Iman Rachman/Foto: Andi Hidayat/detikcom
Jakarta,REDAKSI17.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok selama dua hari perdagangan kemarin. Kondisi ini menjadi alasan pengunduran diri Iman Rachman dari Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Jumat (30/1).
Diketahui, IHSG melemah hingga 7,35% ke level 8.320,55 pada perdagangan Rabu (28/1). Pada hari yang sama, IHSG bahkan sempat trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham di sesi II perdagangan.
Langkah trading halt juga diambil BEI setelah IHSG melemah 8% pada sesi I perdagangan Kamis (29/1) kemarin. Meski terjadi trading halt, IHSG kembali menguat di penutupan perdagangan meski masih terkoreksi 1,06% ke level 8.232,20.
“Dua hari terakhir bagaimana kondisi market kita dua hari terakhir, ya walaupun kondisi kita pagi hari ini membaik, saya ingin menyampaikan statement dan ini tidak ada tanya-jawab bahwa saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri,” ujarnya kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Ia berharap, langkah pengunduran diri ini menjadi yang terbaik bagi pasar modal ke depan. Iman berharap IHSG bisa kembali menguat beberapa waktu ke depan.
“Mudah-mudahan indeks kita yang pagi ini membuka membaik, akan terus membaik hari-hari berikutnya,” imbuhnya.
Sentimen IHSG Kemarin
Sebagai informasi, IHSG melemah akibat dua sentimen yakni pengumuman MSCI terkait transparansi free float dan pemangkasan peringkat pasar modal oleh Goldman Sachs. Pengumuman tersebut diumumkan secara beruntun pada Rabu dan Kamis.
MSCI menetapkan sejumlah perubahan indeks review bagi saham Indonesia pada Februari 2026 mendatang. Pertama pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market ke Frontier Market.
Sementara Goldman Sachs diketahui menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi ‘underweight’ dari ‘market weight’. Pemangkasan ini dilakukan menyusul pengumuman MSCI yang menjadi sentimen utama anjloknya IHSG dan aksi jual investor asing.
Goldman Sachs juga memperkirakan net sell IHSG akan mencapai US$ 2,2 miliar menyusul pengumuman MSCI. Pada skenario terburuk, net sell bahkan disebut bisa mencapai US$ 7,8 miliar.
“Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat ini sebagai titik masuk,” kata para ahli strategi Goldman Sachs dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).





