Sebuah konsep ambisius dari seorang mahasiswa mengenai rancangan “insang buatan” mendadak menarik perhatian. Perangkat ini disebut mampu mengekstrak oksigen langsung dari air, sehingga manusia bisa bernapas di bawah permukaan tanpa tabung oksigen. Sekilas, gagasan ini terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah—di mana penyelam bebas bergerak tanpa batasan udara. Tak heran jika banyak orang langsung terpikat oleh kemungkinan revolusioner yang ditawarkannya.
Namun di balik ide yang memukau itu, ada tantangan ilmiah yang tidak sederhana. Air memang mengandung oksigen, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan udara. Untuk memenuhi kebutuhan napas manusia, alat semacam ini harus menyaring oksigen dari volume air yang sangat besar dalam waktu singkat. Artinya, dibutuhkan teknologi yang sangat efisien sekaligus bertenaga tinggi—sesuatu yang hingga kini masih sulit diwujudkan secara praktis.
Perbandingan dengan ikan sering kali muncul dalam diskusi ini. Ikan dapat bernapas di air karena memiliki insang alami yang sangat efisien, sementara tubuh manusia tidak dirancang untuk itu. Paru-paru manusia hanya bisa memproses udara, bukan air. Inilah yang membuat konsep “insang buatan” menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar meniru cara kerja alam.
Meski begitu, gagasan ini tetap membuka ruang imajinasi dan penelitian yang menarik. Dunia sains sering kali berkembang dari ide-ide berani seperti ini, meskipun tidak semuanya langsung berhasil. Untuk saat ini, “insang buatan” masih berada di wilayah konsep, tetapi siapa tahu di masa depan, teknologi ini benar-benar bisa mengubah cara manusia menjelajahi kedalaman laut.
Sumber:
UPI Archives. Artificial gills extract oxygen from water.
Smithsonian Magazine. A student claims to have designed working artificial gills.





