Jakarta,REDAKSI17.COM – Usia senja tak menyurutkan Sutarmi (68) untuk berjuang menghidupi keluarganya. Bersama sang suami, Subardi (76) yang telah tiga tahun terbaring lumpuh akibat stroke mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di bantaran Sungai Code GK V/47 RT 02 RW 01 Kelurahan Terban Kemantren Gondokusuman. Untuk menyambung hidup, setiap hari ia berjualan kue keliling di tengah tubuhnya yang renta.

Saat ditemui di rumahnya, Senin (09/02/2027), sambil berlinang air mata, Suratmi menceritakan  pahit hidup yang silih berganti menimpanya. Ia memiliki tiga anak, namun telah lebih dulu berpulang.

Anak pertamanya meninggal pada tahun 2003 akibat penyakit asma. Anak keduanya menyusul pada tahun 2015 karena pecah pembuluh darah. Duka itu belum selesai ketika pada 2022 anak ketiganya pun meninggal dunia. “Kulo pun namung tinggal kalih cucu(Saya hanya tinggal bersama cucu),” ujarnya lirih.

Subardi suami dari Suratmi saat diperiksa langsung dirumahnya dalam program home care puskesmas.

Suratmi menceritakan, cucu laki-lakinya Deri isya Maulana Saputra (21) telah menikah dan bekerja di Rumah Sakit UII Bantul. Sementara, cucu perempuannya Citra Arisya Dewi Saputri (18) saat ini duduk di SMA mengambil paket C.

Sejak kepergian anak bungsunya, cobaan Suratmi kembali datang. Seratus hari setelah kematian anaknya, Subardi terjatuh dan mengalami stroke. Sehingga membuat suaminya tak lagi bisa beraktivitas.

Kini, di tengah keterbatasan usia dan kondisi fisik, Suratmi menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga kecil itu. Dengan kemampuan yang ia miliki, ia membuat kue untuk dijajakan berkeliling kampung.

Tak jarang, ia harus bertumpu pada alat bantu jalan saat berjualan dari satu sudut ke sudut lain. “Kulo ndamel kue, kulo kelilingaken, mbeto teken kalihan keliling (Saya membuat kue, saya kelilingkan dagangannya dengan menggunakan alat bantu jalan),” ujarnya.

Kondisi rumah Suratmi yang berada di Sungai Code GK V/47 RT 02 RW 01 Kelurahan Terban Kemantren Gondokusuman.

Kondisi ekonomi yang semakin mendesak membuat Suratmi memberanikan diri mendatangi Open House yang rutin digelar setiap hari Rabu pagi pukul 05.30 hingga 09.00 WIB oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Pihaknya mengetahui kegiatan Open House berdasarkan saran dari tetangganya dan langkah itu menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta.

Tak berselang lama, bantuan pun datang. Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Baznas, Dinsosnakertrans, Dinas Pertanian dan Pangan, serta Dinas Kesehatan bergerak cepat menindaklanjuti laporan tersebut.

“Remen sanget di perhatekne kalih Bapak Wali Kota, langsung direspon. Kulo tambah remen nek menawi lansia-lansia diperhatikan kados kulo (Sangat senang diperhatikan Bapak Wali Kota dan langsung direspon. Saya tambah senang kalau nanti lansia-lansia diperhatikan seperti saya),” ucap Suratmi penuh haru.

Suratmi menjelaskan, bantuan yang diberikan berupa pemberian sembako dan cek kesehatan home care secara rutin yang dilakukan oleh Puskesmas.

Selain itu, bantuan juga akan diberikan oleh Baznas Kota Yogyakarta yang sedang ditindaklanjuti untuk membantu cucu perempuannya.

Kini, Ia hanya berharap, cucu perempuannya dapat menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMA, bahkan bila memungkinkan melanjutkan ke bangku kuliah. “Syukur-syukur bisa kuliah. Paling tidak lulus SMA,” katanya.

Di usia yang tak lagi muda, Suratmi terus melangkah pelan dengan tongkat di tangan, membawa dagangan sekaligus harapan. Harapan agar hidupnya dan masa depan cucunya tak berhenti di tengah jalan, dan bahwa di balik kerasnya hidup kota, masih ada kepedulian yang menyapa.

Saat ditemui, Staf Ahli Bidang Administrasi Umum Pemerintah Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko menjelaskan, kunjungan perwakilan OPD ke rumah Suratmi merupakan tindak lanjut dari Open House Wali Kota.

“Pada Jumat, 6 Februari 2026, kami diutus langsung oleh Bapak Wali Kota untuk melihat kondisi Ibu Suratmi, seorang lansia yang tinggal di tepi Kali Code bersama suaminya yang stroke dan satu cucunya,” jelas Wahyu.

Ia menambahkan, kondisi Suratmi cukup memprihatinkan karena hanya dirinya yang bekerja. Cucu yang tinggal bersamanya bahkan harus mengikuti program wajib belajar Paket C karena keterbatasan ekonomi.

Sebagai bentuk kehadiran pemerintah, Dinas Pertanian dan Pangan menyalurkan bantuan melalui program Food Bank Lumbung Mataraman. Baznas Kota Yogyakarta melakukan asesmen lanjutan melalui program Yogyakarta Sejahtera untuk memberikan bantuan permodalan usaha.

Tak hanya itu, bantuan diberikan oleh Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Gondokusuman II dengan memberikan layanan home care dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi Suratmi dan suaminya. “Ini bukan bantuan satu kali. Puskesmas akan rutin melakukan kunjungan home care sesuai wilayah kerja bagi para lansia,” ungkapnya.

Wahyu mengungkapkan, Pemerintah Kota Yogyakarta di bawah kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Yogyakarta berkomitmen hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Open House menjadi salah satu pintu untuk menjaring warga yang belum tersentuh layanan pemerintah.

“Harapannya, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan sosial bisa dirasakan seluruh warga. Jika ada yang terlewat, Open House menjadi ruang untuk menemukannya dan segera ditindaklanjuti,” imbuhnya.