Dalam pernyataan ke-40 yang dirilis Humas IRGC menyusul gelombang serangan ke-53 dan 54, disebutkan bahwa pasukan angkatan laut Iran melancarkan serangan serentak pada dini hari tadi. Empat pangkalan yang menjadi sasaran utama adalah pangkalan udara Al-Dhafra, Ali Al-Salem, Sheikh Isa, dan Al-Udeid.
Rudal dan drone lumpuhkan iInfrastruktur Vital
Laporan tersebut merinci bahwa serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah yang dilengkapi hulu ledak model baru, serta pesawat tak berawak (drone) bunuh diri.
Sasaran serangan mencakup infrastruktur militer kunci, termasuk pusat komando dan kendali, menara pengawas lalu lintas udara, hanggar pertahanan udara, serta gudang logistik. Pihak militer Iran menekankan bahwa serangan ini merupakan bagian dari operasi pembalasan yang lebih luas terhadap aset-aset militer AS di kawasan tersebut.
Sementara itu, RGC mengeklaim bahwa berdasarkan analisis citra satelit, lebih dari 80 persen sistem radar strategis dan instalasi vital lainnya di pangkalan-pangkalan tersebut berhasil dihancurkan.
Laporan lapangan yang dikutip IRGC juga menyebutkan adanya kebingungan dalam struktur komando pasukan AS di fasilitas tersebut, serta penurunan moral personel di lapangan akibat hantaman yang bertubi-tubi.
Pesan Tegas untuk Negara Teluk
Sesaat sebelum operasi diumumkan, Panglima Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, memberikan peringatan keras kepada negara-negara di Teluk. Ia menegaskan bahwa kehadiran AS dan Barat tidak akan pernah membawa keamanan sejati bagi kawasan.
“Di saat mereka butuh, mereka akan mengorbankan kalian demi kepentingan mereka sendiri,” ujar Tangsiri. Ia menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan adalah melalui persatuan di antara negara-negara Islam dan mengusir kekuatan Amerika dari kawasan.
Di sisi lain, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan pada Ahad (15/3/2026) bahwa keberadaan kapal induk AS, USS Gerald R. Ford, di Laut Merah merupakan ancaman langsung bagi Teheran.
Oleh karena itu, pusat-pusat logistik dan layanan yang mendukung kapal induk tersebut di seluruh kawasan kini dianggap sebagai target sah bagi militer Iran. “Setiap dukungan untuk kekuatan agresor akan kami tindak secara tegas,” pungkasnya.





