Mergangsan,REDAKSI17.COM – Pada Februari 2026, Kota Yogyakarta mengalami inflasi year on year sebesar 5,19 persen dan secara bulanan inflasi tercatat 0,72 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) hingga Februari mencapai 0,58 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menyampaikan inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
“Terkait inflasi, yang pertama, inflasi itu tidak lepas juga dari tren musiman pola masyarakat. Di bulan Februari ini sudah masuk Ramadan, artinya pola konsumsi kadang berubah. Apalagi di bulan Maret nanti selain Ramadan juga ada hari raya,” ujarnya pada Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, pada Februari tahun lalu Ramadan belum berlangsung penuh sehingga dampaknya terhadap pola konsumsi belum terlalu terlihat. Namun tahun ini, perubahan pola konsumsi masyarakat sudah mulai terasa sejak Februari.
“Di bulan Februari ini memang sudah ada perubahan pola konsumsi masyarakat terkait menyambut datangnya Ramadan,” jelasnya.
Menurut Joko, kenaikan harga komoditas seperti cabai rawit umumnya dipengaruhi dua faktor utama, yakni peningkatan permintaan atau keterbatasan pasokan.
“Kalau kenaikan harga itu ada dua hal. Yang pertama karena meningkatnya permintaan di pasar, maupun karena suplai yang kurang. Di bulan Ramadan ini kemungkinan dari sisi permintaannya yang meningkat,” terangnya.
Ia menambahkan, inflasi dihitung berdasarkan perubahan harga dibandingkan bulan sebelumnya, bukan semata-mata karena harga tinggi.
“Yang terjadi inflasi itu pembandingan harga, bukan tingginya harga tapi perubahannya. Kalau bulan ini sudah naik, lalu bulan depan harganya tetap, berarti tidak terjadi inflasi,” tegasnya.
Selain komoditas pangan, emas perhiasan juga menjadi penyumbang signifikan inflasi Februari. Secara month to month, emas memberikan andil 0,28 persen, sedangkan secara year on year kontribusinya mencapai 1,58 persen.
“Emas itu bukan sekadar dari pola konsumsi masyarakat, tapi juga pengaruh global. Kalau harga emas dunia naik, tentu akan berpengaruh juga,” pungkasnya.
Di sisi lain Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo belum lama ini menyatakan pasokan pangan akan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga idulfitri. Pemkot juga berkomitmen untuk menjaga pasokan dan harga pangan agar tetap stabil dan terjangkau.
“Jangan sampai cukup tapi harganya naik. Cukup tapi mahal berarti tidak bisa diakses masyarakat. Maka fokus kita adalah mengendalikan harga,” katanya, menyoroti pentingnya stabilitas harga di tengah momentum tinggi konsumsi masyarakat.



