Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga minyak dunia mendidih di tengah perang antara Amerika Serikat & Israel lawan Iran. Perang tersebut telah membuat harga minyak meroket melewati level US$ 100 per barel.
Pemerintah pun diminta segera mencari langkah konkret untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia. Sebab, kenaikan harga minyak membuat APBN berisiko untuk menahan subsidi energi, khususnya harga BBM bagi masyarakat.
Bila harga BBM akhirnya dinaikkan pemerintah karena APBN tak lagi mampu menahan gejolaknya, dampak ngeri bagi ekonomi Indonesia bisa terjadi.
Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan kenaikan harga BBM di tengah masyarakat berpotensi menaikkan inflasi harga-harga kebutuhan pokok yang pada ujungnya akan mengurangi daya beli masyarakat.
“Kalau (harga energi subsidi) dinaikkan ini juga akan bawa dampak inflasi yang mungkin cukup tinggi, kemudian juga daya beli menurun, beban ratusan rakyat kecil semakin berat,” terang Fahmy kepada detikcom, Senin (9/3/2026).
Menurutnya kenaikan harga BBM juga sangat berisiko dilakukan menjelang mudik Lebaran. Inflasi secara ganda bisa terjadi bila hal itu dilakukan.
“Cukup riskan juga kalau itu dinaikkan sekarang. Apalagi kenaikannya nanti bersama dengan hari raya. Nah hari raya ini kan mesti terjadi inflasi, maka terjadi double counting inflation,” kata Fahmy.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai kenaikan BBM dapat menjerumuskan ekonomi Indonesia perlahan-lahan ke jurang resesi.
Bhima memprediksi saat harga BBM naik karena tak mampu ditopang APBN, inflasi bisa tembus 6-8% secara tahunan. Masyarakat menahan daya beli dan industri mengalami kelesuan permintaan. Hal ini membuat badai PHK terjadi.
“Ujungnya PHK naik tajam di semua sektor termasuk industri manufaktur, dan perdagangan,” ujar Bhima kepada detikcom.
Selanjutnya hal itu membuat jumlah kelas menengah turun dari awalnya rentan miskin menjadi berada di garis kemiskinan. Pada ujungnya, resesi ekonomi pun terjadi karena pelemahan daya beli.
“Jumlah kelas menengah yang turun jadi rentan dan miskin naik signifikan, Indonesia bisa masuk resesi ekonomi,” sebut Bhima.
Pangkas Anggaran MBG-Kopdes Merah Putih
Untuk menahan gejolak harga minyak dunia ke ekonomi Indonesia, pemerintah diminta untuk segera mengantisipasi, salah satunya mengalihkan anggaran pada program besar untuk menahan kenaikan harga BBM seperti anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Bhima menilai menahan laju inflasi lebih tinggi urgensinya daripada memberikan makanan gratis.
“Pergeseran anggaran MBG, Kopdes, dan IKN mendesak untuk dilakukan untuk buffer ruang fiskal. Opsi kenaikan harga BBM baik nonsubsidi dan subsidi harus dihindari karena anggaran masih bisa digeser dulu,” sebut Bhima.
“Menjaga inflasi lebih utama dibanding MBG untuk saat ini karena force majeure,” ujar Bhima.
Pihaknya sudah bikin hitung-hitungan, diprediksi ada sekitar Rp 340 triliun anggaran yang bisa direalokasi dari proyek-proyek besar yang menyedot anggaran jumbo serta belanja tidak produktif yang dilakukan pemerintah.
“Hitungan Celios ada 340 triliun dari hasil realokasi MBG, Kopdes dan belanja lain yang tidak produktif,” beber Bhima.
Kembali ke Fahmy, dia bilang pemerintah memang memiliki pilihan dilematis, antara menjaga daya beli masyarakat atau menahan anggaran untuk program prioritas. Namun, Fahmy menilai dengan kondisi seperti ini pilihan merelokasi anggaran untuk menahan harga BBM lebih baik diambil pemerintah.
“Disarankan agar refocusing ya, anggaran yang besar, jadi tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi,” pungkas Fahmy.
Fahmy memperkirakan saat ini harga minyak belum ada tanda-tanda turun. Ada dua hal yang membuat harga minyak terus mendidih, pertama perang yang terjadi di Timur Tengah dan kedua langkah Iran menutup Selat Hormuz yang jadi jalur logistik energi dunia.
Bila sekarang sudah mencapai US$ 110 per barel, harga minyak masih bisa merangkak terus naik ke level US$ 150 per barel. Artinya, pemerintah sudah saatnya mencari cara menahan dampak kenaikan harga tersebut bagi APBN.
Dia juga mengutip pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan bila harga minyak dunia naik sampai US$ 90 per barel, APBN mampu meredakan gejolaknya. Di APBN, asumsi harga minyak ditetapkan di level US$ 70 per barel. Namun, saat ini harga BBM sudah jauh sekali dari asumsi tersebut, maka dari dia kembali menekankan antisipasi memang perlu dilakukan pemerintah dengan segera.
“Nah, karena hal ini fiskal kita itu sekarang bebannya amat berat gitu ya. Terutama untuk subsidi tadi gitu ya,” kata Fahmy.





