Home / Ekonomi dan Bisnis / Harga Minyak Mendidih Tembus US$ 100 per Barel!

Harga Minyak Mendidih Tembus US$ 100 per Barel!

Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga nyaris menyentuh angka US$ 110 per barel pada perdagangan Minggu waktu setempat. Lonjakan ini dipicu oleh masih ditutupnya jalur pengiriman di Selat Hormuz akibat perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terbang 20,75% ke angka US$ 109,75 per barel. Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) ini mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 35%. Ini adalah kenaikan tertinggi dalam perdagangan berjangka sejak pertama kali tercatat pada tahun 1983.

Sementara itu, harga minyak Brent juga naik 18,2% ke posisi US$ 109,48 per barel. Sebagai catatan, terakhir kali minyak menembus angka US$ 100 adalah saat awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu.

Presiden AS Donald Trump langsung bereaksi melalui akun Truth Social miliknya tak lama setelah harga menembus US$ 100. Menurutnya, kenaikan harga minyak ini adalah harga yang harus dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran.

“Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” tulis Trump, dikutip dari CNBC International, Senin (9/3/2026).

Tak hanya itu, beberapa negara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) kini dalam kondisi darurat. Produksi di tiga ladang minyak utama selatan milik Irak anjlok hingga 70%. Dari produksi biasanya 4,3 juta barel, kini cuma 1,3 juta barel per hari.

Selain itu, Uni Emirat Arab (UEA) mulai mengerem produksi karena kehabisan gudang penyimpanan (storage). Kuwait, produsen terbesar kelima OPEC ini mulai memangkas produksi secara drastis sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman Iran di jalur laut.

Selat Hormuz saat ini menjadi jalur yang paling dihindari. Padahal, jalur tersebut melayani 20% konsumsi minyak dunia. Para pengusaha tanker enggan melintasinya karena takut menjadi sasaran serangan Iran.

Akibatnya, stok minyak menumpuk karena tak ada kapal yang berani menjemput. Negara-negara Arab di kawasan Teluk pun terpaksa memangkas produksi karena kehabisan ruang penyimpanan.

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan kondisi tersebut akan kembali pulih setelah AS menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker.

“Tidak akan lama lagi Anda akan melihat dimulainya kembali lalu lintas kapal secara reguler melalui Selat Hormuz. Saat ini kondisi memang belum normal dan butuh waktu. Namun, dalam skenario terburuk, ini hanya masalah beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” ujar Wright dalam wawancara dengan CNN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *