Kisah Pahlawan Remaja: “Ferry Sie King Lien” yang Bikin Penjajah Gentar
Ferry Sie King Lien lahir sekitar tahun 1933 di Solo, dalam keluarga pemilik pabrik gelas ternama di kawasan Kartodipuran, Surakarta. Meski hidup di lingkungan cukup, dia memilih jalan yang berat,
ikut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai anggota Tentara Pelajar.
Misi “Perang Urat Saraf” & Aksi Semalam Saat usianya baru 16 tahun, Ferry dan empat rekannya Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi mendapat misi khusus: menyebarkan semangat perlawanan terhadap Belanda melalui coretan di tembok kota, selebaran anti-kolonial, bahkan aksi tembakan kecil terhadap pos-pos Belanda di malam hari.Salah satu kalimat yang mereka tulis:
“Eens komt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen” suatu hari Republik Indonesia akan bangkit kembali. Malam 14 Juli 1949 menjadi momen naas. Ferry dan rekan-rekannya melaksanakan misi di Solo, tapi mereka dicegat pasukan Belanda di sebelah selatan kawasan Singosaren. Dalam baku temb4k itu, Ferry dan Soehandi gugur seketika, sementara ketiga rekannya berhasil meloloskan diri.
Meskipun usianya sangat muda, jasa Ferry diakui negara. Makam awalnya di pemakaman umum kemudian dipindah ke Taman Makam Pahlawan Jurug, Solo sebagai penghormatan atas keberaniannya. la menjadi satu dari sedikit bahkan satu-satunya pejuang keturunan Tionghoa yang dimakamkan di TMP tersebut.
Dikutip dari berbagai sumber





