
Kulon Progo,REDAKSI17.COM- Kulon Progo memiliki kuliner tradisional unik bernama Dawet Sambel, jajanan khas Desa Jatimulyo yang kini semakin jarang ditemui. Dawet sambel diperkirakan telah ada sejak hampir 70 tahun lalu dan merupakan hasil kreasi penjual dawet dan pecel pada masa lampau.
Menurut cerita masyarakat setempat, dawet sambel bermula dari ide mencampurkan dawet dengan bumbu pecel saat sebuah pertunjukan rakyat berlangsung. Perpaduan tersebut ternyata digemari hingga dikenal sebagai dawet sambel atau dawet pecel.
Saat ini, dawet sambel hanya bisa dijumpai di Pasar Cublak (Rabu dan Sabtu) serta Pasar Jonggrangan (pasaran Kliwon dan Pahing), menjadikannya kuliner yang tidak mudah ditemui setiap hari.
Salah satu tokoh pelestari dawet sambel adalah Ibu Ponirah dari Sokomoyo, Jatimulyo. Dawet ini berbahan dasar tepung ganyong, tanaman lokal yang dahulu banyak tumbuh di pekarangan warga. Keunikannya terletak pada penggunaan sambal kelapa goreng yang ditumbuk dengan cabai, tanpa santan maupun es.
Dawet sambel disajikan dengan tauge, tahu goreng, bawang goreng, kerupuk, serta siraman juruh dari nira kelapa. Perpaduan rasa manis, gurih, dan pedas menciptakan cita rasa khas yang berbeda dari dawet pada umumnya.
Cara Pembuatan Dawet Sambel
Proses pembuatan dawet sambel masih dilakukan secara tradisional. Tepung ganyong dimasak dengan air mendidih sambil terus diaduk hingga mengental dan kenyal, lalu dicetak dan ditiriskan. Sambal dibuat dari irisan kelapa yang digoreng kering, kemudian ditumbuk bersama cabai dan garam. Topping berupa tahu dan bawang diiris kecil lalu digoreng hingga matang. Sementara itu, nira kelapa dimasak hingga berubah warna kecokelatan dan harum, dengan tambahan daun pandan.
Dalam penyajiannya, dawet dimasukkan ke dalam mangkuk, lalu ditambahkan topping, sambal, dan disiram juruh nira. Kerupuk menjadi pelengkap sajian.
Lebih dari sekadar kuliner, dawet sambel mengandung nilai filosofi tentang kehidupan bermasyarakat—perbedaan rasa yang menyatu melambangkan keberagaman yang dipersatukan melalui kebersamaan dan musyawarah. Dawet sambel juga memberi nilai ekonomi bagi para pedagang lansia serta kerap disajikan dalam berbagai acara hajatan dan kegiatan sosial.
Dawet sambel menjadi bagian penting dari khazanah kuliner tradisional Yogyakarta yang patut dijaga dan dilestarikan.





