Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk mengurangi beban kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi (KSF), salah satunya melalui penataan tata kelola parkir bus pariwisata. Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi pelestarian kawasan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia, sekaligus menjaga keberlanjutan sistem mobilitas dan pariwisata kota.

Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah penyediaan Tempat Khusus Parkir (TKP) baru bagi bus pariwisata, serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD). Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi tekanan langsung kendaraan besar di kawasan inti Sumbu Filosofi seperti Malioboro, Tugu dan sekitarnya.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menyampaikan penetapan Sumbu Filosofi sebagai warisan dunia merupakan capaian strategis yang membanggakan, namun juga membawa konsekuensi besar dalam tata kelola kota.

“Salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, khususnya bus pariwisata. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kelancaran mobilitas, tapi juga berpengaruh terhadap kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata,” terangnya pada Kamis (8/1/2026) di Ruang Yudistira Balai Kota.

Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono.

Dalam konteks itulah, kawasan Yogyakarta bagian selatan dengan pusat di Terminal Giwangan dinilai memiliki posisi yang sangat strategis. Tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi dan pintu masuk kota, namun juga diposisikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Yogyakarta Selatan. Kawasan ini berstatus sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah tahun 2025–2029.

Agus menambahkan, penguatan peran Terminal Giwangan semakin terbuka setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal. Hal ini membuka peluang optimalisasi aset daerah secara terintegrasi.

“Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan pada dasarnya merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Yogyakarta, khususnya untuk mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan dan penguatan struktur ekonomi kota,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penyusunan master plan Kawasan Terminal Giwangan telah dilakukan melalui proses kajian selama lebih dari empat bulan. Proses tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah tingkat kota dan provinsi, pelaku usaha, operator transportasi, pelaku pariwisata, hingga kalangan akademisi.

Expose Meeting Pengembangan Terminal Giwangan.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah mengurangi tekanan kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi. Menurutnya, pengembangan destinasi wisata baru penting, namun dalam konteks kebijakan transportasi, prioritasnya adalah pengendalian beban lalu lintas di kawasan warisan dunia.

“Kalau fokus kita adalah mengurangi beban di Sumbu Filosofi, maka langkah-langkahnya harus konkret ke arah sana. Yang pertama, tekanannya harus berkurang. Kalau tekanannya berkurang, otomatis bus tidak masuk ke kawasan inti,” tegas Hasto.

Ia mencontohkan kawasan Senopati yang selama ini menjadi salah satu titik tekanan akibat parkir dan aktivitas bus pariwisata. Menurutnya, penataan kawasan tersebut harus dimulai dengan mengurangi beban kendaraan terlebih dahulu.

“Kita kondisikan Senopati supaya lebih baik dan tidak seperti sekarang. Langkah pertamanya ya bebannya dikurangi dulu. Setelah itu baru kita cari solusi lanjutan,” ujarnya.

Hasto juga menekankan pentingnya perhitungan kapasitas dan skenario pengalihan bus secara realistis, baik pada hari biasa maupun saat musim puncak kunjungan wisata.

“Kita hitung dulu kapasitas yang ada, berapa bus per hari, hari biasa dan peak season. Setelah itu baru kita tentukan dialihkan ke mana. Pemikirannya dibalik, ini dibutuhkan atau tidak. Kalau dibutuhkan, bagaimana skenarionya,” jelasnya.

Dalam membangun sistem transportasi kota, Hasto menekankan prinsip bertahap namun visioner.

“Kita mulai dari yang bisa dijangkau sekarang, start small, act now, think big. Kita susun kerangka besar sistem transportasi Kota Yogyakarta yang ideal, supaya tidak tambal sulam dan tidak kontraproduktif dengan pembangunan ke depan,” katanya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Akademisi Fakultas Teknik UGM, Muhammad Sani Roychansyah, yang menyebut bahwa kajian pengendalian dan pengurangan beban di Sumbu Filosofi sejatinya telah berlangsung hampir satu dekade.

“Dalam konteks yang baru, terutama setelah penetapan UNESCO, pengurangan beban dan pengendalian Sumbu Filosofi menjadi semakin relevan dan perlu percepatan dalam realisasinya,” ungkapnya.

Melalui penataan parkir bus pariwisata, penyediaan TKP baru, serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan TOD, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap mampu menjaga kelestarian Sumbu Filosofi sekaligus membangun sistem mobilitas dan pariwisata kota yang lebih tertata, berimbang, dan berkelanjutan.