Biografi Singkat
Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir biasa disapa dengan nama Dalhar merupakan seorang anak laki-laki yang lahir pada tanggal 16 April 1907 di Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunung Kidul dari pasangan suami istri H. Muzakkir dan Siti Khadijah binti Mukmin (wanita dari Gedongkuning putri H. Mukmin satu-satunya di antara lima saudaranya yang lain) (Efendi, 2017; Nakamura, 2019; Sulistiyono, 2019). Saat dewasa, Dalhar lebih dikenal dengan nama Abdul Kahar Muzakkir.
Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir merupakan seorang yang alim dan memiliki kepribadian yang kokoh karena memiliki latar belakang keluarga yang kuat dalam bidang keagamaan. Ayahnya merupakan seorang pedagang sekaligus guru agama yang aktif mengurus hajat besar di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta (Efendi, 2017; Nakamura, 2019). Kakeknya, Kiai Abdullah Rasyad, merupakan guru agama di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Abdul Kahar Muzakkir mendapatkan pelajaran agama Islam pertama kali dari ayahnya sendiri.
Latar Belakang Pendidikan
Abdul Kahar Muzakkir mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah Selokraman Kotagede hingga kelas dua. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikannya di Manba’ul ‘Ulum Surakarta dan menjadi santri di Ponpes Jamsaren Surakarta di bawah asuhan KH. Idrus, kemudian juga menjadi santri di Ponpes Termas Pacitan (Efendi, 2017).
Abdul Kahar Muzakkir melanjutkan pendidikannya di Arab pada tahun 1924 untuk memperdalam pelajaran agama Islam. Oleh karena pada saat itu terjadi revolusi Arab yang menyebabkan situasi tidak lagi kondusif, akhirnya pada tahun 1925 Abdul Kahar Muzakkir pindah ke Mesir. Ia diterima sebagai mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo. Selanjutnya, ia pindah ke Universitas Darul ‘Ulum dan lulus tahun 1936. Di samping belajar, beliau juga sering mengikuti organisasi-organisasi di tingkat nasional maupun tingkat dunia. Setelah kembali dari Mesir, ia mulai aktif di Muhammadiyah dan terlibat dalam usaha perjuangan kemerdekaan melalui jalur politik.
Peran Dalam Dunia Pendidikan
Pendidikan Politik
Pada tahun 1930, Abdul Kahar Muzakkir mewakili pelajar Indonesia dalam Konferensi Islam di Timur Tengah. Ia diangkat sebagai sekretaris kongres. Pada tahun 1933, ia memainkan peran penting dalam pendirian Perhimpunan Indonesia Raya di Kairo (sebuah organisasi paralel Perhimpunan Indonesia di Belanda), dan terpilih sebagai ketuanya yang pertama (Hs et. al., 2014; Nawiyanto et. al., 2015).
Merintis Ma’had Islamy
Merintis Pendidikan Tinggi Islam
Gagasan terkait pendirian perguruan tinggi Islam sebenarnya sudah muncul sejak zaman kemerdekaan. Abdul Kahar Muzakkir dipilih sebagai ketua yang merintis Sekolah Tinggi Islam (STI), di mana STI ini sebagai bentuk realisasi kerja yayasan Badan Pengurus Sekolah Tinggi Islam bersama Moh. Hatta dan M. Natsir. STI berdiri pada tanggal 8 Juli 1945 di Jakarta, namun pada saat itu keadaan pribumi masih mempertahankan kemerdekaan sehingga situasi ibu kota masih kacau. STI kemudian dipindahkan ke Yogyakarta seiring dengan perpindahan ibu kota pada tanggal 10April 1946. Selanjutnya, pada tahun 1947, STI berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (Hadi, 2019; R. Hidayat, 2016; Hs et. al., 2014; Nawiyanto et. al., 2015; Rizqa, 2019).
Sumber Pustaka:
- Chaerani Dyah, Ayu. (2022, 02 Desember). Menilik Sepak Terjang Kahar Muzakkir dalam Dunia Pendidikan.https://himmahonline.id/berita/menilik-sepak-terjang-kahar-muzakkir-dalam-dunia-pendidikan/
- Susilo, Mohamad & Junanah,. (2022). Abdul Kahar Muzakkir: Sosok Inisiator Pendidikan yang Memerdekakan
Penulis: Raden Miftakhurozak Budi Nugraha, S.Kom





