GONDOMANAN,REDAKSI17.COM – Kebutuhan bahan pokok di Kota Yogyakarta sejak bulan Desember 2025 hingga 6 Januari 2026 terpantau masih relatif aman dengan harga yang cenderung stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan.
Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti minyak goreng dan cabai, namun kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar.
Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Riswanti mengungkapkan, secara umum harga komoditas pokok utama masih terkendali. “Beras cenderung stabil, minyak goreng dan gula pasir juga harganya stabil. Hanya saja untuk merek tertentu yang diminati masyarakat seperti Minyak Kita, pasokannya memang agak terbatas karena tahun ini sebagian besar terserap untuk bantuan pangan,” jelas Sri Riswanti saat diwawancarai, Selasa (6/1).
Ia menambahkan, pada bulan Desember 2025 lalu, pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter Minyak Kita untuk setiap kepala keluarga. Hal tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan Minyak Kita di pasaran. Bahkan, saat Dinas Perdagangan berkoordinasi dengan Bulog, jumlah pasokan yang tersedia juga terbatas. “Padahal Minyak Kita ini sangat diminati masyarakat karena harganya stabil dan diatur melalui Harga Eceran Tertinggi (HET),” ujarnya.
Untuk komoditas daging sapi, Sri Riswanti menyebutkan harga relatif stabil di angka Rp135.000 per kilogram. Kenaikan sebesar Rp5.000 terjadi menjelang akhir tahun 2025, setelah sebelumnya bertahan di harga Rp130.000 per kilogram. “Kalau dibandingkan awal tahun ini, karena baru berjalan sekitar satu minggu, masih terlalu dini untuk melihat perbandingan yang signifikan,” katanya.
Sementara itu, komoditas yang masih mengalami fluktuasi harga antara lain cabai, telur ayam, dan daging ayam. Cabai dengan berbagai jenis, seperti cabai rawit merah, rawit hijau, cabai keriting, dan cabai merah besar, menunjukkan pergerakan harga yang cukup dinamis. Berdasarkan data terkini, harga cabai rawit hijau mencapai Rp65.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp58.000 per kilogram, daging ayam Rp32.000 per kilogram, sementara beras medium merek C4 dijual seharga Rp12.000 per kilogram.
Menurut Sri Riswanti, fluktuasi harga cabai dipengaruhi oleh faktor cuaca, serangan hama, serta sifatnya yang tidak dapat disimpan lama. “Ketika panen raya harga bisa sangat murah, tetapi saat produksi menurun dan permintaan meningkat, seperti menjelang hari besar keagamaan, harga bisa melonjak tajam. Cabai ini disparitas harganya memang paling tinggi dibanding komoditas lain,” jelasnya.
Adapun pasokan bahan pokok di Kota Yogyakarta sebagian besar berasal dari luar daerah karena Kota Yogyakarta tidak memiliki sentra produksi. Beras dan cabai banyak dipasok dari wilayah Jawa Tengah seperti Temanggung, Magelang, dan Mungkid. Sementara itu, bawang putih dan bawang bombai seluruhnya berasal dari impor, sedangkan bawang merah sebagian besar didatangkan dari Bima, Nusa Tenggara Barat.
Menghadapi potensi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadhan, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan agar harga tetap terkendali. “Hukum pasar supply dan demand tetap berlaku. Yang bisa kami lakukan adalah memastikan pasokan cukup dan mudah diakses masyarakat, sehingga meskipun permintaan naik, harga tidak melonjak terlalu tinggi,” imbuhnya.
Tambahnya, masyarakat juga dapat memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok melalui aplikasi Jogja Smart Service (JSS) yang menampilkan grafik harga harian hingga perbandingan data satu tahun terakhir.
Awal Tahun Harga Bahan Pokok Stabil dan Terkendali



