Miliaran ton hidrogen bawah tanah telah ditemukan dan itu cukup untuk memasok daya Bumi selama 1.000 tahun
Penemuan hidrogen geologi atau white hydrogen (hidrogen alami) di bawah tanah Bumi menjadi berita besar dalam transisi energi. Menurut studi USGS yang dipimpin Geoffrey Ellis dan Sarah Gelman (diterbitkan di Science Advances Desember 2024), Bumi diperkirakan menyimpan sekitar 6,2 triliun ton (5,6 triliun metrik ton) hidrogen di batuan dan reservoir bawah tanah. Angka ini memiliki rentang luas (dari 1 miliar hingga 10 triliun ton), dengan nilai paling mungkin sekitar 6,2 triliun ton sekitar 26 kali lipat cadangan minyak bumi yang tersisa. Hidrogen ini terbentuk secara alami melalui proses geokimia seperti serpentinization, di mana air bereaksi dengan batuan kaya besi di kedalaman kerak Bumi.
Hidrogen alami ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan hidrogen buatan. Saat digunakan sebagai bahan bakar, ia hanya menghasilkan air sebagai limbah, tanpa emisi karbon dioksida. Energi yang terkandung dalam sebagian kecil cadangan ini setara dengan dua kali lipat seluruh cadangan gas alam terbukti di Bumi. Beberapa laporan viral membulatkan potensinya menjadi cukup untuk memasok kebutuhan energi global selama sekitar 1.000 tahun, meskipun estimasi ilmiah lebih konservatif. Penemuan kecil sudah ada di Mali, Albania, dan beberapa tempat lain, memicu “gold rush” eksplorasi di berbagai negara.
Meski cadangan sangat besar, tantangan utamanya adalah ekstraksi. Sebagian besar hidrogen kemungkinan terlalu dalam, terlalu jauh di lepas pantai, atau berada dalam akumulasi kecil yang tidak ekonomis. Hanya sekitar 2% dari total cadangan (sekitar 124 miliar ton) yang realistis diekstrak, dan itu saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidrogen dunia guna mencapai target net-zero emisi selama sekitar 200 tahun. USGS juga telah merilis peta prospek pertama di Amerika Serikat pada 2025 untuk membantu pencarian lokasi yang potensial.
Penemuan ini membawa harapan besar bagi energi bersih masa depan. Hidrogen geologi bisa menjadi sumber yang jauh lebih murah daripada hidrogen “hijau” dari elektrolisis air menggunakan listrik terbarukan. Meski masih perlu penelitian lebih lanjut tentang teknologi eksplorasi dan risiko lingkungan, temuan ini menunjukkan bahwa Bumi masih menyimpan banyak sumber daya tak terduga untuk mendukung transisi dari bahan bakar fosil. Ini menjadi pengingat bahwa solusi energi berkelanjutan mungkin lebih dekat dari yang kita kira tepat di bawah kaki kita.
Kami penyedia alat kesehatan dan laboratorium,info hub 087849378899





