Sejumlah temuan dari masa Majapahit diyakini memuat catatan tentang keberadaan makanan yang kemudian berkembang menjadi urap sayur.
Urap umumnya disajikan sebagai makanan pendamping, yang memadukan aneka sayuran segar dengan kelapa parut berbumbu, menghasilkan rasa yang ringan tetapi tetap penuh cita rasa.
Keistimewaan urap terletak pada bahan dasarnya yang sederhana, yakni sayuran segar seperti bayam, kacang panjang, tauge, dan kol yang disatukan dengan kelapa parut berbumbu.
Tidak ada daging, tidak ada santan, hanya kesederhanaan yang justru menjadi pemikatnya.
Di balik tampilan sederhananya, urap mengandung makna filosofis yang mendalam.
Dalam bahasa Jawa, kata “urap” memiliki arti mencampur atau menyatukan.
Kelapa berperan menyatukan berbagai macam sayuran, menjadikan hidangan ini sebagai simbol harmoni, persatuan, dan kebersamaan.
Bahkan setiap bahan dari urap juga mempunyai arti simbolisnya masing-masing, seperti tauge yang menjadi simbol harapan baru, kacang panjang melambangkan umur yang panjang, dan kelapa menjadi penanda kemakmuran serta ketangguhan hidup.
Urap memiliki variasi di berbagai daerah, seperti urap jantung pisang, gudangan dari Jawa Tengah, atau kluban dari Jawa Barat.
Meski tiap daerah menyebutnya dengan nama yang berbeda, namun konsep hidangannya tetap sama, yakni sayuran segar dengan kelapa berbumbu sebagai penyatu rasa.
Tradisi ini mengingatkan kita nilai sederhana namun mendalam, bahwa memberi segala yang terbaik dan tetap bersyukur adalah inti kehidupan.
Sebagaimana urap menyatukan beragam sayuran menjadi satu hidangan yang sarat akan makna.
Ingin Jelajah Jogja dan Kulinernya ? 087849378899





