Teheran,REDAKSI17.COM – Serangan Israel di Lebanon mengancam kemungkinan runtuhnya perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Israel meluncurkan serangan mematikan terhadap Lebanon pada hari Rabu, sehari setelah perjanjian gencatan senjata tercapai antara Washington dan Teheran pada Selasa (7/4/2026).
Pada hari Rabu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan gencatan senjata di Lebanon adalah salah satu syarat penting dalam rencana sepuluh poin Teheran, yang menjadi dasar gencatan senjata dengan Amerika Serikat, menurut Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA).
Pezeshkian menekankan hal tersebut dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
“Penerimaan Iran terhadap gencatan senjata adalah bukti nyata dari rasa tanggung jawabnya dan kemauan tulusnya untuk menyelesaikan konflik melalui proses demokrasi,” kata Pezeshkian menurut laporan AFP, Rabu (8/4/2026).
ISNA mengatakan presiden Iran juga menekankan perlunya gencatan senjata di Lebanon dan mengingatkan bahwa tuntutan ini adalah salah satu syarat dasar dari rencana sepuluh poin Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggambarkan 10 poin tersebut sebagai dasar yang dapat dinegosiasikan dalam pembicaraan antara AS dengan Iran.
Menurut kantor berita tersebut, Pezeshkian juga menekankan pentingnya peran Prancis, sebagai penjamin perjanjian gencatan senjata sebelumnya, dalam konteks saat ini.
“Presiden Iran menyerukan kepada Eropa untuk memainkan peran yang bertanggung jawab dan aktif dalam mendukung stabilitas dan keamanan yang langgeng di kawasan tersebut dan untuk menekan Amerika Serikat dan entitas Zionis (Israel) agar menghormati komitmen mereka dan menghadapi setiap pelanggaran terhadap komitmen tersebut,” lapor ISNA.
Percakapan telepon antara kedua presiden tersebut terjadi setelah dua warga negara Prancis kembali ke negara mereka setelah hampir empat tahun ditahan di Iran.
Cécile Kohler dan Jacques Paris tiba di Paris pada Rabu pagi, sehari setelah meninggalkan Iran tempat mereka ditahan sebelum ditempatkan di bawah tahanan rumah selama hampir empat tahun atas tuduhan spionase.
Pada hari Rabu, Presiden Prancis Macron menekankan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Iran, Pezeshkian, bahwa perjanjian gencatan senjata dengan Iran harus mencakup Lebanon, yang merupakan “prasyarat” agar perjanjian tersebut berkelanjutan.
“Saya menyampaikan harapan saya bahwa semua pihak yang bertikai akan sepenuhnya menghormati gencatan senjata, di semua front perang, termasuk Lebanon. Ini adalah prasyarat agar gencatan senjata ini berkelanjutan,” tulis Macron di platform X, Rabu.
Macron adalah pemimpin Barat pertama yang berbicara dengan presiden Iran sejak gencatan senjata diumumkan Selasa malam, dalam panggilan telepon yang merupakan panggilan keempat mereka sejak perang di Iran dimulai pada 28 Februari.
Presiden Prancis menambahkan bahwa gencatan senjata tersebut harus membuka jalan bagi negosiasi komprehensif untuk menjamin keselamatan semua orang di Timur Tengah.
“Setiap kesepakatan harus membahas kekhawatiran yang ditimbulkan oleh program nuklir dan rudal balistik Iran, serta kebijakan dan tindakan regionalnya yang mengganggu navigasi di Selat Hormuz,” jelasnya, seperti diberitakan Al Arabiya.
Ia menekankan Prancis akan memainkan peran penuhnya, dalam kerja sama erat dengan para mitranya di Timur Tengah dalam membangun perdamaian yang kokoh dan abadi.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan bahwa bernegosiasi dengan Amerika Serikat adalah tidak logis karena adanya “pelanggaran” terhadap rencana sepuluh poin Teheran.
Ia secara khusus mencatat berlanjutnya permusuhan oleh Israel di Lebanon, di mana serangan udara serentak menewaskan sedikitnya 182 orang dan melukai 890 lainnya pada hari Rabu.
Wakil Presiden AS J.D. Vance pada hari Rabu mendesak Iran untuk tidak membiarkan kesepakatan gencatan senjata yang rapuh itu runtuh karena serangan Israel terhadap Lebanon, beberapa hari sebelum ia memimpin pembicaraan dengan Teheran di Pakistan.
“Saya pikir Iran mengira gencatan senjata itu termasuk Lebanon, tetapi sebenarnya tidak. Kami tidak pernah membuat janji itu,” kata J.D. Vance, Rabu.
Pernyataan J.D. Vance disampaikan saat ia meninggalkan Hongaria, negara yang ia kunjungi untuk mendukung kampanye pemilihan Perdana Menteri Viktor Orban.
“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan negosiasi ini dan yang tidak pernah dinyatakan oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, maka pada akhirnya itu adalah pilihan mereka,” kata J.D. Vance kepada wartawan di Hongaria.
Sehari setelah Washington dan Teheran mencapai gencatan senjata selama dua minggu, Israel melancarkan serangan udara paling intensif di Lebanon sejak Hizbullah terlibat dalam perang tersebut pada awal Maret.
Namun, J.D. Vance mengklaim pihak Israel berbicara tentang menahan diri agar negosiasi dengan Iran berhasil.
Wakil Presiden AS menjelaskan Trump mengharapkan Iran untuk memenuhi janjinya membuka Selat Hormuz untuk pengiriman minyak.
“Jika mereka melanggar komitmen mereka dalam kesepakatan ini, mereka akan menghadapi konsekuensi yang sangat serius,” katanya.
J.D. Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS ke perundingan di Pakistan pada hari Sabtu (11/4/2026).
Selain J.D. Vance, delegasi tersebut akan mencakup Utusan Khusus AS Steve Wittkopf dan Jared Kushner, menantu Trump, seperti yang dijelaskan oleh juru bicara Gedung Putih Caroline Leavitt pada konferensi pers.
Namun, Trump kemudian mengatakan J.D. Vance mungkin tidak akan hadir dalam perundingan itu karena alasan keamanan.
Amerika Serikat dan Iran sama-sama menyatakan kemenangan pada hari Rabu setelah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.
Gencatan senjata tersebut didukung oleh Israel, sekutu AS dalam agresinya terhadap Iran, namun menegaskan bahwa itu tidak termasuk Lebanon.
“Ini adalah kemenangan total dan mutlak. 100 persen. Tidak ada keraguan sedikit pun tentang hal itu,” kata Presiden AS Donald Trump kepada AFP melalui telepon tak lama setelah gencatan senjata diumumkan, Rabu.
Ia menegaskan masalah uranium Iran akan diselesaikan sepenuhnya, tetapi menolak berkomentar apakah ia akan mengulangi ancaman sebelumnya untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika kesepakatan itu gagal.
Trump mengisyaratkan China mungkin telah memberikan tekanan pada Iran untuk kembali ke meja perundingan guna mencapai gencatan senjata.
Di pihak Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan kemenangan besar dengan mengumumkan musuh telah menderita kekalahan bersejarah yang tak terbantahkan dan telak.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Aksi militer ini menandai pecahnya konflik baru di kawasan tersebut, hanya dua hari usai putaran ketiga perundingan antara Washington dan Teheran terkait pembatasan program nuklir digelar di Jenewa, Swiss.
Sejak lama, AS dan Israel menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program pengayaan uranium.
Namun, Teheran bersikukuh bahwa program tersebut semata-mata ditujukan untuk kebutuhan energi sipil.
Setidaknya 1.900 orang dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan dan serangan balasan yang menyasar fasilitas militer kedua pihak di berbagai titik di Timur Tengah.
Sebagai respons, Iran menghentikan jalur diplomasi dengan AS dan melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer milik AS dan Israel yang tersebar di negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Situasi kian memburuk ketika Iran memblokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Langkah ini langsung memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran akan krisis energi.
Di tengah tekanan internasional yang meningkat, Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya upaya kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan tercapainya gencatan senjata sementara pada 7 April 2026, yang dimediasi oleh Pakistan.





