Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Warga Kampung Miliran, Kelurahan Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta menggelar Kirab Budaya Ruwahan bertajuk “Ngampem Bareng” lintas agama, sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa sekaligus penguatan nilai toleransi antarumat beragama. Kegiatan ini digelar di kawasan Lahan Laudatosi, Minggu (28/2/2026).

Kirab budaya ini merupakan agenda tahunan yang telah diselenggarakan untuk ketiga kalinya. Tradisi ruwahan sendiri merupakan budaya masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadan, sebagai bentuk doa bersama, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, serta sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Herry Santoso Wibowo, mengatakan bahwa “Ngampem Bareng” tidak hanya dimaksudkan sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai media pemersatu masyarakat yang majemuk.

“Acara ini kami selenggarakan untuk melestarikan budaya Jawa, sekaligus memperkuat persaudaraan antarumat beragama. Ini juga menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan,” ujar Herry.

Ia menjelaskan yang membedakan kegiatan ini dengan tradisi ruwahan pada umumnya adalah konsep pluralisme dalam toleransi. Acara tidak hanya diikuti oleh umat Muslim yang akan memasuki bulan puasa, tetapi juga dimeriahkan oleh umat beragama lainnya.

“Kampung Miliran sendiri dikenal sebagai kampung dengan masyarakat yang sangat majemuk. Di wilayah ini hidup berdampingan pemeluk agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, hingga Konghucu. Keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan utama dalam membangun kehidupan sosial yang rukun dan harmonis,” bebernya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan saat hadir dalam kegiatan tersebut .Ia menambahkan, kirab ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal mampu berjalan seiring dengan semangat toleransi dan pluralisme di tengah masyarakat.

Dalam kirab tersebut, ditampilkan Gunungan Apem raksasa yang menjadi simbol utama tradisi ruwahan. Gunungan tersebut dikawal oleh Bregada ‘Wira Praja Manggala’, serta diikuti oleh peserta karnaval dari warga Kampung Miliran yang mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebelum gunungan dibagikan kepada masyarakat, prosesi doa dilakukan secara lintas agama, melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai keyakinan. Doa bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan harmoni, bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling mendoakan dan menjaga persatuan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi tinggi kepada warga Kampung Miliran atas inisiatif dan konsistensinya dalam menjaga tradisi.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan sarana untuk menggali potensi budaya dan pariwisata, sekaligus melestarikan budaya Jawa dan menjadi sarana syiar agama. Yang terpenting, ini memperlihatkan wajah Yogyakarta sebagai kota yang toleran dan berbudaya,” kata Wawan.

Ia menilai, Kirab Budaya Ruwahan “Ngampem Bareng” juga menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antarwarga, merawat tradisi leluhur atau nguri-uri kabudayan, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal yang menjadi kekayaan Yogyakarta.

Ia menjelaskan masyarakat Kampung Miliran bahkan dikenal sebagai salah satu contoh Kampung Rukun Beragama di Kota Yogyakarta, karena warganya mampu menjaga toleransi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan sosial dan budaya.

Pemerintah Kota Yogyakarta pun menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan seperti Kirab Ruwahan “Ngampem Bareng”.

Menurut Wawan, budaya lokal perlu terus dirawat agar tidak tergeser oleh arus modernisasi yang berpotensi mengikis nilai-nilai kearifan lokal.

Ia juga berharap, generasi muda dapat terlibat aktif dalam kegiatan semacam ini, tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku dan penggerak.

“Ketika anak-anak muda mau belajar, ikut tampil, bahkan menjadi bagian dari tim kreatif penyelenggaraan budaya, maka warisan budaya akan tetap hidup dan berkembang secara dinamis,” pungkasnya.