana ayahandanya, laki-laki dengan motto ‘Hidup untuk Ibadah’ ini tumbuh dalam lingkungan pesantren dan mendapatkan pendidikan langsung dari ayahandanya sendiri. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikanya di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Lirboyo dan Pondok Pesantren Olak Alung Ngunut Tulungagung dalam asuhan K.H. Ali Shodiq.4
Peran dan Kiprah
K.H. Achmad Chalwani merupakan pribadi yang berani mengambil peran serta keputusan dalam berbagai organisasi sejak usia mudanya, di antaranya; Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ranting PGA Ma’arif Berjan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Syariah Komisariat Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri, Ketua Himpunan Santri Magelang di Pondok Pesantren Lirboyo, Pengurus Anshor Kotamadya Kediri, Rois Syuriah MWC NU Gebang, Penasehat PC IPNU Purworejo, Bagian Da’wah NU Cabang Purworejo, Rois Syuriah PC NU Purworejo (dua periode), Anggota Pengurus Pusat (PP) Rabithah Ma’ahidil Islam (RMI), Ketua Himpunan Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Kab. Purworejo, dan Ketua Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) DIY, Kedu dan Banyumas. Ketekunan dan keuletannya dalam berorganisasi ini berhasil mengantarkannya duduk sebagai anggota DPD RI periode 2005-2010 dengan nomor B. 52.5
K.H. Achmad Chalwani menjadi Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi generasi ke empat menggantikan ayahandanya sejak tahun 1981 hingga sekarang, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Purworejo (sekarang Ketua Dewan Senat IAIAN Purworejo), Penasehat GNOTA Kab. Purworejo, Rais Idarah Syu’biyyah Thariqah an-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Kab. Purworejo, Penasehat IPNU Pusat, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pengembangan Pondok Pesantren Roudlotut Thullab Berjan, Mudir Tsani Idarah Wustha Thariqah al-Mu;tabarah an-Nahdliyyah Jawa Tengah, Ketua II Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren), Penasehat Pagar Nusa Pusat, Penasehat Pakuwo se-Jabodetabek, Penasehat Paguyuban Warga Jawa Tengah di Jakarta, Ketua Dewan Syariah BMT An-Nawawi, Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Purworejo, Wakil Ketua Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PMII Jawa Tengah, dan Rais ‘Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Pusat.6
Adapun yang terakhir ini sempat ditolaknya dan bahkan beliau meminta agar di masukkan di posisi wakil saja, asal masih dapat berperan.7 Namun, karena telah menjadi amanah sekaligus hasil kesepakatan ulama dan para mursyid dalam Kongres Ke-13 JATMAN yang diselenggarakan pada Ahad 22 Desember 2024 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, beliau pun memilih untuk menerima amanah tersebut sebagai wujud ta’dzim kepada para pendiri NU yang notabene berlatarbelakang thariqah, khususnya para pendiri JATMAN.8
Pesan Untuk Umat Islam Indonesia
Harapan pria yang memiliki filosofi ‘menjadi hamba Allah yang diridloi di dunia dan di akhirat dan bermanfaat bagi sesama umat’ ini ialah agar semua komponen bangsa bersatu, bahu-membahu mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera dan diperhitungkan dalam percaturan internasional. Oleh karena itu, dibutuhkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (clean government dan good governance).9
Sementara kepada generasi muda, beliau berpesan untuk mempersiapkan dan membekali dirinya dengan ilmu dan taqwa kepada Allah SWT., sehingga siap menerima estafet dan meneruskan kepemimpinan di masa depan.10
Kesimpulan
K.H. Achmad Chalwani adalah sosok ulama yang komplit. Dengan kecintaannya terhadap ilmu, kepiawaiannya dalam berorganisasi, tutur kata yang menyejukkan dan rendah hati, beliau mampu memadukan kedalaman ilmu syariah dan thariqah hingga dipercaya untuk menahkodai Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) se-Indonesia. Hingga sekarang beliau aktif mendidik santrinya di pondok pesantren, berdakwah di tengah masyarakat dan menjadi lentera bagi umat Islam di Indonesia.





