Zaid bin Tsabit An-Najjari Al-Anshari adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai penulis wahyu dan ulama besar dalam Islam. Dalam artikel ini, kita akan membahas perjalanan hidup Zaid bin Tsabit secara lengkap, mulai dari masa kecilnya hingga peran pentingnya dalam sejarah Islam.
Masa Kecil Zaid bin Tsabit
Zaid bin Tsabit lahir pada tahun 612 M di Madinah. Beliau berasal dari suku Bani Malik bin An-Najjar, salah satu suku Anshar yang memeluk Islam pada masa awal dakwah Rasulullah SAW. Zaid masuk Islam ketika masih berusia 11 tahun, tepatnya sebelum Perang Badar.
Kecerdasan Zaid sudah tampak sejak kecil. Beliau sangat cepat menghafal dan memahami ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Hal ini membuatnya menjadi salah satu pemuda yang diandalkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Penunjukan Sebagai Penulis Wahyu
Daya ingat Zaid bin Tsabit yang luar biasa menjadi salah satu alasan utama Rasulullah SAW memilihnya sebagai penulis wahyu. Rasulullah SAW sering menerima wahyu dari malaikat Jibril, dan Zaid bin Tsabit diberi tugas untuk mencatat wahyu tersebut agar terjaga keasliannya.
Selain itu, Zaid juga ditugaskan untuk menulis surat-surat yang dikirimkan Rasulullah SAW kepada para pemimpin dan raja di berbagai wilayah. Pernah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW meminta Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani agar dapat memahami dan menulis surat dalam bahasa tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran Zaid dalam menjaga kebenaran dan penyebaran pesan Islam.
Zaid bin Tsabit sebagai Ulama
Selain menjadi penulis wahyu, Zaid bin Tsabit juga dikenal sebagai seorang ulama besar di Madinah.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Umatku yang paling menguasai ilmu faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”
Ilmu faraidh atau ilmu tentang hukum waris adalah salah satu bidang keahlian utama Zaid. Beliau juga menguasai fiqih, memberikan fatwa, dan menjadi rujukan umat Islam dalam berbagai permasalahan agama. Tidak hanya itu, Zaid juga meriwayatkan sekitar 92 hadits dari Rasulullah SAW, yang menunjukkan kedalaman ilmunya dalam memahami ajaran Islam.
Peran dalam Pembukuan Al-Qur’an
Salah satu kontribusi terbesar Zaid bin Tsabit adalah perannya dalam pembukuan Al-Qur’an. Setelah Rasulullah SAW wafat, Zaid ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memimpin tim dalam mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an.
Zaid menyaksikan langsung proses turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, sehingga ia memiliki pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengalamannya ini menjadi alasan utama mengapa beliau dipercaya untuk tugas besar ini.
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Zaid kembali dipercaya untuk menyusun mushaf Al-Qur’an yang kita kenal hingga saat ini. Mushaf ini disalin dan disebarkan ke seluruh wilayah kekhalifahan Islam, sehingga menjaga keutuhan dan keseragaman Al-Qur’an.
Wafat Zaid bin Tsabit
Zaid bin Tsabit wafat pada tahun 45 Hijriah di Madinah dalam usia 56 tahun. Wafatnya Zaid meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam.
Abu Hurairah pernah berkata:
“Telah wafat orang terbaik dari umat ini. Semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”
Kehilangan Zaid bin Tsabit adalah kehilangan besar bagi umat Islam. Namun, warisan ilmu dan jasanya dalam pembukuan Al-Qur’an akan selalu dikenang sepanjang masa.
Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kehidupan Zaid bin Tsabit
- Kecerdasan dan Dedikasi pada Ilmu
Kehidupan Zaid mengajarkan pentingnya menggunakan potensi diri untuk kebaikan umat. Kecerdasannya tidak hanya dimanfaatkan untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk kemaslahatan umat Islam. - Kesungguhan dalam Tugas
Zaid menunjukkan bagaimana seorang Muslim harus bertanggung jawab dalam menjalankan amanah. Tugas sebagai penulis wahyu dan pembukuan Al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat berat, tetapi Zaid melakukannya dengan sungguh-sungguh. - Keutamaan Ilmu Agama
Sebagai seorang ulama, Zaid membuktikan bahwa ilmu adalah kunci untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Beliau tidak hanya mendalami Al-Qur’an tetapi juga menjadi rujukan dalam bidang fiqih dan faraidh.
Kesimpulan
Zaid bin Tsabit adalah sosok yang luar biasa dalam sejarah Islam. Perannya sebagai penulis wahyu, ulama, dan tokoh penting dalam pembukuan Al-Qur’an menjadikannya salah satu sahabat yang sangat dihormati. Kehidupannya memberikan teladan tentang bagaimana kecerdasan, dedikasi, dan amanah dapat membawa manfaat besar bagi umat manusia.





