UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat sekaligus meningkatkan langkah antisipasi menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang belakangan ini tidak menentu.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK & DIKK) BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto mengungkapkan, dalam beberapa minggu terakhir, cuaca di Kota Yogyakarta mengalami perubahan yang cukup signifikan, mulai dari panas terik hingga hujan deras disertai angin kencang. Kondisi ini menimbulkan sejumlah dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Meski demikian, pihaknya mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko akibat cuaca yang tidak menentu.
“Beberapa di antaranya adalah angin kencang yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan atap rumah, terutama saat hujan deras datang secara tiba-tiba setelah cuaca panas,” jelas Darmanto, saat diwawancarai pada Senin (6/4).

Selain itu, hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat juga berpotensi menimbulkan genangan air hingga banjir lokal, khususnya di wilayah dengan sistem drainase terbatas. Warga yang tinggal di bantaran sungai juga diminta lebih waspada terhadap kemungkinan kenaikan debit air secara mendadak.
Ia juga mengingatkan adanya potensi longsor skala kecil, seperti talud ambrol atau tebing sungai yang labil akibat kondisi tanah jenuh air setelah hujan berulang. “Tidak kalah penting, risiko petir dan cuaca ekstrem lainnya juga dapat membahayakan aktivitas masyarakat di luar ruangan,” ungkapnya.
Selain itu, BPBD Kota Yogyakarta juga melakukan pemantauan kondisi cuaca dan tinggi muka air sungai secara real-time, khususnya di Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong sebagai bagian dari sistem peringatan dini.

Evakuasi pohon tumbang yang di lakukan BPBD Kota Yogyakarta.

“Kesiapsiagaan personel dan Tim Reaksi Cepat (TRC) juga diaktifkan selama 24 jam guna merespons secara cepat berbagai kejadian darurat seperti pohon tumbang maupun genangan air. Di mana, sudah tercatat diawal bulan April 2026 ini jumlah pohon tumbang sebanyak empat pohon,” ujarnya.
Pihaknya pun menyampaikan, bahwa hingga saat ini kondisi permukaan air sungai di wilayah Kota Yogyakarta masih relatif stabil.
“Terpantau melalui telemetri Pusdalops BPBD Kota, kondisi permukaan air di Sungai Gajahwong, Code, dan Winongo tidak mengalami penurunan maupun kenaikan yang signifikan,” jelasnya.
Selain itu, berdasarkan pemantauan melalui kamera pengawas (CCTV), kondisi kebersihan sungai juga terjaga dengan baik. Tidak ditemukan adanya sampah yang berserakan di aliran sungai. Darmanto pun memberikan apresiasi kepada warga yang tinggal di bantaran sungai.
“Ini menunjukkan kesadaran masyarakat sudah baik. Warga bantaran sungai konsisten menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya.
BPBD juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor dengan berbagai pihak, termasuk BMKG, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), serta pemerintah wilayah seperti kemantren dan kelurahan.
“Koordinasi ini penting agar informasi peringatan dini bisa segera sampai ke masyarakat,” ungkap Darmanto.
Tak hanya itu, optimalisasi sistem peringatan dini (early warning system) juga terus dilakukan agar masyarakat dapat melakukan evakuasi mandiri dengan cepat apabila terjadi peningkatan debit air sungai secara tiba-tiba.
Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap masyarakat dapat lebih siap dan sigap dalam menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem.