Dalam catatan sejarah Mesir Kuno, Merneptah adalah penguasa (Firaun) keempat dari Dinasti ke-19. Ia memerintah setelah ayahnya, Ramses II, meninggal dunia. Ia memegang kekuasaan tertinggi di Mesir sekitar tahun 1213–1203 SM.
Nama Merneptah sering muncul dalam diskusi mengenai siapa Firaun yang tenggelam di laut saat mengejar Nabi Musa.
Ada dua teori besar:
Teori Ramses II: Banyak yang percaya Ramses II adalah Firaun yang tenggelam di laut saat mengejar Musa (Moses).
Teori Merneptah: Banyak peneliti berpendapat bahwa jika Ramses II adalah Firaun yang dihadapi Musa saat masih di istana, maka Merneptah adalah Firaun yang berkuasa saat peristiwa penyeberangan laut terjadi. Ini karena Merneptah adalah penerus langsung Ramses II.
Kemudian hubungan antara mumi Merneptah dan narasi kitab suci menjadi sangat populer setelah penelitian Dr. Maurice Bucaille, seorang ahli bedah asal Prancis, yang dipublikasikan pada tahun 1980-an.
Bucaille meneliti mumi Merneptah menggunakan teknologi radiologi dan menemukan adanya bekas garam laut yang tertinggal di dalam tubuh mumi tersebut.
Ia juga mencatat adanya kerusakan tulang yang parah (seperti hantaman benda tumpul/gelombang air) yang terjadi sesaat sebelum kematian. Temuan ini membawa pada kesimpulan (yang bagi sebagian orang bersifat religius) bahwa Merneptah adalah Firaun yang tewas tenggelam namun jasadnya segera diselamatkan dan diawetkan.
Bucaille, M. (1987). Mummies of the Pharaohs: Modern Medical Investigations. St. Martin’s Press.





