TELUK BINTUNI,REDAKSI17.COM – Di banyak wilayah pesisir Teluk Bintuni, Papua Barat, aktivitas melaut masih dijalani dengan sarana yang sangat terbatas. Nelayan mengandalkan kole-kole, perahu kayu kecil berkapasitas 2-3 orang, sehingga membatasi jarak jelajah sekaligus jumlah hasil tangkapan. Padahal, laut menjadi penopang utama ekonomi masyarakat setempat.
Kondisi inilah yang mendorong anggota DPRD Teluk Bintuni Anthon Asmorom menyerahkan lima unit perahu fiber kepada kelompok nelayan di Distrik Aranday. Bukan sekadar mengganti alat, bantuan ini merupakan upaya mengubah cara nelayan bekerja, dari sekadar bertahan hidup menuju peningkatan produktivitas.
“Kalau perahu fiber bisa muat sampai 10 orang. Jadi hasil tangkapannya lebih banyak,” ujar Anthon Asmorom, Senin (9/2/2026).
Kapasitas yang lebih besar berarti nelayan bisa melaut bersama, membawa peralatan lebih lengkap, dan menjangkau wilayah tangkapan yang sebelumnya sulit dicapai.
Program ini menjadi langkah awal di periode kedua Anthon sebagai legislator. Pada periode pertamanya, dia telah menyalurkan 40 perahu fiber ke sejumlah wilayah pesisir Teluk Bintuni.
“Masyarakat berterima kasih karena ini memudahkan mereka, menunjang kegiatan sehari-hari mereka sebagai nelayan,” kata legislator yang duduk di Komisi C DPRD Teluk Bintuni ini.
Teluk Bintuni sendiri dikenal sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani, termasuk berkebun. Namun potensi itu belum sepenuhnya tergarap.
Data menunjukkan, pada 2020 produksi perikanan daerah ini baru mencapai 893,41 ton. Angka yang masih jauh dari potensi sumber daya laut yang dimiliki.
Menurut Anthon, kebutuhan masyarakat pesisir tidak bisa dipukul rata. Karena itu, jumlah bantuan ke depan tidak ditentukan secara sepihak.
“Nanti kita lihat saat kunjungan kerja atau reses. Dari situ kita tahu kebutuhannya berapa, permintaan masyarakat seperti apa,” tutur Legislator Partai Perindo ini.
Pendekatan ini mencerminkan pola hubungan yang relatif cair antara wakil rakyat dan konstituennya. Di Papua Barat, kata Anthon, relasi itu memang berbeda. “Pelayanan kami di sini tidak sama seperti di Jawa. Kami lebih dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Kedekatan itu tercermin dari rumahnya yang selalu terbuka bagi warga. Selain melalui forum resmi seperti reses, warga kerap datang langsung menyampaikan aspirasi. Mulai dari permintaan pembangunan jalan, air bersih, hingga bantuan bahan bangunan seperti semen dan seng.
Tak hanya nelayan, sektor pertanian pun mendapat perhatian Anthon. Dia menyalurkan bibit tanaman dan pupuk bagi petani, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
“Harapan saya, ini bisa menunjang mereka punya mata pencaharian, bisa menyekolahkan anak-anak, memenuhi kebutuhan rumah tangga,” pungkasnya.




