Jakarta,REDAKSI17.COM — Kepala Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat Ahmad Khoirul Umam menyampaikan apresiasi terhadap target optimis pertumbuhan ekonomi nasional yang diharapkan bisa menembus 5,4% di tahun 2026. Bahkan, Bappenas dan Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa menembus 5,6 persen pada kuartal ketiga 2026 mendatang.
BRAINS Demokrat menilai, untuk mencapai target itu, pemerintah perlu secara konsisten menggerakkan sektor riil dan re-industrialisasi sektor-sektor strategis sebagai mesin utama ekonomi nasional. “Target optimis itu bisa dicapai dengan cara menggerakkan sektor riil dan re-industrialisasi,” kata Umam dalam forum Proklamasi Demcoracy Forum (PDF) yang diselenggarakan di kantor DPP Partai Demokrat kemarin (18/12/2025).
Umam menekankan sedikitnya lima agenda kunci yang perlu dipercepat untuk memastikan mesin ekonomi nasional bekerja lebih efektif pada 2026 mendatang. Pertama, lanjut Kepala BRAINS Demokrat tersebut, program pemberdayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang memperoleh dukungan fiskal besar dari pemerintah, harus benar-benar diarahkan untuk mampu menggerakkan ekonomi desa dan sektor produktif lokal. Menurutnya, program sosial berskala besar ini memiliki potensi multiplier effect yang sangat besar jika ditopang oleh tata kelola yang kuat dan integrasi digital. “Program MBG dan KDMP harus didukung dengan sistem tata kelola (governance) yang kuat, dengan checks and balances yang memadai. Sehingga program ini benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan, memperkuat UMKM pangan, pertanian, dan logistik lokal, sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi domestik,” jelasnya.
Kedua, BRAINS Demokrat juga mendorong agar reformasi fiskal di pemerintahan daerah, khususnya terkait Transfer Ke Daerah (TKD) yang belakangan menjadi perhatian sejumlah pemerintah daerah, agar bisa betul-betul dikelola dengan baik, agar menjadi instrumen berbasis kinerja. Intinya, efisiensi dana fiskal daerah perlu mempertimbangkan potensi inovasi kebijakan dan dampak ekonomi rill. “Transfer fiskal ke depan harus memberi reward bagi daerah yang produktif, inovatif, dan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi nyata, bukan sekadar menghabiskan anggaran,” tegas Umam.
Ketiga, BRAINS Demokrat juga menekankan pentingnya fokus pada agenda pembangunan infrastruktur yang lebih cerdas dan tangguh, agar pertumbuhan ekonomi nasional bisa lebih berkelanjutan. Dalam konteks meningkatnya risiko bencana alam, infrastruktur bukan hanya soal konektivitas, tetapi juga perlindungan terhadap nyawa, aktivitas ekonomi, dan kepercayaan investor. “Infrastruktur yang resilien akan menurunkan risiko ekonomi, menjaga keberlanjutan usaha, dan memperkuat kepercayaan investor di tengah meningkatnya ancaman bencana dan perubahan iklim,” katanya.
Keempat, BRAINS Demokrat menyoroti urgensi penegakan hukum yang tegas dan adil, khususnya untuk memperberantas aktivitas dark economy yang menggerus fondasi ekonomi nasional. “Mesin penegakan hukum harus semakin efektif memberantas judi online, pinjaman online ilegal, penipuan digital (scamming), hingga penyelundupan dan impor illegal yang melumpuhkan sektor-sektor fundamental ekonomi nasional. Praktik-praktik ekonomi gelap (dark economy) itu dinilai bisa merusak fondasi ekonomi formal dan menggerus kepercayaan pelaku usaha. “Tanpa penegakan hukum yang konsisten, kebijakan ekonomi sebaik apa pun akan kehilangan kredibilitas. Memberantas ekonomi gelap adalah syarat mutlak untuk menciptakan iklim investasi yang sehat dan pasti,” ujarnya.
Kelima, BRAINS Demokrat juga menekankan perlunya optimalisasi reformasi BUMN melalui Danantara secara strategis. “Danantara harus memastikan konsolidasi BUMN bisa menghadirkan mesin ekonomi negara yang sehat dan professional, sebagai mesin akselerasi pembangunan, mempercepat proyek strategis, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global,” kata Umam.
Umam optimistis, jika kelima agenda tersebut dijalankan secara konsisten dan terkoordinasi, target pertumbuhan ekonomi nasional bukan hanya realistis, tetapi juga berkelanjutan. “Jika pertumbuhan ekonomi bisa menembus tagrte 5,4%, maka hal itu bisa menjadi refleksi ekonomi yang bergerak dari desa hingga kota, dari sektor riil hingga industri, dari kebijakan hingga implementasi. Di situlah peran kepemimpinan, tata kelola, dan keberanian reformasi diuji,” pungkasnya.
Kendati demikian, Umam juga menggaris bawahi bahwa Indonesia harus mengantisipasi ketidakpastian global, tekanan geopolitik, dan risiko iklim yang meningkat. Indonesia membutuhkan strategi pertumbuhan yang tidak semata bertumpu pada stabilitas makro, tetapi juga memastikan roda ekonomi bekerja optimal hingga ke tingkat akar rumput. “Pertumbuhan yang berkualitas hanya bisa lahir jika sektor riil bergerak kuat. Produksi, distribusi, konsumsi, dan investasi harus saling terhubung dalam satu ekosistem yang sehat dan berkelanjutan,” pungkas Umam.

Senada dengan itu, Sekjen DPP Partai Demokrat Herman Khoeron @akang_hero juga menggarisbawahi pentingnya penguatan sektor riil. “UMKM harus didorong secara optimal, melalui dukungan permodalan, teknologi dan pasar,” ujar pimpinan Komisi VI DPR RI tersebut.