Yogyakarta,REDAKSI17.COM — Di balik gerak yang lembut dan iringan gamelan yang agung, Bedhaya Bontit menyimpan kisah pertarungan besar yang justru berujung pada kesatuan. Tarian klasik Keraton Yogyakarta ini merupakan salah satu warisan budaya yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga kaya akan makna filosofis tentang keseimbangan, pengendalian diri, dan harmoni.
Bedhaya Bontit melambangkan keseimbangan dan harmoni melalui filosofi loro-loroning atunggal, yakni dua hal yang berbeda namun bersatu. Dikutip dari laman resmi Keraton Yogyakarta, Bedhaya Bontit merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang diciptakan pada tahun 1925, saat beliau bertakhta di Ngayogyakarta Hadiningrat (1921–1939).
Berbeda dengan bedhaya sakral yang lekat dengan ritual tertentu, Bedhaya Bontit tidak memiliki kedudukan khusus dalam upacara adat. Para penarinya pun tidak diwajibkan menjalani laku ritual khusus. Bahkan, penari yang sedang nggarap sari diperkenankan membawakannya.
Mengambil inspirasi dari Wayang Purwa, khususnya epos Mahabharata, Bedhaya Bontit mengisahkan pertarungan antara Raden Permadi (Raden Harjuna) dan Raden Suryatmaja (Adipati Karna) di Pura Mandaraka dalam upaya memperebutkan Dewi Surtikanthi. Alkisah, Prabu Duryudana meminang sang putri. Namun, Dewi Surtikanthi mengajukan syarat agar dirinya dirias oleh Raden Permadi pada hari pernikahan. Dari sinilah konflik bermula.
Saat Raden Permadi merias Dewi Surtikanthi, ia menyadari kehadiran Raden Suryatmaja yang diam-diam menaruh hati pada sang putri. Pertarungan pun tak terelakkan. Dalam beberapa versi kisah, Raden Permadi digambarkan unggul, sementara dalam versi lain pertarungan berakhir tanpa pemenang. Keduanya memiliki kekuatan yang setara hingga tak ada jalan keluar, lalu melebur dalam konsep loro-loroning atunggal atau dua yang menjadi satu.
Filosofi tersebut tercermin kuat dalam struktur tari. Bedhaya Bontit ditarikan oleh sembilan penari dengan pola lantai yang terbilang langka. Saat membentuk pola tiga-tiga, para penari bergeser ke kanan secara serempak melalui gerak kengser, lalu kembali ke posisi awal secara bersamaan. Pola semacam ini hampir tidak dijumpai dalam bedhaya lain, kecuali Bedhaya Sinom.
Keunikan juga tampak pada adegan peperangan. Penari endhel yang memerankan Raden Suryatmaja dan penari batak sebagai Raden Permadi berputar mengelilingi penari yang jengkeng secara berulang. Bahkan, penari apit ngajeng menari dalam posisi jengkeng dengan tubuh membelakangi penonton, sebuah komposisi gerak yang nyaris tidak ditemui dalam bedhaya lainnya.
Keistimewaan Bedhaya Bontit semakin kuat melalui pilihan iringan. Adegan peperangan diiringi Gendhing Ketawang, sesuatu yang sangat jarang digunakan dalam tari bedhaya. Hingga kini, Bedhaya Bontit menjadi satu-satunya bedhaya yang menggunakan Gendhing Ketawang untuk mengiringi adegan peperangan.
Busana penari umumnya berupa kampuh dengan rias paes ageng. Namun, dalam pementasan Uyon-Uyon Hadiluhung pada 11 Juli 2022, para penari mengenakan busana gladhen dengan sentuhan berbeda, yakni sanggul tekuk, kampuh berlatar hitam, nyamping dringin merah berwiru, keris, sondher gendhala giri merah, serta aksesori subang dan cincin yang memadukan pakem dan kreativitas visual.
Catatan tentang Bedhaya Bontit tersimpan dalam manuskrip Kagungan Dalem Serat Kandha Bedhaya Srimpi (kode BS 09:12) yang kini berada di Perpustakaan Kawedanan Kridhamardawa Keraton Yogyakarta. Dari naskah hingga panggung, Bedhaya Bontit terus hidup sebagai pengingat dalam budaya Jawa, kemenangan sejati bukanlah menaklukkan lawan, melainkan mencapai keselarasan.
Humas Pemda DIY





