
GONDOMANAN,REDAKSI17.COM – Musik keroncong kini kembali menemukan ruang di hati generasi muda. Minat anak-anak muda terhadap genre musik tradisional ini dinilai menjadi peluang besar dalam upaya pelestarian sekaligus pengembangan keroncong agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, Wakil Wali Kota Yogyakarta memberikan dukungan penuh terhadap terbentuknya Asosiasi Keroncong Djokjakarta (AKDjok) yang resmi dikukuhkan pada Kamis (15/1) di Mili Shaggydog Cafe, Yogyakarta. Acara ini turut dihadiri para seniman keroncong, pegiat seni, budayawan, serta komunitas musik lintas generasi.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengapresiasi tingginya antusiasme generasi muda terhadap musik keroncong. Ia menilai komunitas keroncong yang tumbuh saat ini sangat luar biasa dan patut mendapat perhatian serius.
“Kelompok-kelompok keroncong ini sangat luar biasa. Apalagi untuk anak-anak muda kita. Bahkan ada yang berkeliling ke berbagai tempat untuk sosialisasi musik keroncong. Ini patut kita apresiasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan keroncong di Kota Yogyakarta yang cukup pesat, baik keroncong klasik maupun alternatif.
Menurutnya, hampir di setiap kampung terdapat aktivitas latihan keroncong, namun masih membutuhkan ruang interaksi dan wadah yang terorganisasi.
Pemerintah Kota Yogyakarta terus berkomitmen untuk mendukung pengembangan musik keroncong melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata. Bahkan, ia membuka peluang kolaborasi keroncong dengan genre musik lain, termasuk rock, agar semakin diminati generasi muda.
“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya terbentuknya Asosiasi Keroncong Yogyakarta. Ini adalah awal yang baik dan harapan kami bisa langgeng. Secara pribadi saya siap menjadi pembina dan mendukung penuh. Dengan musik, kita bisa berdiplomasi budaya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua AKDjok, Suroso Khocil Birawa menjelaskan, pengukuhan asosiasi ini melibatkan sekitar 40 undangan dari kalangan seniman keroncong dan pegiat seni, serta terbuka untuk masyarakat umum.
Bahkan, dukungan terhadap keroncong sebagai identitas musik di Kota Yogyakarta juga didukung langsung oleh band asal jogja yakni Shaggydog.
Ia menyebutkan, AKDjok hadir sebagai ruang interaksi, berbagi pengalaman, dan berkarya bersama. “Kami punya program rutin sebulan sekali sebagai ruang edukasi dan ekspresi keroncong setiap tanggal 15. Tagline kami adalah edukasi dan kreasi keroncong. Kami juga mendapat dukungan ruang dari Bentara Budaya,” jelasnya.
Suroso menambahkan, AKDjok terinspirasi dari konsistensi komunitas jazz yang mampu menggelar pertunjukan rutin selama puluhan tahun. Ia berharap keroncong di Kota Yogyakarta bisa berkembang dan berkelanjutan dengan dukungan semua pihak.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Prinsip kami mari bareng-bareng membangun keroncong agar terus berkembang di Yogyakarta,” katanya.
Selanjutnya, salah satu peserta yang merupakan budayawan, Dr. Sindhunata menilai, keroncong sebagai sebuah pencapaian budaya yang luar biasa. “Ini penemuan yang luar biasa. Kita mampu memainkan gitar, cello, ukulele, dan lainnya dalam spirit kebudayaan kita sendiri,” ungkapnya.
Ia juga menyebut pengukuhan AKDjok sebagai peristiwa penting yang patut disyukuri, mengingat Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota seniman. “Komunitas keroncong sangat besar. Jika dikelola dengan kompak dan konsisten, saya yakin keroncong akan terus hidup dan berkembang,” imbuhnya.


