Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung/Foto: Anisa Indraini
Jakarta,REDAKSI17.COM – Banyak negara di dunia mulai mengurangi ketergantungannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama baik dalam transaksi perdagangan internasional maupun cadangan devisa, dan mulai beralih ke mata uang lokal atau emas.
“Sudah terjadi yang namanya dedolarisasi. Cadangan devisa di beberapa negara itu cenderung turun, banyak negara sudah menggantinya bukan cuma dengan mata uang lain, tetapi juga dengan emas,” kata Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung dalam acara CNBC Economic Outlook 2026, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Dalam paparannya, pria yang akrab disapa CT itu menunjukkan pangsa dolar dalam cadangan devisa global jatuh dari 71,52% pada 2001, menjadi 56,3% pada Oktober 2025. Ini merupakan angka terendah dalam 30 tahun terakhir.
“Ini menjadikan nilai dolar atau indeks dolar terhadap mata uang lain cenderung menurun, melemah,” ucapnya.
Sementara itu, cadangan devisa global dalam mata uang lain tercatat mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sebut saja Euro yang pangsanya kini mencapai 21,13%, kemudian Yen Jepang 5,57%, hingga Yuan China yang kini mencapai 2,12%.
“Tentu ini Bapak Ibu merasakan kalau pergi ke luar negeri apalagi ke Singapura harga-harga menjadi jauh lebih mahal karena kita pakainya rupiah, belanjanya dolar Singapura, maka itu terasa sekali harganya menjadi jauh lebih mahal,” terang CT.
Pada akhirnya, penurunan penggunaan dolar AS yang kerap disebut safe haven itu membuat banyak pemegangnya mulai mengalihkan asetnya dalam bentuk emas atau mata uang lain. Alhasil terus membuat harga emas melambung imbas tingginya permintaan.
“Ini juga yang menjadi jawaban kenapa harga emas naik, harga perak naik. Karena dolar yang tadinya save haven tempat orang paling aman untuk menyimpan uang atau menyimpan kekayaannya itu merasa sangat khawatir terhadap perkembangan dolar ke depan,” tegasnya.





