Ilustrasi.Foto: Dok. Reuters
Jakarta,REDAKSI17.COM – Bursa Asia berguguran imbas meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Serangan itu akan dilakukan jika Teheran gagal membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Namun, Iran berbalik mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi di kawasan Teluk jika AS menyerang pembangkit listrik Teheran. Iran juga memastikan serangannya akan memperpanjang kenaikan harga minyak dalam waktu yang lama.
“Infrastruktur penting serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target yang sah dan akan dihancurkan secara permanen, dan harga minyak akan naik dalam waktu yang lama,” kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).
Selain itu, Ghalibaf juga akan menargetkan lembaga keuangan yang dianggap mendanai militer AS melalui pembelian obligasi pemerintah Washington. Ancaman ini dianggap berpotensi memperpanjang krisis minyak dunia.
Diketahui pada perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent berada pada level US$ 111,97 per barel pukul 19.16 EST. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 97,64 oer barel.
Kepala ahli strategi pasar Strategas Research, Chris Verrone, mengatakan jarak harga antara minyak mentah Brent dan WTI menjadi tanda dari puncak intensitas krisis minyak. Kenaikan harga minyak mentah Brent mendorong pelaku pasar untuk memperkirakan konflik Timur Tengah terjadi dalam waktu yang lebih lama.
Akibatnya, sejumlah bursa Asia melemah tajam pada perdagangan Senin. Indeks Nikkei 225 Jepang misalnya, melemah hampir 5%. Sementara Indeks saham Topix melemah hingga 4,4%.
Kemudian indeks saham Korea Selatan, Kopsi, rontok lebih dari 6%. Sementara indeks Kosqad turun hampir 5%. Sejumlah bursa Korea Selatan ini bahkan sempat menerapkan trading halt setelah turun lebih dari 5% beberapa waktu lalu.
Kemudian indeks S&P/ASX 200 Australia juga tercatat melemah 2,4%. Sementara Indeks Hang Seng Hong Kong dan CSI 300 melemah masing-masing hampir 2%.
Kemudian untuk saham berjangka pada indeks Dow Jones Industrial Average datar dan S&P 500 terkoreksi 0,1%. Sedangkan untuk harga saham berjangka Nasdaq Composite turun 0,2%.
Ketiga indeks utama AS mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan sejumlah koreksi. S&P 500 misalnya, tercatat turun lebih dari 1,5%, jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei.
Sementara Dow Jones, yang mengalami penurunan beruntun selama empat minggu pertama sejak 2023. Kemudian untuk Nasdaq turun sekitar 2% sepanjang perdagangan pekan ini.





