Founder and Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, yakin RI berpeluang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% / Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta,REDAKSI17.COM – Founder and Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki peluang nyata untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan target dan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Presiden Prabowo itu mempunyai Asta Cita dan yang inti daripada Asta Cita itu pertama adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bahkan beliau mencanangkan kalau bisa 8% dan terhapusnya kemiskinan dari bumi Indonesia,” katanya dalam acara CNBC Economic Outlook 2026, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya pertumbuhan ekonomi setinggi itu bukanlah hal yang mustahil, mengingat Indonesia pernah mencetak pertumbuhan 8,22% pada 1995. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 12,58% dan investasi hingga 13,99%.
Namun, saat ini pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia hanya sebesar 4,98% dan investasi 5,09%. Maka dari itu, ekonomi Indonesia rata-rata hanya tumbuh 5,11%.
“Belanja pemerintahnya dulu kecil, hanya 1,34% tapi sekarang jauh lebih besar 2,9%. Ini adalah sekadar contoh bahwa kalau orang bertanya bisakah kita tumbuh 8%? Saya katakan bisa. Cuma caranya yang harus dilakukan untuk kita bisa tumbuh 8%” ucap CT.
Dalam hal ini, CT menilai perekonomian Indonesia sekarang masih berbasis pada pertanian. Dia meyakini sektor pertanian cukup baik, hanya saja sumbangannya terhadap produk domestik bruto tidak besar.
“Sektor pertanian baik, tapi sektor pertanian hanya menunjang produktivitas setengah dari jumlah tenaga kerja kita. Jadi tenaga kerja kita itu menyerap 28% tahun 2025, outputnya terhadap GDP hanya 13,1%” terangnya.
Sementara, jika tenaga kerja ini dialihkan ke sektor industri, sumbangannya terhadap PDB nasional bisa menjadi dua kali lipat dari jumlah serapan tenaga kerja. Artinya, nilai tambah yang diberikan terhadap ekonomi nasional bisa empat kali lebih besar jika dibandingkan sektor pertanian.
“Apabila dia move ke sektor industri, maka terbalik jadi dua kali lipat. Artinya dari pertanian ke sektor industri ada added value empat kali lipat. Sementara masuk lagi ke sektor jasa itu tumbuhnya bisa empat kali lipat, jadi dari pertanian ke sektor jasa itu tujuh sampai delapan kali lipat,” paparnya.
Dengan demikian, CT menilai Indonesia perlu melakukan transformasi di sektor pertanian dan industri guna mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Dengan begitu cita-cita pertumbuhan ekonomi 8% bisa tercapai.
“Kita perlu melakukan namanya transformasi dengan bantuan inovasi dan teknologi. Berkembang dari sektor pertanian menuju industri, menuju knowledge base economy dan menuju science base of Economics,” tegas CT.





