Jambi,REDAKSI17.COM – Provinsi Jambi menunjukkan tren politik yang menarik perhatian, di mana Partai Persatuan Pembangunan (PPP) justru mengalami peningkatan perolehan suara. Fenomena ini menjadi anomali di tengah kondisi banyak daerah lain di Indonesia yang tidak menunjukkan grafik serupa. Fenomena ini telah dianalisis oleh tiga dosen ilmu politik dari Universitas Jambi (Unja), yang memberikan pandangan mendalam mengenai penguatan posisi PPP di Jambi.
Pengaruh Figur Ketua DPW: Kunci Utama Perolehan Suara
Menurut Dori Effendi, seorang dosen Ilmu Politik Universitas Jambi, lonjakan suara PPP di Jambi tidak terlepas dari beberapa faktor krusial. Salah satu faktor utama adalah pengaruh kuat dari figur ketua DPW PPP Provinsi Jambi, Fadhil Arief. Keberhasilan Fadhil Arief sebagai Bupati Batang Hari dinilai berhasil menjadikan daerah tersebut sebagai basis utama pergerakan PPP.
Bukti nyata dari pengaruh ini terlihat dari perolehan sembilan kursi dewan di Batang Hari, yang bahkan menempatkan PPP pada posisi ketua DPRD di kabupaten tersebut. Selain itu, PPP juga diperkuat dengan adanya dua kepala daerah di wilayah Batang Hari dan Sarolangun.
Faktor penting lainnya yang diungkapkan Dori adalah kualitas calon legislatif (caleg) yang diajukan oleh PPP. Dikatakan bahwa PPP berhasil memajukan kandidat-kandidat yang kompeten, yang tentunya turut berkontribusi pada peningkatan elektabilitas partai. “PPP akan memiliki pengaruh kuat di Jambi. Itu karena PPP memiliki 5 kursi di dewan provinsi dan memiliki 2 kepala daerah di Batang hari dan Sarolangun,” ujar Dori Effendi. Kedua daerah ini, Batang Hari dan Sarolangun, kini dianggap sebagai basis utama dan basis baru bagi PPP di Provinsi Jambi.
Transformasi “Partai Tua” Menuju Generasi Muda
Ian Pasaribu, dosen Ilmu Politik Unja lainnya, memberikan perspektif yang sedikit berbeda. Ia menilai bahwa kenaikan dan stabilitas suara PPP di Jambi lebih disebabkan oleh kehadiran figur atau aktor politik lokal yang kuat. Secara kelembagaan, Ian melihat PPP secara umum telah mengalami penurunan, terutama karena dianggap sebagai “partai tua” yang identik dengan generasi senior.
“Partai tua, dalam tanda kutip, partai yang diisi oleh orang-orang tua. Sementara tren partai politik di Indonesia sudah mengarah ke anak muda. Karena marketnya ada anak milenial dan gen Z,” jelas Ian. Ia menambahkan bahwa di Jambi, PPP relatif stabil karena adanya beberapa figur politik yang cukup kuat dan dikenal oleh kalangan milenial dan Gen Z.
Namun, Ian memperingatkan bahwa PPP akan mengalami nasib serupa dengan partai lain di tingkat nasional jika tidak melakukan transformasi. Partai ini perlu bertransformasi menjadi partai yang lebih akrab dengan generasi muda dan menarik bagi telinga Gen Z. “Karena pemilih di Pemilu dan Pilkada mendatang semua partai harus berebut suara anak muda,” tegasnya.
Peran Ketokohan dan Sikap Partai dalam Membangun Citra
Nasuhaidi, dosen Ilmu Politik Unja, menekankan bahwa ketokohan figur menjadi elemen kunci dalam lonjakan suara PPP di Jambi. Ia berpendapat bahwa pembangunan citra partai yang dilakukan oleh figur terkait akan sangat memengaruhi perolehan suara. “Untuk sejauh ini, ketuanya sudah bisa membangun citra. Sangat tergantung dengan figur, bagaimana kinerjanya sebagai Bupati di Batanghari pasti jadi barometer itu,” ungkap Nasuhaidi.
Selain figur, sikap partai terhadap berbagai kebijakan, khususnya kebijakan politik lokal di Provinsi Jambi, juga memiliki peran signifikan. Nasuhaidi mencontohkan pengaruh positif di Batanghari, di mana anggota dewan dari PPP yang menduduki jabatan dianggap mampu mewarnai kebijakan pemerintah yang pro-masyarakat. “Nah, itu pasti ke depan mempengaruhi,” jelasnya.
Oleh karena itu, Nasuhaidi mengingatkan agar program-program partai ke depan harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia menekankan pentingnya menghilangkan kesan bahwa PPP hanya partai untuk “orang tua-tua saja”. “Paling tidak kan menghilangkan kesan bahwa PPP itu bukan partai orang tua-tua saja. karena orang-orang yang punya kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi pengurus partai, dari orang tua sampai orang muda ya semuanya sama peluangnya,” imbuhnya. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Fadhil Arief sebagai ketua membawa nuansa kebaruan dan nuansa generasi muda ke dalam partai.
Fadhil Arief: Fokus pada Penguatan Internal Menjelang 2029
Menanggapi pertanyaan mengenai peluangnya maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi 2029, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Provinsi Jambi, Fadhil Arief, memilih untuk tidak memberikan jawaban pasti. Saat dimintai keterangan oleh awak media seusai pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) serentak PPP Jambi, Fadhil hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. “Ayo, makanlah dulu,” ujarnya singkat.
Saat ini, dinamika politik menuju 2029 mulai memanas, namun PPP Jambi memilih untuk fokus pada penguatan barisan internal. Hal ini terlihat dari pelaksanaan musyawarah cabang (muscab) serentak yang melibatkan 11 kabupaten/kota di Jambi. Fadhil menegaskan bahwa muscab bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah strategis untuk merapikan kekuatan partai hingga ke akar rumput.
“Malam ini kita mulai muscab serentak. InsyaAllah selesai besok (Minggu). Ini momentum regenerasi pengurus di 11 kabupaten/kota,” tegas Fadhil. Ia menjelaskan bahwa hasil muscab akan segera ditindaklanjuti dengan pembenahan struktur hingga ke tingkat bawah, termasuk penyusunan formasi pengurus PAC hingga ranting. “Semua harus jelas, identitas, struktur, dan arah geraknya,” ujarnya.
Langkah konsolidasi internal ini merupakan bagian dari strategi besar PPP untuk mendongkrak efek elektoral di Provinsi Jambi. Fadhil Arief juga memastikan bahwa kader PPP di Jambi tetap solid dan tidak terpengaruh oleh berbagai isu yang beredar. “Kita tetap di trek. Mau ada isu, mau ada fitnah, kader PPP Jambi tetap semangat dan optimis,” katanya dengan tegas.
Kesiapan Verifikasi dan Kedewasaan Berpolitik
Fadhil Arief juga menyinggung kesiapan partai menghadapi proses verifikasi, yang saat ini sedang berjalan dan ditargetkan selesai hingga tingkat ranting. “Kita sudah setengah siap. InsyaAllah sampai ranting selesai. Nantinya akan ada ribuan kader yang menggerakkan kekuatan partai dari bawah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fadhil menekankan pentingnya kedewasaan dalam berpolitik. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat dalam musyawarah seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. “Dalam musyawarah itu mufakat. Kalau ada perbedaan, itu untuk saling menguatkan, bukan memecah,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan utama berpolitik bukanlah semata-mata meraih jabatan, melainkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Jabatan besar tidak ada artinya kalau tidak memberi manfaat. Kepuasan itu saat kita bisa jadi solusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Redaktur : Erwin sharil
Editor : Iwan Fajar




