Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pada Upacara Peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara (HPKN) 2026, Minggu (01/03) di Stadion Mandala Krida Yogykarta, ada yang unik dan berbeda. Seluruh peserta tampak mengenakan kalung berupa janur kuning di leher.
Bukan sekadar hiasan, ada makna yang begitu dalam dari dikenakannya janur kuning tersebut. Hal ini karena HPKN sangat identik dengan janur kuning. HPKN sendiri lahir dari peristiwa penting di DIY, yaitu Serangan Umum 1 Maret.
Peristiwa yang terjadi di tahun 1949 ini merupakan pembuktian kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih eksis dan berdaulat. Di tengah keterbatasan seragam militer saat itu, janur kuning menjadi atribut krusial yang dipasang sebagai tanda pengenal agar antar sesama pasukan agar tidak salah mengenali lawan dalam riuhnya pertempuran.
Penggunaan janur kuning sebagai atribut upacara tahun ini pun mendapat kesan mendalam dari para peserta. Hanny Ulqia dari Dispertaru DIY mengungkapkan bahwa upacara ini merupakan momen penting untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam serangan 1 Maret.
“Biasanya kan gak ada, ini kayaknya baru pertama kali ya pakai janur kuning sebagai kalung. Ini sebagai simbolis untuk memperingati karena waktu itu sebagai Operasi Janur Kuning,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ziven, seorang anggota Paskibra, memaknai penggunaan atribut ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Menurutnya, janur kuning adalah simbol dari operasi besar yang terjadi di Yogyakarta.
“Dulu pada saat serangan 1 Maret itu terdapat operasi namanya juga Janur Kuning, maka dari itu disimbolkan kembali sebagai bentuk penghormatan,” jelas Ziven.
Identitas Janur Kuning juga melekat erat dengan kepemimpinan di lapangan. Wahyu N. dari BPKP DIY mengingatkan kembali bahwa Serangan Umum 1 Maret dipimpin oleh pasukan Janur Kuning. “Serangan ini dipimpin oleh pasukan yang namanya Janur Kuning, dan itu dipimpin oleh Pak Komar (Letnan Komarudin),” tuturnya.
Usai upacara, peserta disuguhi dengan aksi teatrikal Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. Gubernur DIY beserta jajaran Forkopimda dan Kepala OPD tampak juga ikut menyaksikan aksi teatrikal bertajuk “Ada Asa 6 Jam di Jogjakarta”, yang memukau tersebut.
Sejarah mempertahankan kedaulatan tersebut kembali dihidupkan lewat kolaborasi lintas seniman masyarakat Jogja, mulai dari penari hingga anak-anak dari Art for Children (AFC) Taman Budaya Yogyakarta. Tejo, salah satu seniman yang terlibat, menjelaskan bahwa janur kuning adalah tanda pengenal bagi para pejuang kala itu.
“Kalau zaman sekarang ini ID Card atau password. Pada waktu itu, janur adalah benda yang paling mudah didapatkan,” ungkap Tejo.
Ia menambahkan bahwa penggunaan janur kuning sangat penting bagi para pejuang yang bergerak secara undercover, seperti para ‘Simbok’ penjual di pasar, agar bisa membedakan mana kawan dan mana lawan saat penyerangan dimulai.
Tejo juga menekankan bahwa perannya dalam teatrikal tersebut mewakili sosok pahlawan tidak dikenal. “Banyak sekali mereka yang tidak bernama dalam tanda kutip; mereka punya nama tapi tidak diketahui. Peran saya adalah simbol bahwa yang melawan tidak hanya yang muda, yang tua pun ikut berjuang hingga gugur sebagai pahlawan tidak dikenal,” tambahnya khidmat.
Kalung janur kuning yang melingkar di leher para peserta upacara hari ini bukan lagi sekadar pembeda pasukan. Ini adalah simbol persatuan dan penghormatan atas asa yang sempat dianggap mustahil, namun akhirnya menjadi kedaulatan yang nyata kita rasakan hingga saat ini.
Humas Pemda DIY




