Umbulharjo,REDAKSI17.COM -Genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Wakil Wali Kota Wawan Harmawan, berbagai program unggulan yang diusung mulai menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat. Sejak dilantik, duet kepemimpinan ini menitikberatkan pada perubahan pola hidup masyarakat melalui pendekatan rekonstruksi sosial, penguatan gotong royong, hingga peningkatan keamanan lingkungan.
Peringatan satu tahun kepemimpinan tersebut digelar di Taman Budaya Embung Giwangan pada Senin (30/3/2026), yang dihadiri berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto Wardoyo menegaskan bahwa fokus utama kepemimpinannya adalah melakukan rekonstruksi sosial atau “noto urip bareng”, yakni menata kembali kebiasaan hidup masyarakat agar lebih tertib, sehat, dan berkelanjutan.
Menurutnya, perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam membangun kota yang nyaman. Ia mencontohkan perubahan signifikan dalam kebiasaan masyarakat terkait pengelolaan sampah.
“Dulu masyarakat masih sering buang sampah sembarangan atau war wer, sekarang kita ajak untuk mulai memilah sampah dari rumah,” ujar Hasto.
Program edukasi dan pendampingan terkait pemilahan sampah ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong kesadaran lingkungan serta mendukung sistem ekonomi sirkular di Kota Yogyakarta.
Selain rekonstruksi sosial, Hasto juga menekankan pentingnya nilai gotong royong sebagai solusi dalam mengatasi persoalan sosial, termasuk kemiskinan. Salah satu implementasi nyata adalah program bedah rumah yang rutin dilaksanakan setiap minggu.
Menariknya, program ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan murni hasil kolaborasi dan gotong royong masyarakat.
“warga kurang mampu bisa menyelesaikan kemiskinannya dengan gotong royong. Bedah rumah ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan bisa menghadirkan solusi,” jelasnya.
Program tersebut tidak hanya membantu masyarakat kurang mampu mendapatkan hunian layak, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengungkapkan bahwa dirinya bersama Hasto aktif turun langsung ke kampung-kampung melalui kegiatan blusukan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana menyerap aspirasi masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk keteladanan langsung, terutama dalam program pemilahan sampah.
“Kami tidak hanya mengajak, tapi juga memberi contoh” ujar Wawan.
Meski berbagai capaian telah diraih, Hasto-Wawan mengakui masih terdapat pekerjaan rumah ke depan, khususnya dalam mengembangkan Kota Yogyakarta sebagai kota budaya yang produktif secara ekonomi.
Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi budaya agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah memperkuat kalender event serta mengembangkan potensi wilayah berbasis budaya.
“Kota budaya harus produktif. Budaya tidak hanya dilestarikan, tapi juga harus bisa memberikan dampak ekonomi,” ungkapnya.
Dalam rangkaian acara tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok yang berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan dan ekonomi sirkular.
Penghargaan diberikan kepada berbagai pihak, di antaranya Bank Sampah Sekar Arum, pengawas pemilahan sampah seperti Kuat Suparjono, Jade Tri Atmaja, dan Yusran Reta Wibawa, serta Srikandi Pilah Sampah yakni Dian Wijaningrum. Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Bank Sampah Suryo Resik, Pemuda Inovator Lingkungan Satrio Herlambang, serta Jawara Mas JOS Aman Yuriadijaya.
Di akhir acara, Hasto dan Wawan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang telah mendukung berbagai program pembangunan di Kota Yogyakarta selama satu tahun terakhir.
Ia mengungkapkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan perubahan nyata di Kota Yogyakarta.
“Dengan fondasi yang telah dibangun selama satu tahun pertama, kami optimistis dapat terus membawa Kota Yogyakarta menjadi kota yang tidak hanya nyaman dan aman, tetapi juga produktif berbasis budaya dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.




