Kapolri Jenderal Listyo Sigit menghadiri kirab HUT ke-80 Sultan HB X di Jogja, Kamis (2/4/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Kapolri Jendral Listyo Sigit Probowo menghadiri Kirab memperingati hari ulang tahun ke-80 Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kagungan Dalem Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, hari ini.
Pantauan detikJogja, Listyo tampak tiba di Pagelaran sekitar pukul 9.00 WIB. Ia mengenakan batik bernuansa cokelat berlengan panjang. Listyo kemudian duduk di samping putri sulung Sultan, GKR Mangkubumi.
Sultan kemudian menyempatkan waktu di sela sambutannya ke kirab lurah-pamong untuk menghampiri dan menyalami Listyo. Setelahnya Listyo tampak khidmat menyimak rangkaian acara.
Acara kirab lurah-pamong se DIY dalam rangka mangayubagyo ulang tahun Sultan masih berlangsung. Rombongan kirab per kalurahan silih berganti menghadap Sultan untuk memberi salam.
Dimulai dari rombongan Kota Jogja yang membawa buah tangan atau gelondong pangarem-arem berupa hasil UMKM. Kemudian rombongan dari Kabupaten Sleman yang membawa hasil bumi berupa buah dan sayur.
Berlanjut ke Kabupaten Bantul yang turut membawa hasil bumi seperti bawang hingga padi. Kemudian Kabupaten Kulon Progo yang turut membawa hasil bumi. Terakhir dari Kabupaten Gunungkidul yang membawa hasil bumi dan kerajinan UMKM.
Seluruh Gelondong Pangarem-arem pun diterima abdi dalem di pintu keluar untuk dikumpulkan jadi satu.
Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang bilang masing-masing kalurahan membawa Gelondong Pangarem-arem berupa hasil bumi yang dihasilkan tiap kalurahan.
“Berdasarkan potensi di daerah masing-masing, kalau Kulon Progo punya durian ya bawa durian, yang dekat pesisir bawa kelapa ya monggo, yang penting tidak memberatkan,” paparnya dalam jumpa pers di kantor Nayantaka, Senin (30/3) sore.
“Mungkin dari teman-teman Gunungkidul bawa ketela, ya nggak apa-apa, apa yang dipunya, nggak harus semua sama,” sambungnya.
Gandang menyatakan pihaknya tidak mewajibkan Gelondong Pangarem-arem khusus untuk dibawa. Semua bergantung pada potensi daerah masing-masing.
“Ucapan terimakasih karena selama ini kalurahan sudah bisa menggunakan tanah miliknya Keraton, yang juga merupakan PAD tiap kalurahan. Nah dari situ kami ingin menghaturkan sebagian kecil hasil dari tanah-tanah itu,” ujarnya.





