Kedua kubu tersebut menggelar kirab malam Selikuran dengan rute yang berbeda.
Kubu Pakubuwono XIV Hangabehi memulai kirab dengan rute dari Kori Kamandungan Keraton Solo, mengitari kawasan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon lalu berakhir di Masjid Agung Solo.
Sementara itu, kubu Pakubuwono XIV Purboyo memulai kirabnya dari Keraton Solo ke arah Alun-alun Utara, dilanjutkan melewati Jalan Slamet Riyadi, dan berakhir di kawasan Taman Sriwedari, yang kemudian dilanjut dengan agenda pengajian.
Dari kubu Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo atau kubu Pakubuwono XIV Hangabehi Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo KPH Eddy Wirabhumi mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk bertemu dengan Lailatul Qadar.
“Kita ini berharap di dalam menjalankan ibadah ini nanti ketemu Lailatul Qadar,” ujar Eddy.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa tumpeng sewu dibagikan kepada para peserta yang hadir dalam perayaan malam Selikuran, sementara sebagian lainnya akan dibagikan kepada masyarakat.
Pengageng Parentah Keraton Solo, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo menjelaskan bahwa malam Selikur dimaknai sebagai momen turunnya Lailatul Qadar. Dalam budaya Jawa, hal itu disimbolkan melalui Tumpeng Sewu yang melambangkan malam seribu bulan dan dibagikan kepada Masyarakat. Ia juga mengatakan bahwa tradisi malam Selikuran sebagai bentuk tanda syukur.
“Jadi ini sebagai tanda syukur bahwa kita memasuki sepertiga terakhir dari bulan Ramadan,” kata KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo.
Diketahui bahwa di tengah berlangsungnya acara pada Kawasan Keraton Solo sempat mengalami pemadaman listrik yang disebabkan oleh ledakan trafo di area luar keraton. Meskipun begitu, jalannya upacara adat tetap dilanjutkan.
Malam Selikuran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang diyakini telah ada sejak era Wali Songo, tradisi ini berkaitan dengan awal sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadan yang dipercayai sebagai waktu untuk mencari Lailatul Qadar. Istilah selikuran berasal dari kata “selikur” yang merupakan arti dari angka dua puluh satu.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, peringatan malam selikuran sering diisi dengan kegiatan keagamaan seperti doa bersama, pengajian, tadarus Al-Quran, hingga salat malam berjamaah. Di beberapa daerah, masyarakat juga mengadakan kenduri atau makan bersama setelah doa selesai sebagai bentuk kebersamaan.
Selain sebagai bentuk ibadah malam Selikuran juga menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. Kegiatan seperti doa bersama, kirab budaya seperti yang dilakukan Keraton Surakarta, hingga berbagi makanan mencerminkan nilai kebersamaan.





