Home / Daerah / Dua Tarian Adiluhung Tutup Ziarah Budaya Pangastho Aji

Dua Tarian Adiluhung Tutup Ziarah Budaya Pangastho Aji

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pameran temporer Pangastho Aji, Laku Sultan Kedelapan resmi ditutup dengan persembahan istimewa dua tarian klasik Keraton Yogyakarta, Beksan Pethilan Gatotkaca Setija dan Bedhaya Bontit, di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Sabtu malam (24/1). Dua tari adiluhung tersebut dipersembahkan sebagai penanda akhir perjalanan ziarah budaya yang mengajak publik menyelami laku dan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir dalam penutupan pameran tersebut didampingi GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Notonegoro, KPH Yudanegara, serta RA Nisaka Irdina dan RM Radityo Mandhala Yudo. Sejumlah perwakilan Forkopimda DIY, mitra, kolega, dan tamu undangan turut menghadiri malam penutupan yang sarat makna tersebut.

Dalam refleksinya, Sri Sultan menegaskan Pameran Pangastho Aji merupakan sebuah laku ziarah budaya untuk menyingkap perjalanan batin dan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sang Raja Kedelapan mengajarkan satu prinsip mendasar, yakni kekuasaan tanpa kebudayaan hanyalah kekosongan, dan kebudayaan tanpa keberpihakan pada rakyat hanyalah hiasan belaka.

Makna tersebut mengalir dalam Beksan Pethilan Gatotkaca Setija, yang menggambarkan peperangan antara Prabu Setija, Raja Trajutresna, melawan Raden Gatotkaca, satria Pringgondani. Perebutan wilayah Kikis Tunggarana menjadi simbol benturan kuasa dan harga diri. Keteguhan Gatotkaca dalam mempertahankan wilayahnya berujung pada mundurnya Prabu Setija, menjadi simbol bahwa kekuasaan sejati tidak selalu dimenangkan melalui penaklukan, melainkan diuji melalui etika dan keberanian.

Sementara itu, Bedhaya Bontit, Yasan Dalem karya Sri Sultan Hamengku Buwono VII, menghadirkan narasi filosofis yang bersumber dari epos Mahabharata. Kisah peperangan Raden Permadi dan Raden Suryatmaja di Pura Mandaraka berujung pada kesadaran akan kesetaraan kekuatan, tanpa pemenang dan tanpa kekalahan. Keduanya menyatu dalam konsep loroloroning atunggal, simbol keseimbangan dan harmoni.

Ditampilkan oleh sembilan penari dengan pola lantai khas yang jarang ditemui, Bedhaya Bontit kali ini semakin unik dengan penggunaan Gendhing Ketawang pada adegan peperangan. Pilihan musikal tersebut tidak lazim dalam tradisi bedhaya, sekaligus menegaskan keberanian tafsir artistik dalam bingkai pakem.

Pameran Pangastho Aji berlangsung sejak 27 September 2025 hingga 24 Januari 2026 di Kompleks Kedhaton Keraton Yogyakarta. Pameran ini mengulas perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sejak masih bergelar GPH Puruboyo hingga naik takhta pada 8 Februari 1921, serta menampilkan peran besarnya sebagai raja visioner dalam pembangunan fisik Keraton, seni pertunjukan, dan tata kelola budaya yang progresif.

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, GKR Bendara, menyampaikan Keraton Yogyakarta terus menghadirkan pameran dengan pendekatan positivisme sejarah guna menjawab dahaga pengetahuan masyarakat secara berkelanjutan. Melalui arsip, koleksi benda bersejarah, dan instalasi interaktif, publik diajak memahami konteks sosial, politik, dan kebudayaan awal abad ke-20.

Tak hanya menampilkan kejayaan masa lalu, pameran ini juga merefleksikan tantangan pewarisan budaya di tengah modernitas. Pelestarian tidak berhenti pada upaya menjaga kemurnian, tetapi juga mengembangkan nilai agar tetap relevan. Institusi pendidikan seni seperti Krida Beksa Wiromo serta ruang-ruang budaya lainnya menjadi bukti kesinambungan visi Sultan Hamengku Buwono VIII yang terus hidup hingga kini.

“Terima kasih atas dukungan seluruh pihak dan masyarakat. Hingga penutupan, pameran ini telah dikunjungi lebih dari 260 ribu pengunjung dan didukung lebih dari 10 program publik sebagai bagian dari penguatan ekosistem wisata budaya yang berkelanjutan,” tutur GKR Bendara.

Melalui Pameran Pangastho Aji yang mendalami locus kehidupan dan kuasa sang pangeran Jawa dalam patron sejarah Jawa baru, Keraton Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga mengembangkannya agar tetap relevan di tengah dinamika modernitas, sekaligus menjadi ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan bagi masyarakat luas.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *