MAKASSAR,REDAKSI17.COM – Partai Persatuan Pembangunan Sulawesi Selatan akan dipimpin oleh anak muda. Tim formatur yang terbentuk dari hasil musyawarah wilayah sepakat mengajukan Ilham Ari Fauzi Amir Uskara untuk mengendalikan partai berlambang Ka’bah tersebut di daerah ini. Meski baru berusia 27 tahun, namun putra senior PPP, Amir Uskara (Aura) ini diyakini bisa membawa perubahan besar bagi partai tersebut.
Tim Formatur Pembentukan Pengurus DPW PPP Sulsel telah menyerahkan hasil kepada DPP PPP. Ilham Ari Fauzi Amir diusulkan menjadi Ketua DPW PPP Sulsel, menggantikan Imam Fauzan Amir Uskara, yang tak lain merupakan kakak kandungnya.
Salah seorang formatur, Andi Sugiarti Mangun Karim mengungkap alasan Ilham Ari yang dipilih untuk diusulkan menjadi ketua PPP Sulsel. Menurut dia, aspirasi dari seluruh pengurus DPC PPP di 24 kabupaten/kota, menginginkan mantan calon wakil wali kota Makassar tersebut.
“Pertimbangannya jelas. Ilham disuarakan oleh 24 DPC kabupaten/kota. Tidak ada figur lain yang diusulkan, sehingga formatur tidak memiliki pilihan lain untuk posisi ketua,” ujar ketua PPP Bantaeng itu, Rabu (28/1/2026).
Sugiarti mengatakan, struktur kepengurusan DPW PPP Sulsel yang dibentuk berjumlah total 35 orang. Struktur tersebut disusun sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, yakni maksimal 35 orang pengurus DPW PPP Sulsel.
Menurut Sugiarti, tim formatur telah menyerahkan usulan struktur kepengurusan tersebut kepada Ketua Umum DPP PPP, Mardiono, di Jakarta, pada 21 Januari 2026 lalu.
“Hasil kerja formatur sudah kami laporkan ke DPP. Format struktur kepengurusan juga sudah kami serahkan ke DPP dan itu sudah lengkap,” tutur legislator DPRD Sulsel tersebut.
Untuk posisi jabatan sekretaris dan bendahara, ada perubahan dari struktur kepengurusan sebelumnya. Nursyam Amin yang sebelumnya menjabat ketua PPP Gowa, didaulat menjadi sekretaris PPP Sulsel. Sedangkan, sekretaris sebelumnya, Nur Amal, digeser jabatannya menjadi bendahara PPP Sulsel.
“Selain itu, struktur dilengkapi dengan tiga wakil ketua bidang OKK dan tiga wakil ketua bidang strategis, serta wakil ketua bidang lainnya,” imbuh dia.
Meski belum resmi mendapatkan surat keputusan, dari DPP PPP, Andi Sugiarti menyatakan, struktur kepengurusan yang diusulkan oleh tim formatur tidak akan berubah.
“Resminya kami sudah menyerahkan ke DPP, tetapi SK dari DPP memang belum keluar. Namun, insyaallah susunannya tidak akan berubah,” kata dia.
Andi Sugiarti menyatakan, pascakeluarnya putusan resmi DPP, seluruh pengurus DPW PPP Sulsel akan terlebih dahulu menggelar rapat konsolidasi.
“Setelah itu, kami akan melaksanakan musyawarah kerja wilayah (muskerwil) untuk menetapkan program kerja dan persiapan untuk menggelar musda untuk kabupaten/kota,” ucap dia.
Salah satu agenda yang akan dibahas, lanjut Andi Sugiarti, yakni persiapan gelaran Mukernas PPP di Makasar.
“Namun sebelum itu, ada rencana dari DPP untuk menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Makassar. Tapi ini belum final, masih sebatas informasi yang kami terima dari DPP. Jika Sulawesi Selatan siap, kemungkinan besar mukernas akan ditempatkan di Makassar,” imbuh Andi Sugiarti.
Andi Sugiarti mengungkap, ada pesan khusus yang disampaikan oleh Ketua Umum DPP PPP, Mardiono kepada calon pengurus DPW PPP Sulsel. Ia berharap, seluruh kader PPP di Sulsel yang tidak masuk dari struktur kepengurusan untuk tetap diberdayakan.
“Pesan DPP agar kami memahami bahwa sesuai ketentuan KPU, jumlah pengurus yang bisa didaftarkan hanya 35 orang. Tidak mungkin semua kader masuk dalam struktur inti. Karena itu, kader yang tidak terakomodasi akan ditempatkan di majelis-majelis partai serta lembaga-lembaga partai, seperti lembaga hukum dan lembaga pemenangan,” papar dia.
Sementara itu, Ketua DPC PPP Wajo, Sufriadi Arif berharap, kepengurusan DPW PPP Sulsel mendatang akan lebih solid lagi. Ia pun bertekad, untuk lebih memassifkan lagi kerja-kerja kepartaian kader agar misi kembali Senayan bisa diwujudkan pada Pemilu 2029 mendatang.
“Insyaallah PPP akan kembali mendapat tempatnya di DPR RI pada Pemilu 2029 mendatang. Dengan konsolidasi kader yang intens dan massif di bawah kepemimpinan Pak Ketua Umum (Mardiono), kami yakin PPP akan kembali berjaya lagi,” jelas Wakil Ketua DPRD Sulsel itu.
Dia yakin, PPP Sulsel akan kembali menjadi barometer untuk PPP se-Indonesia dengan menjadi penyumbang suara dalam perolehan Pemilu 2029.
“Solidaritas kader PPP di Sulsel sudah terjaga dan terawat dengan baik. Tentunya kami ingin terus membawa PPP lebih jauh besar dan berdampak lagi untuk masyarakat Sulawesi Selatan,” kata dia.
Meski bakal mulus memimpin PPP Sulsel, kapasitas kepemimpinan Ilham Ari tetap menuai sorotan. Sosok yang terbilang muda ini dinilai minim pengalaman di panggung politik.
Pengamat politik dari Universitas Bosowa, Arif Wicaksono menuturkan secara personal tak jadi soal sebab setiap orang memiliki hak yang sama dalam ruang politik. Termasuk memimpin PPP, sebagai salah satu partai tua berbasis Islam.
“Sebetulnya itu hak dia sebagai individu, hak warga negara untuk terlibat langsung dalam politik. Tidak apa-apa memimpin partai politik yang cukup tua. PPP itu kan partai tua sama dengan Golkar, sejak zaman Orde Baru,” kata Arif.
Hanya saja, kata Arif, terkait kualitas kepemimpinan Ilham Ari masih perlu diperdebatkan, walaupun lahir dan besar di keluarga politik. Ayahnya, Amir Uskara merupakan mantan anggota DPR RI, juga mantan ketua PPP Sulsel dan terakhir menjabat sebagai wakil ketua DPP PPP.
Begitu juga kakaknya, Imam Fauzan Amir Uskara, mantan anggota DPRD Sulsel sekaligus ketua PPP Sulsel dan sekarang ini ditarik ke DPP PPP sebagai bendahara umum.
Menurut Arif, modal tersebut tidak bisa dijadikan jaminan bahwa dia benar-benar matang dan mampu memimpin partai. Termasuk, modal Ilham Ari pernah maju di Pilwali Makassar mendampingi Indira Yusuf Ismail namun gagal terpilih.
“Karena ini sudah seperti turun temurun, dari ayah, ke kakak, habis itu ke adik lagi. Kan, pertanyaanya adalah apakah dengan model seperti itu PPP bisa kembali (bangkit), paling tidak bagaimana caranya bisa mendapatkan kursi yang cukup untuk bisa maju di pemilihan legislatif kedepannya,” ujar Arif.
“Itu yang jadi tantangan sebetulnya, apakah anak muda seperti Ilham Ari bisa memimpin partai sebesar PPP Sulsel. Ini masih dipertanyakan, apakah kemampuannya bisa itu (mumpuni),” tutur dia.
Dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bosowa itu menuturkan bahwa modal anak muda atau generasi Z diberi tanggung jawab besar sebagai pimpinan partai politik harus dikaji ulang, utamanya pada level tertentu. Sebagaimana diketahui, Ilham Ari masih cukup muda dalam panggung politik.
“Tapi apakah generasi milenial atau generasi Z itu punya konsep atau punya pengertian yang sama dengan generasi-generasi sebelumnya terhadap politik. Dalam berbagai survei, generasi ini milenial atau generasi Z cenderung abai terhadap politik. Jadi belum bisa diandalkan sebetulnya untuk bisa meraup suara anak muda sebanyak-banyaknya untuk secara masif terlibat dalam politik,” ujar Arif.
Dia mencontohkan, Partai PSI yang didesain modern untuk anak muda tanpa embel-embel keagamaan maupun ideologi tertentu pun masih gagal dalam menghadapi Pemilu 2024 lalu. Alasan itulah, menurut Arif, kendala utama anak muda dalam menjalankan organisasi partai politik masih perlu dipertimbangkan. Termasuk PPP Sulsel ke depannya jika kursi pimpinannya diserahkan pada Ilham Ari.
“Makanya perlu dikaji kembali para tim pakarnya yang ada di PPP Sulsel itu, apakah dengan majunya tokoh yang masih anak muda ini punya kontribusi dalam mengangkat citra maupun kursinya PPP di kontestasi politik mendatang. Belum ada contohnya bahwa partai politik yang dipimpin anak muda seperti dia itu kemudian berhasil mengambil suara anak muda juga, PSI saja, kan, gagal pada 2024,” ujar dia.
“Sekarang PSI Sulsel sekarang ketuanya anak muda, tapi, kan, isinya orang-orang yang sudah matang semua dalam berpolitik. Nah, sekarang di PPP Sulsel seperti apa? Apakah mereka juga memiliki kecenderungan yang sama atau seperti apa, itu juga perlu dikaji atau dipertanyakan,” sambung Arif.
Menurut Arif, penjajakan calon ketua PPP Sulsel ke depan sebaiknya diberi kebebasan tanpa intervensi dan embel-embel kelompok tertentu agar menghadirkan sosok yang benar-benar berkualitas dalam melanjutkan estafet kepemimpinan partai. Dia juga bilang, jika nantinya kursi ketua PPP Sulsel benar jatuh ke tangan Ilham Ari, penilaian publik terhadap partai tersebut bisa terkesan negatif. Sebab cenderung dianggap kepempimpinan dinasti, dari orang tua turun ke anak-anaknya.
Arif mengatakan bahwa partai politik itu sejatinya lahir untuk kepentingan masyarakat, sekaligus jadi ruang pendidikan politik dan demokratis.




