Mergangsan,REDAKSI17.COM – Kota Yogyakarta mengalami inflasi secara tahunan 4,19 persen pada Maret 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,14. Secara bulanan inflasi tercatat 0,33 persen, sementara inflasi kumulatif tahun berjalan 0,91 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menjelaskan inflasi bulanan Maret dipengaruhi sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan dan transportasi.
“Bulan ke bulan terhadap Februari kemarin, Kota Yogyakarta mengalami inflasi 0,33 persen. Jadi selama tiga bulan ini secara kumulatif inflasinya 0,91 persen. Lalu secara year on year, Maret 2026 dibandingkan Maret 2025, inflasinya 4,19 persen,” ujarnya.
Ia menyebutkan, penyumbang inflasi terbesar secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, diikuti kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, serta transportasi.
“Komoditas yang dominan menyebabkan inflasi itu bensin, lalu daging ayam ras, emping mentah, transportasi, hingga sejumlah bahan pangan seperti beras dan sayuran,” jelasnya dalam Jumpa Pers pada Rabu (1/4/2206) di Kantor BPS Kota Yogyakarta.
Namun demikian, terdapat beberapa komoditas yang menahan laju inflasi. Di antaranya emas perhiasan yang memberikan andil negatif sekitar minus 0,66 persen, serta tarif angkutan udara, pisang, wortel, bawang putih, dan beberapa komoditas pangan lainnya.
Menurut Joko, kenaikan harga sejumlah bahan pangan pada Maret juga dipengaruhi meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri. Salah satu contoh yang menonjol adalah harga daging ayam ras yang sempat melonjak signifikan di pasaran.
“Permintaan masyarakat meningkat menjelang Lebaran, sehingga harga daging ayam ras di beberapa titik sempat naik cukup tinggi. Dari kisaran Rp34.000–Rp35.000 per kilogram, ada yang sampai sekitar Rp45.000 bahkan mendekati Rp50.000,” ungkapnya.
Selain faktor permintaan, kenaikan harga bahan bakar juga turut mendorong inflasi. Ia menjelaskan bahwa sebagian komoditas inflasi dipengaruhi faktor eksternal di luar kendali pemerintah daerah.
“Inflasi di Kota Yogyakarta ada yang dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Misalnya harga bahan bakar dan emas itu dipengaruhi kebijakan nasional atau global. Sementara komoditas pangan masih bisa diintervensi lewat kebijakan daerah seperti operasi pasar,” jelasnya.
Berdasarkan data BPS, secara tahunan inflasi terjadi karena kenaikan indeks sejumlah kelompok pengeluaran, antara lain makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,94 persen, pakaian dan alas kaki 1,05 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 9,82 persen, kesehatan 1,35 persen, pendidikan 2,92 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,90 persen. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 23,54 persen.
Joko menambahkan, dinamika inflasi ke depan tetap perlu diwaspadai, terutama jika terjadi perubahan harga energi atau gangguan pasokan komoditas tertentu di pasar.
“Kalau permintaan naik sementara pasokan tetap atau berkurang, harga pasti ikut naik. Itu yang biasanya terjadi pada komoditas pangan yang sifatnya volatile,” imbuhnya.



