Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Upaya penanganan stunting di Kota Yogyakarta kembali menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan hasil pemantauan status gizi (PSG) bulan Oktober angka prevalensi stunting berada pada angka 9,13 persen atau sebanyak 873 balita pendek dan sangat pendek dari total 9.928 balita di Kota Yogyakarta. Data tersebut diperoleh dari penimbangan dan pengukuran balita di Posyandu yang diverifikasi berjenjang mulai dari Puskesmas hingga Dinas Kesehatan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti menyampaikan bahwa pencapaian ini tetap harus disertai kewaspadaan dan kerja berkelanjutan.
“Pak Wali menargetkan satu digit, dan alhamdulillah sudah tercapai. Tapi tidak boleh ayem. Upaya harus terus dilakukan supaya angkanya tidak naik,” ujarnya saat ditemui di Kantornya, Senin (8/12).
Aan menjelaskan bahwa penanganan stunting di Kota Yogyakarta dilakukan melalui intervensi sensitif dan intervensi spesifik. Pihaknya menyebutkan bahwa intervensi spesifik dilaksanakan Dinas Kesehatan. Intervensi tersebut mencakup pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri untuk mencegah anemia, pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi calon pengantin, hingga layanan antenatal care (ANC) bagi ibu hamil.
Pemeriksaan kehamilan atau ANC, berupa pemeriksaan fisik menyeluruh dan penunjang yakni cek darah dan urin, termasuk USG dua kali serta pelayanan terintegrasi seperti konseling gizi, psikologi, imunisasi TT, tablet zat besi, dan skrining triple eliminasi (HIV, Sifilis, Hepatitis B) dengan minimal 6 kali kunjungan selama masa kehamilan.
“Remaja putri kami berikan tablet tambah darah supaya tidak anemia, sehingga nanti ketika menikah dan hamil sudah dalam kondisi yang betul-betul siap. Kemudian Ibu hamil minimal harus enam kali ANC di Puskesmas. Semua diperiksa, mulai dari kondisi gigi, psikologis, hingga hemoglobin,” jelasnya.
Jika ditemukan ibu hamil atau balita dengan indikasi kurang gizi, pemerintah memberikan dukungan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) melalui dana BOK Kemenkes maupun Dana Keistimewaan. Aan menegaskan bahwa dukungan tersebut diberikan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Upaya yang kita lakukan itu harus terus menerus. Jangan sampai lengah, karena kalau lengah sedikit saja angkanya bisa naik lagi,” tegasnya.
Selain itu, edukasi mengenai pentingnya ASI eksklusif terus digencarkan. Aan menyebut bahwa pemberian ASI eksklusif masih menjadi salah satu kunci utama pencegahan stunting. Ia juga menegaskan bahwa meski angka stunting sudah satu digit, pengawasan tetap harus dilakukan sepanjang tahun.
Lebih lanjut, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Iswari Paramita, menambahkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penimbangan yang sempat mencapai 100 persen pada Agustus–September, kini turun menjadi 96,35 persen atau 9.566 balita hadir dari 9.928 sasaran pada bulan Oktober 2025. Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan balita tidak hadir.
“Beberapa kemungkinan itu misalnya karena saat jadwal buka Posyandu anak dan orang tuanya tidak berada di tempat. Ada juga yang ketiduran dan tidak dibangunkan. Jumlah yang tidak hadir itu sebenarnya sedikit jika dibagi dengan 622 Posyandu, rata-rata hanya lima anak,” jelas Paramita.
Ia menambahkan bahwa faktor lingkungan bisa menjadi penyebab terbesar yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
“Lingkungan itu 70 persen. Misalnya minum air yang mengandung bakteri E. coli sehingga sering diare. Kalau diare, makan sebanyak apa pun tidak naik berat badannya. Kalau berat badan tidak naik, tinggi badannya juga tidak naik. Ini seperti efek domino,” terangnya.
Paramita juga menjelaskan bahwa anemia pada remaja putri juga menjadi perhatian karena berhubungan langsung dengan risiko stunting. Saat ini Kota Yogyakarta masih mengacu pada angka anemia 25,6 persen berdasarkan pengukuran Juli 2024–Juni 2025.
Ia juga mengingatkan agar remaja tidak mengkonsumsi kopi, teh, atau minuman berkarbonasi karena dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.
“Anemia itu bukan keturunan, tapi soal cadangan zat besi. Kalau minum tablet tambah darah tapi pola makannya tidak bagus, ya sama saja. Protein hewani minimal dua kali sehari, nabati tiga kali sehari. Kalau makan tempe, ukuran potongan tipis dua potong sekali makan,” jelas Iswari.
Paramita memastikan bahwa seluruh upaya pencegahan dan penanganan stunting akan terus diperkuat pada tahun 2026 mendatang melalui pendekatan promotif dan preventif. “Kita lakukan terpadu dari remaja, ibu hamil, sampai balita. Semua harus berjalan bersamaan,” tegasnya.




