Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Wali Kota Hasto Wardoyo mengukuhkan 41 pengurus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) Kota Yogyakarta periode 2025–2029 di Ruang Bima Balai Kota Yogyakarta, Kamis (5/3). Pengukuhan ini dilaksanakan untuk memperkuat pembinaan kegiatan seni dan iman umat Katolik melalui Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani).
Dalam kesempatan tersebut, Susanto Dwi Antoro dinobatkan sebagai Ketua LP3KD Kota Yogyakarta periode 2025–2029. Ia menyampaikan terima kasih atas pengukuhan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kepengurusan LP3KD sebenarnya telah berjalan sekitar satu tahun sebelum resmi dikukuhkan.
“Kami menyampaikan matur nuwun atas pengukuhannya, karena kurang lebih kami sudah satu tahun berjalan. Hari ini berkesempatan untuk dikukuhkan sehingga kerja-kerja kami ke depan akan semakin tertata dan terkomunikasi dengan baik,” ujarnya.
Ia melaporkan bahwa jumlah pengurus LP3KD mencapai 41 orang yang terdiri dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, DPRD, pegawai Pemkot Yogyakarta, Kementerian Agama, hingga perwakilan umat dari tujuh paroki di Kota Yogyakarta. Menurutnya, komposisi tersebut menjadi bentuk sinergi lintas unsur dalam upaya meningkatkan kehidupan beriman umat Katolik di Kota Yogyakarta.
Ke depan, Antoro mengungkapkan LP3KD berencana memperluas pembinaan tidak hanya di tujuh paroki, tetapi juga menjangkau dunia pendidikan dengan melibatkan guru agama Katolik di tingkat SD hingga SMP. Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi anak-anak dalam seni paduan suara, mazmur, serta bertutur Kitab Suci.
“Guru juga ikut bersama-sama mengembangkan bagaimana potensi paduan suara, mazmur, maupun tutur Kitab Suci. Kami juga nyengkuyung bersama guru-guru agama Katolik agar bisa berkoordinasi dalam pengembangan kegiatan Pesparani di Kota Yogyakarta,” jelasnya.

Ketua LP3KD Kota Yogya 2025-2029
Antoro menambahkan, kegiatan Pesparani telah menggerakkan partisipasi umat yang cukup besar. Setiap penyelenggaraan Pesparani setidaknya melibatkan sekitar 600 orang yang terdiri dari peserta, ofisial, dan suporter dari berbagai paroki.
Menurutnya, Pesparani tidak hanya meningkatkan kualitas liturgi gereja melalui seni, tetapi juga menjadi sarana ekspresi iman dan memberikan nilai tambah bagi peserta, khususnya dalam proses pendidikan di sekolah.
Selain kegiatan keagamaan, LP3KD juga mulai terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti pengelolaan sampah di lingkungan paroki hingga rencana dukungan terhadap program bedah rumah di Kota Yogyakarta.

Wali Kota Yogya memberikan selamat kepada seluruh pengurus LP3KD Kota Yogya 2029-2029
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus LP3KD yang baru dikukuhkan dan berharap organisasi tersebut mampu menjadi penggerak pembinaan paduan suara gerejani di Kota Yogyakarta.
“Saya mengucapkan selamat dan selamat bekerja. Menjadi penggerak dan juga mengkoordinir pembinaan kelompok-kelompok paduan suara gerejani, baik di paroki-paroki, sekolah-sekolah, maupun lembaga-lembaga di mana Bapak Ibu berkarya,” kata Hasto.
Ia menilai LP3KD merupakan organisasi yang bekerja secara tulus dan tanpa pamrih dalam melayani umat dan masyarakat.
“Saya percaya LP3KD ini organisasi yang tulus, ikhlas, betul-betul rela hati untuk mengabdi kepada umat dan masyarakat tanpa pamrih. Oleh karena itu saya yakin organisasi ini akan sukses,” ujarnya.
Hasto juga berharap LP3KD fokus pada substansi kegiatan, khususnya dalam pembinaan seni liturgi seperti mazmur, paduan suara, dan kegiatan bertutur Kitab Suci yang dapat memperkuat iman sekaligus membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, kegiatan Pesparani memiliki peran penting sebagai sarana pembinaan karakter anak muda melalui pendekatan seni yang menyenangkan.
“Pesparani ini saya kira bisa menjadi bagian pencelup yang mewarnai anak-anak muda generasi kita. Mereka bisa mendalami Kitab Suci dengan rasa senang dan gembira,” katanya.
Selain itu, Hasto menilai kegiatan sosial yang digagas LP3KD, seperti gotong royong dan kegiatan kemasyarakatan lintas agama, turut memperkuat toleransi di Kota Yogyakarta.
Ia mencontohkan pengalaman kegiatan bedah rumah di mana warga dari berbagai latar belakang agama terlibat bersama. “Rumah yang dibedah milik warga Katolik, tetapi ketua panitianya takmir masjid. Ini luar biasa dan menunjukkan bahwa toleransi dan gotong royong di Kota Yogyakarta berjalan dengan sangat baik,” ungkapnya.
Hasto berharap Pesparani Kota Yogyakarta mampu meraih prestasi hingga tingkat nasional sekaligus terus menjadi wadah pembinaan iman dan karakter bagi generasi muda di Kota Yogyakarta.
“kudah-mudahan nanti Pesparaninya bisa juara di Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian nanti juga juara di tingkat nasional. kalau sudah punya keinginan, wah pasti usahanya habis-habisan. Artinya ya segala cara itu bisa dilakukan bersama-sama,” pungkasnya.


