Home / Olahraga / Iran Ancam Pemegang Obligasi-Lembaga Keuangan Biayai Militer AS: Target Sah!

Iran Ancam Pemegang Obligasi-Lembaga Keuangan Biayai Militer AS: Target Sah!

Ilustrasi.Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto

Jakarta,REDAKSI17.COM – Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel kian memanas. Kini, pihak Iran memperluas ancamannya menyasar para pemegang obligasi Treasury AS dan lembaga keuangan yang dianggap membiayai militer negara Paman Sam itu.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Minggu (22/3), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa institusi keuangan yang terkait dengan AS dan memegang obligasi pemerintah Amerika akan menjadi target bersama pangkalan militer.

“Obligasi pemerintah AS berlumuran darah rakyat Iran. Membelinya berarti membeli serangan terhadap markas besar dan aset mereka,” kata Ghalibaf, dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).

“Selain pangkalan militer, entitas keuangan yang membiayai anggaran militer AS adalah target yang sah,” sambung Ghalibaf dalam unggahan tersebut.

Peringatan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Teheran di hari Sabtu (21/3) untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur utama logistik komoditas energi global.

Apabila Selat Hormuz tidak dibuka, Iran terancam menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya. Batas waktu tersebut akan berakhir pada hari Senin malam ini waktu Washington.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan dukungannya terhadap ancaman AS tersebut.

“Apa pun yang kami lakukan, kami lakukan bersama, dan sejauh mungkin, dengan penuh kepercayaan,” ujar Netanyahu.

Berbicara di lokasi serangan rudal Iran di kota selatan Arad, Netanyahu menyerukan para pemimpin dunia untuk bergabung dalam upaya perang, termasuk negara-negara Eropa.

“Mereka memiliki kemampuan untuk mencapai jauh ke Eropa … mereka menargetkan semua pihak,” kata dia.

Sementara itu Iran telah memberikan perlawanan, mengancam akan menutup sepenuhnya jalur air dan menyerang infrastruktur energi serta fasilitas desalinasi di Teluk jika AS menindaklanjuti ultimatumnya.

Ghalibaf memperingatkan bahwa setiap serangan AS atau Israel terhadap pembangkit listrik Iran akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah. Hal ini berpotensi menyebabkan kerusakan yang sulit dipulihkan.

“Infrastruktur penting dan infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target yang sah dan akan hancur secara permanen, dan harga minyak akan naik untuk waktu yang lama,” kata Ghalibaf di X.

Aktivitas militer terus meningkat sepanjang akhir pekan, dengan laporan yang menunjukkan bahwa Israel mengalami aktivitas rudal yang intens, memicu sejumlah peringatan bagi warga untuk berlindung di wilayah Yerusalem dan Israel tengah.

Iran secara efektif menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas kapal sejak AS-Israel melancarkan serangan pada 28 Februari lalu. Konflik Timur Tengah yang meningkat telah mendorong harga minyak naik dalam beberapa pekan terakhir di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan, memicu kekhawatiran inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak mentah berfluktuasi dalam perdagangan yang volatil pada Senin. Brent naik 0,44% menjadi US$ 112,68 per barel pada pukul 22:57 EST, setelah sebelumnya mengalami penurunan. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 0,78% menjadi US$ 99 per barel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *