Ia Adalah Negara yang Belum Selesai Mati
Esai Arkeologi-Spiritual oleh M. Basyir Zubair (Embas)
“Kuburan bukan tempat orang mati. Kuburan adalah tempat orang hidup yang takut lupa.”
Kita datang ke kuburan bukan karena hormat kepada yang mati. Kita datang karena takut. Takut dilupakan. Takut mati tanpa makna. Takut bahwa segala yang kita bangun, nama, jabatan, keturunan, batu nisan, pada akhirnya hanya akan menjadi gundukan tanah yang diinjak kambing.
Itu bukan ziarah. Itu adalah cermin raksasa yang kita hindari sepanjang hidup, dan tiba-tiba kita berdiri persis di depannya.
Aku ke Giriloyo malam Selasa Kliwon. Bukan untuk berdoa. Bukan untuk mencari berkah. Aku datang untuk berdebat dengan tanah, dengan batu, dengan diam.
I. Negara yang Salah Pilih Kuburan
Ada sebuah fakta yang tidak pernah ditulis di papan informasi Giriloyo, tidak diceritakan oleh juru kunci manapun, dan hampir tidak pernah masuk ke esai ziarah manapun.
Sultan Agung hampir dimakamkan di sini. Bukan di Imogiri yang megah itu. Bukan di Pajimatan yang kini menjadi tujuan ziarah raja-raja Jawa. Di sini, di bukit kecil yang sekarang sepi ini, hampir saja menjadi pusat kosmos spiritual kerajaan Mataram Islam.
Bayangkan apa artinya itu secara geopolitik makam. Di mana seorang raja dikubur adalah di mana kekuasaannya digenapi. Di mana rohnya diyakini terus memancar. Di mana rakyat akan datang berduyun-duyun, membawa sesaji, membawa harap, membawa tangis. Di sana akan tumbuh kota peziarah, pedagang, ulama, pelancong. Di sana pusat gravitasi spiritual terbentuk.
Dan Giriloyo hampir menjadi itu semua.
Tapi kemudian Pangeran Juminah, paman sang Sultan meminta tanah ini. Dan Sultan Agung, entah karena hormat, entah karena menghitung ulang, menyerahkannya. Lalu ia membangun Pajimatan, sedikit ke selatan, lebih tinggi, lebih megah. Satu keputusan. Satu percakapan antara keponakan dan paman. Dan nasib Giriloyo berubah selamanya.
Inilah yang tidak pernah kita renungkan ketika berdiri di depan nisan tua: betapa tipis batas antara pusat dan pinggiran, antara dikenang dan dilupakan, antara menjadi tempat ziarah sultan dan menjadi tempat sepi yang atapnya bocor.
Giriloyo adalah tentang kekalahan sejarah yang paling halus: kalah bukan karena perang, tapi karena satu kalimat sopan.
II. Tiga Komplek, Tiga Nasib: Sebuah Taksonomi Kematian
Di lereng bukit Merak ini terdapat tiga pasarean yang jarang dibahas secara komparatif, padahal perbandingannya menusuk:
Pajimatan untuk para raja. Tempat mereka yang memegang takhta, yang namanya terukir dalam babad, yang makamnya dijaga abdi dalem berseragam.
Banyusumurup untuk para musuh. Para pemberontak, para pangeran yang kalah dalam perebutan takhta, para tubuh yang mati di ujung keris. Mereka dikubur terpisah, tapi tetap di bukit yang sama, karena bahkan musuh pun harus berada dalam jangkauan kekuasaan, meski sudah menjadi tulang.
Giriloyo untuk siapa?
Di sini bersemayam mereka yang berada di antara: paman yang mewarisi, menantu yang berkuasa, ibu yang melahirkan raja, permaisuri yang suaminya dimakamkan jauh di Tegal. Giriloyo adalah pasarean para manusia dalam relasi bukan raja, bukan pemberontak, tapi mereka yang hidupnya dimaknai oleh kedekatannya dengan kekuasaan.
Dan inilah yang paling tragis: Kanjeng Ratu Pambayun, permaisuri Amangkurat I, dikubur di sini. Sementara suaminya dimakamkan di Tegal Arum, ratusan kilometer utara. Mereka mati terpisah, dan terpisah pula dalam keabadian.
Apa yang kita panggil ‘pasarean keluarga kerajaan’ sebenarnya adalah peta perpecahan, peta ketegangan, peta dari semua yang tidak bisa dibicarakan ketika sang raja masih hidup.
Batu nisan adalah diplomasi yang terlambat.
III. 65 Nisan dan Satu Pertanyaan yang Tidak Ada Jawabannya
Ada 65 nisan di Giriloyo. Enam puluh lima.
Aku berdiri di antara mereka dan mencoba menghitung: berapa yang tercatat namanya dengan jelas? Berapa yang sudah tidak terbaca aksaranya karena cuaca dan lumut? Berapa yang hanya dikenal sebagai ‘abdi dalem tak bernama’?
Kyai Ageng Giring. Kyai Ageng Gentong. Tumenggung Wiraguna dan istrinya. Pangeran Juminah. Panembahan Giriloyo sang menantu sultan yang juga dikenal sebagai Sunan Cirebon. Kanjeng Ratu Mashadi, ibu kandung Sultan Agung.
Tapi sisanya?
Arkeologi mengajarkan kita bahwa apa yang tidak tercatat sama pentingnya dengan yang tercatat. Siapakah 40, 50 orang yang berbaring di sini tanpa nama yang diketahui khalayak? Mereka bukan raja, bukan panglima terkenal. Tapi mereka dipilih untuk dikubur di bukit yang sama dengan para petinggi Mataram.
Itu berarti mereka penting. Itu berarti ada seseorang yang menentukan: tubuh ini layak berada di sini. Dan kemudian kenangan itu putus. Dari generasi ke generasi, nama mereka semakin samar. Hari ini, wisatawan ziarah melewati nisan mereka tanpa bahkan memperlambat langkah.
Lupa bukan hanya terjadi pada individu. Lupa adalah kebijakan sejarah. Siapa yang memutuskan bahwa kisah Sultan Agung layak diceritakan, sementara abdi dalem yang menjaganya mati dalam anonim? Siapa yang menulis babad, dan siapa yang tidak pernah masuk dalam babad?
Giriloyo mengajukan pertanyaan itu setiap saat. Hanya saja, kebanyakan peziarah terlalu sibuk berdoa untuk mendengarnya.
IV. Tanah Lemparan Sunan Kalijaga: Mitos sebagai Argumen Politik
Konon, tanah di bukit Giriloyo ini adalah tanah yang dilempar oleh Sunan Kalijaga dari Arab, dan jatuh tepat di sini, karena ada magnet gaib yang menariknya.
Ini adalah narasi yang indah. Dan ini adalah narasi yang harus kita baca dengan kepala dingin.
Dalam tradisi Islam Jawa, legitimasi sebuah tempat keramat sering dibangun melalui klaim genealogi spiritual: tempat ini dipilih oleh wali, atau bahkan oleh Tuhan sendiri melalui tanda-tanda gaib. Klaim seperti ini bukan kebohongan, ia adalah bahasa yang digunakan masyarakat pra-modern untuk menyatakan bahwa ‘tempat ini penting, perlakukan dengan hormat.’
Tapi kita perlu tanya: narasi itu muncul kapan? Siapa yang pertama kali mengucapkannya? Dalam konteks apa?
Karena apabila narasi ‘tanah lemparan Sunan Kalijaga’ muncul setelah tempat ini mulai sepi, setelah Pajimatan mengambil alih semua perhatian, maka ia bukan lagi mitos kosmologis. Ia adalah kampanye pemulihan martabat.
Mitos adalah politik yang mengenakan jubah mistik.
Dan tidak ada yang salah dengan itu. Manusia selalu menjaga kenangan dengan cara yang mereka bisa. Tapi sebagai pembaca sejarah, kita harus mampu membedakan mana lapisan yang mana, mana fakta arkeologis, mana tradisi lisan, mana mitos yang dikonstruksi, mana yang tumbuh organik dari bawah.
Giriloyo menyimpan semua lapisan itu. Itulah mengapa ia menarik.
V. Masjid yang Bersinar di Antara Reruntuhan
Aku masuk ke masjid tua di sisi pasarean. Atapnya bertumpang tiga, arsitektur yang berbicara tentang sinkretisme, tentang langit yang dipikirkan berlapis, tentang doa yang naik bertahap sebelum sampai.
Dan masjid ini bersih. Terawat. Beberapa kali direnovasi.
Sementara trap tangga menuju pasarean retak. Gerbang memudar. Pagar kusam. Sebagian nisan mulai miring karena tanahnya bergerak. Ini bukan soal anggaran. Ini soal nilai.
Kita lebih mudah merawat tempat untuk yang hidup, bahkan masjid untuk yang hidup berdoa daripada merawat tempat untuk yang telah pergi. Padahal justru peziarah datang ke sini bukan karena masjidnya, tapi karena nisannya. Mereka datang untuk menghormati yang mati. Tapi yang mati justru semakin tidak dihormati oleh kondisi fisik tempat peristirahatannya.
Ada ironi yang menyakitkan di sana.
Dan ironi itu bukan khas Giriloyo. Ia adalah kondisi hampir semua situs warisan budaya Islam di Jawa: diakui penting secara retorika, tapi dibiarkan lapuk secara nyata.
Aku menunaikan Dhuhur di masjid itu. Membiarkan keheningannya menjadi imam. Dan di dalam sujud terakhirku, aku mendoakan bukan hanya mereka yang di sini, tapi juga semua situs yang sedang sekarat diam-diam di seluruh tanah Jawa, menunggu seseorang yang peduli untuk datang sebelum semuanya runtuh.
VI. Tentang Selasa Kliwon dan Ilmu yang Kita Buang
Mengapa aku datang malam Selasa Kliwon? Bukan karena takhayul. Karena sains belum selesai menjelaskan apa yang terjadi pada kesadaran manusia ketika ia menempatkan dirinya dalam konteks waktu yang bermakna secara kultural.
Selasa Kliwon dalam penanggalan Jawa adalah pertemuan dua siklus: siklus tujuh hari dan siklus lima hari pasaran. Ia berulang setiap 35 hari. Ia bukan sekadar nama hari, ia adalah titik dalam sistem kalender yang paling kompleks yang pernah dihasilkan peradaban Nusantara: kalender Sultan Agungan, yang menggabungkan siklus Saka Hindu dengan siklus Hijriah Islam menjadi satu sistem baru yang belum pernah ada sebelumnya di dunia.
Sultan Agung tidak hanya membangun kerajaan. Ia membangun waktu.
Dan malam Selasa Kliwon di Giriloyo adalah saat ketika banyak peziarah datang, bukan karena percaya hantu, tapi karena mereka mewarisi pengetahuan bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana pikiran manusia lebih mudah tenang, lebih mudah meresapi, lebih mudah terhubung dengan apa yang disebut sebagai ‘dimensi lain’, entah itu spiritual, entah itu alam bawah sadar, entah itu memori kolektif yang tertanam dalam lanskap.
Kita membuang pengetahuan ini terlalu cepat atas nama modernitas. Dan kita kehilangan sesuatu yang belum bisa kita gantikan.
Akhir Kata: Giriloyo Tidak Butuh Dibela
Giriloyo bukan tempat yang perlu kita kasihani. Ia tidak membutuhkan simpati. Ia tidak mengemis perhatian. Ia berdiri, lapuk, retak, sepi dengan martabat yang justru dihasilkan oleh ketidakpedulian zaman.
Tempat yang terlupakan adalah tempat yang belum dikomersialisasi. Tempat yang belum dikomersialisasi adalah tempat yang masih berbicara dengan suara aslinya.
Dan suara asli Giriloyo adalah ini:
Bahwa kekuasaan selalu meninggalkan sisa. Bahwa sisa itu lebih jujur dari kekuasaannya sendiri. Bahwa di antara nama-nama besar yang tercatat dalam babad, ada puluhan nama yang tidak tercatat, dan ketidaktercatatan mereka adalah kritik paling pedas terhadap cara kita menulis sejarah.
Bahwa antara Pajimatan yang megah dan Giriloyo yang sunyi, ada cerita yang lebih dalam: cerita tentang bagaimana kita memilih siapa yang kita kenang, siapa yang kita biarkan lapuk, dan apa yang kita sebut ‘warisan’.
Aku duduk di bawah bulan yang memenuhi langit Giriloyo. Bukan dengan khusyuk. Dengan gelisah. Karena Giriloyo mengajarkan satu hal yang tidak ada di buku sejarah manapun:
Bahwa kematian yang paling pelan bukan ketika tubuh berhenti bernapas. Tapi ketika nama terakhir yang mengingat kita ikut pergi ke dalam tanah.
Yogyakarta · 13 September 2022. Direvisi 12 April 2026
Esai ini adalah bagian dari seri penelitian populer tentang arkeologi Islam di Nusantara.
DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Hasan Muarif. Essai sur l’histoire de l’archéologie islamique en Indonésie. Disertasi tidak diterbitkan. Paris: École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS), 1984.
Babad Tanah Jawi. Teks dan terjemahan. Disunting oleh W.L. Olthof. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1941.
Brandes, J.L.A. Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapĕl en van Majapahit. Batavia: Albrecht & Co. / ‘s-Hage: Martinus Nijhoff, 1920. Ed. kedua.
Carey, Peter. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press, 2007.
De Graaf, H.J. De regering van Sultan Agung, vorst van Mataram 1613–1645, en die van zijn voorganger Panembahan Sĕda-ing-Krapjak 1601–1613. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1958.
De Graaf, H.J. dan Th.G.Th. Pigeaud. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan. Jakarta: Grafiti Pers & KITLV, 1985.
Djajadiningrat, Hoesein. Critisch Overzicht van de in Maleische Werken Vervatte Gegevens over de Geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh. BKI 65, 1911.
Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jilid I–III. Terjemahan Winarsih P. Arifin dkk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama & Forum Jakarta-Paris, 1996.
Munandar, Agus Aris. Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian. Depok: Komunitas Bambu, 2008.
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Terjemahan. Jakarta: Serambi, 2008.
Riyadi, Slamet. Kalender Jawa: Sistem Kalender Sultan Agung dan Perkembangannya. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY, 2002.
Soebardi, S. The Book of Cabolek: A Critical Edition with Introduction, Translation and Notes. The Hague: Martinus Nijhoff, 1975.
Simuh. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1995.
Woodward, Mark R. Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. Tucson: University of Arizona Press, 1989.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kompleks Makam Imogiri: Laporan Pemugaran dan Dokumentasi. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2015.
Rahardjo, Supratikno. Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Depok: Komunitas Bambu, 2011.
Zubair, M. Basyir (Embas). Catatan lapangan ziarah Pasarean Giriloyo. Kotagede–Imogiri, 13 September 2022. Arsip pribadi.





