Gebyar Disabilitas Perkuat Keberadaan Yogya  Kota Inklusi

JETIS,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta terus berkomitmen sebagai kota inklusi yang memberikan perhatian bagi seluruh warganya, termasuk penyandang disabilitas. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Gebyar Disabilitas yang diinisiasi Forum Kecamatan Inklusi (FKI) Kemantren Jetis, Kamis (9/4).
Kegiatan yang berlangsung di Kemantren Jetis ini menghadirkan berbagai layanan, mulai dari skrining kesehatan berupa pemeriksaan tensi darah, gula darah, kesehatan gigi dan mulut, hingga pengukuran berat dan tinggi badan. Selain itu, kegiatan juga diramaikan dengan partisipasi pelaku UMKM dari kalangan disabilitas.
Saat ditemui, Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta, Indrawati, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai Kemantren Jetis menjadi salah satu wilayah yang aktif dalam memfasilitasi pemenuhan hak penyandang disabilitas.
“Luar biasa, karena tidak semua kemantren bisa memfasilitasi lima afirmasi disabilitas yakni kelompok rentan, diantaranya disabilitas, miskin, anak, lansia dan perempuan. Data di Kota Yogyakarta terdapat sekitar 3.089 penyandang disabilitas dan di Kemantren Jetis ada sekitar 293 orang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Peraturan Daerah tentang pemajuan hak disabilitas. layanan pada disabilitas tidak sektoral akan tetapi  integratif berkelanjutan tidak hanya layanan kesehatan, tetapi juga mencakup aspek kewirausahaan, kesejahteraan sosial, serta akses terhadap berbagai layanan publik.
“Ini bentuk pemenuhan hak disabilitas, mulai dari kesehatan, ekonomi melalui UMKM, hingga kesejahteraan sosial. Ke depan kami harapkan teman-teman disabilitas dan keluarganya tidak merasa sendiri, karena pemerintah selalu hadir,” jelasnya.
Lebih lanjut, Indrawati menekankan adanya perubahan paradigma dalam penanganan disabilitas di Kota Yogyakarta. Jika sebelumnya lebih berfokus pada pemberian bantuan, kini diarahkan pada pemberdayaan dan kemandirian.
“Kami ingin mengubah mindset bahwa disabilitas tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki keinginan untuk mandiri, bermartabat, dan mampu menyuarakan pendapat serta mengakses layanan secara luas,” tambahnya.
Sementara itu, Plh Mantri Pamong Praja Kemantren Jetis, May Christianti Sudarmono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, khususnya bagi penyandang disabilitas dan keluarganya.
“Kami hadir untuk saudara-saudara kita yang menjadi bagian dari kehidupan sosial kita semua. Jangan pernah putus semangat, karena kita semua adalah keluarga besar yang saling mendukung,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keluarga yang selama ini mendampingi penyandang disabilitas, serta menyoroti potensi luar biasa yang dimiliki, termasuk dalam bidang seni dan hiburan yang turut ditampilkan dalam acara tersebut.
Salah satu peserta, Eni, mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. Ia merasa terbantu, terutama dengan layanan pemeriksaan kesehatan bagi anaknya yang menyandang autisme.
“Bagus sekali, bisa periksa kesehatan. Anak saya memang memiliki kebutuhan khusus sejak usia dua tahun. Kegiatan seperti ini sangat membantu,” ungkapnya.