Home / Daerah / Kopi Trajumas: Menghidupkan Warisan, Menyeduh Harapan

Kopi Trajumas: Menghidupkan Warisan, Menyeduh Harapan

Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Pegunungan Menoreh tak hanya menawarkan bentang alam yang memukau. Dari lereng-lereng hijau di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu, tumbuh semangat kolektif anak-anak muda desa yang berupaya menghidupkan kembali kejayaan kopi Jawa warisan masa lalu. Dari sanalah Kopi Trajumas lahir, sebuah ikhtiar yang menautkan sejarah, alam, dan kesejahteraan masyarakat.

Trajumas merupakan akronim dari Timbangan Emas, filosofi keseimbangan antara manusia dan alam. Kopi ini digagas Agustinus Sulistyo, atau akrab disapa Tio, pemuda Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo, yang memilih pulang ke desa setelah hampir satu dekade merantau di kota. Bersama empat pemuda desa lainnya, Tio memulai riset kecil-kecilan pada 30 November 2019.

Berbagai tanaman diteliti hingga sebuah temuan sederhana membuka mata mereka. Batang kopi yang selama ini digunakan warga sebagai pagar bambu ternyata masih hidup dan berbuah. Dari situ, mereka menelusuri sejarah dan menemukan bahwa kopi telah lama tumbuh di Menoreh sejak masa tanam paksa kolonial Belanda, dikenal dengan sebutan kopi Londo.

Pada 2021, gerakan ini menjelma menjadi aksi nyata. Secara swadaya, masyarakat menanam sekitar 12.000 batang kopi. Langkah tersebut mendapat respons positif dari Kalurahan Pagerharjo. Legalitas pun diperkuat melalui pembentukan Kelompok Tani Tarunatani Asta Brata sebagai wadah formal pengembangan kopi rakyat.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Daerah DIY melalui Paniradya Keistimewaan, sejalan dengan kebijakan Satuan Ruang Strategis Keistimewaan (SRSK) yang menetapkan Pegunungan Menoreh sebagai kawasan prioritas pembangunan berbasis kekhasan lokal. Melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan, kelompok tani memperoleh pupuk dan 7.800 bibit kopi setelah legalitas terbentuk.

Bantuan tersebut mempercepat produktivitas tanaman. Pada 2025, dukungan kembali diperkuat dengan penambahan 20.000 bibit kopi sekaligus fasilitas rumah produksi kopi.
“Kopi Trajumas tumbuh dari riset dan kesadaran sejarah. Kami mengembalikan kopi pada kulturnya. Dari pertanian, pascapanen, pengolahan hingga penyajian, semua melibatkan masyarakat,” jelas Pengelola Trajumas Java Coffee, Sri Herdani.

Saat ini, Kelompok Tani Asta Brata mengelola kopi Arabika dan Robusta, dengan Robusta sebagai produk unggulan karena kesesuaian ketinggian wilayah Menoreh. Proses produksi dilakukan bersama Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal), mulai dari pengupasan, penjemuran, roasting, hingga penyajian.
“Danais sangat luar biasa perannya dalam pemberdayaan masyarakat. Bantuan ini benar-benar memberi dampak bagi petani dan perekonomian desa,” tandasnya.

Satu pohon kopi diperkirakan mampu menghasilkan 10–11 kilogram per tahun. Jika seorang petani menanam sekitar 2.000 batang, potensi pendapatan bisa mencapai Rp120 juta per tahun atau sekitar Rp10 juta per bulan. Sejak 2019 hingga kini, sekitar 123 petani telah merasakan manfaat ekonomi dari Kopi Trajumas. Selain meningkatkan pendapatan petani, kegiatan ini juga menyerap tenaga kerja lokal di sektor pengolahan dan pengemasan.

“Lebih dari sekadar komoditas, Kopi Trajumas diharapkan menjadi jalan menuju Sugih Bareng atau kaya bersama. Budidaya kopi juga diproyeksikan terintegrasi dengan wisata berbasis alam dan budaya di Pegunungan Menoreh. Pemberdayaan masyarakat dan gotong royong menjadi prinsip utama kami,” ungkap Sri Herdani.

Lurah Pagerharjo, Widayat, menilai semangat anak muda menjadi modal utama pengembangan kopi rakyat. Ketika kemauan sudah ada, pemerintah hadir membuka jalan dan memberikan dukungan. Budidaya kopi dinilai sangat potensial karena didukung kondisi geografis yang sesuai, serta kultur masyarakat Pagerharjo yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada petani kopi. Insyaallah, kami akan terus meningkatkan budidaya kopi. Potensi kopi sangat besar, baik dari sisi pertanian maupun wisata. Kami menyiapkan lahan dan mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar kopi menjadi komoditas andalan Pagerharjo,” katanya.

Dari lereng Menoreh, Kopi Trajumas menjadi bukti Dana Keistimewaan tak hanya menjaga nilai budaya, tetapi juga menumbuhkan harapan dan kesejahteraan, setetes demi setetes, dari secangkir kopi rakyat.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *