Home / Tokoh Kita / D’Lloyd: Legenda Musik Pop Melayu Indonesia

D’Lloyd: Legenda Musik Pop Melayu Indonesia

Meski semua personelnya telah berpulang, nama D’Lloyd tetap hidup dalam ingatan para pencinta musik Indonesia. Grup band legendaris yang dibentuk tahun 1969 ini bukan hanya pelopor genre pop melayu di Tanah Air, tetapi juga simbol kejayaan musik Indonesia di era 1970-an yang tembus hingga Malaysia dan Singapura.

Tak banyak yang tahu, D’Lloyd awalnya adalah grup musik bentukan dari Djakarta Lloyd, sebuah perusahaan pelayaran milik negara. Namun siapa sangka, band ini justru mengarungi samudra musik dan mengibarkan bendera Indonesia di luar negeri lewat lagu-lagu mendayu dan penuh rasa.

Album perdana mereka, “D’Lloyd Vol.1” dengan single “Titik Noda”, langsung meledak di pasaran pada 1971. Sejak itu, deretan lagu hits seperti Apa Salah dan DosakuMengapa Harus Jumpa, hingga Semalam di Malaya menjadi anthem generasi.

Tak hanya dikenal karena romantisme lagunya, D’Lloyd juga pernah menuai kontroversi. Lagu mereka yang berjudul “Hidup di Bui” disensor oleh rezim Orde Baru karena menyebut “penjara Tangerang”, yang dianggap sensitif terkait sejarah G30S/PKI. Lirik tersebut akhirnya diubah menjadi “penjara jaman perang” agar bisa lolos sensor dan kembali diputar di radio.

Meski masa keemasan mereka telah lewat, lagu-lagu D’Lloyd masih sering diputar di berbagai media hingga sekarang. Banyak penyanyi muda mengaransemen ulang karya mereka. Misalnya, Andmesh membawakan kembali “Mengapa Harus Jumpa”, dan Marshanda merilis ulang “Tak Mungkin” sebagai OST sinetron “Tikus dan Kucing” (SCTV, 2017).

D’Lloyd digawangi oleh musisi-musisi berbakat, antara lain: Bartje van Houten (gitar utama), Syamsuar Hasyim (vokal utama), Andre Gultom (saxophone/flute), Amir “Yustian” Yusuf (gitar kedua), Chairoel Daud (drum), Budiman Pulungan (keyboard), dan Sangkan “Papang” Panggabean (bass).

Namun seiring waktu, musibah demi musibah menghampiri. Satu per satu personel meninggal dunia, dimulai dari Papang (1993), Andre Gultom (1996), hingga Bartje van Houten sebagai personel terakhir yang berpulang pada 5 Mei 2017.

Formasi band sempat bertahan dengan musisi-musisi pengganti seperti: Juhanny “Yuyun” Fatmarida Susilo, pemain saxophone wanita yang menawan,, Totok (Toto) dari The Rollies, serta musisi jazz Ade Aviantara.

Selain untuk D’Lloyd, Bartje van Houten juga menulis banyak lagu untuk penyanyi lain seperti Eddy Silitonga, Melky Goeslaw, hingga Mayangsari. Salah satu karyanya yang ikonik adalah Mengapa Ada Dia di Antara Kita yang dibawakan oleh Rano Karno pada 1982.

Kini, D’Lloyd memang tinggal kenangan. Namun semangat, karya, dan cinta mereka terhadap musik Indonesia akan terus abadi. Di tengah gempuran musik modern, lagu-lagu D’Lloyd tetap menyentuh hati, menjadi soundtrack nostalgia lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *