Gondomanan,REDAKSI17.COM-Suasana kawasan Malioboro, Rabu pagi (10/12/2025), tampak berbeda dari biasanya. Ribuan masyarakat berkumpul untuk mengikuti doa bersama yang digelar sebagai wujud dukungan moral bagi saudara-saudara di Sumatera yang tengah mengalami musibah dan membutuhkan bantuan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Malioboro Charity for Sumatera, sebuah gerakan kemanusiaan berbasis seni dan budaya yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Acara berlangsung di sejumlah titik sepanjang Jalan Malioboro, melibatkan masyarakat, komunitas seni, pegiat budaya, hingga wisatawan yang turut berhenti sejenak untuk ikut mendoakan dan memberikan bantuan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja digagas untuk menghadirkan semangat solidaritas melalui pendekatan kesenian dan ruang budaya yang selama ini identik dengan Malioboro.

“Kegiatan ini merupakan sebuah aksi kemanusiaan berbasis seni dan budaya yang digelar sebagai wujud dukungan moral dan solidaritas untuk saudara-saudara di Sumatera yang tengah mengalami musibah dan membutuhkan bantuan,” ungkapnya.

Wisatawan saat memindai QRIS untuk berdonasi

Yetti menambahkan bahwa Malioboro bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga ruang publik yang dinamis dan hidup, di mana masyarakat bisa berkumpul, berekspresi, dan bergerak bersama untuk kepentingan sosial.

“Sebagai ruang seni budaya yang hidup dan dinamis, Malioboro hari ini tidak hanya menjadi tempat ekspresi kesenian, tetapi juga hadir sebagai ruang publik yang mengakomodasi kepentingan sosial, khususnya dalam menggerakkan kepedulian dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Usai pembacaan doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penggalangan dana yang dikoordinasikan melalui kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Baznas Kota Yogyakarta. Sebagai bentuk kemudahan bagi masyarakat, QRIS resmi Baznas dipasang di berbagai titik sepanjang Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.

“QRIS ini disiapkan agar masyarakat yang ingin menyumbangkan sedikit rezekinya untuk Sumatera, tapi bingung harus lewat mana, bisa langsung memindai QR yang sudah terpasang,” ujar Yetti.

Kegiatan makan bareng “Jangan Bobor Sambel Jenggot” sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong khas Jogja

Gelaran Malioboro Charity for Sumatera ini di jadwalkan hingga pukul 18.00 WIB, berbagai penampilan juga telah disiapkan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, seperti Kesenian Angguk, penampilan Bidadari Band, pembacaan puisi bertema kemanusiaan, dan aksi flashmob komunitas seni.

Melalui kegiatan ini ia berharap agar saudara-saudara di Sumatera dapat segera bangkit dan pulih dari musibah yang menimpa.

Langkah ini mendapat respons positif dari warga dan wisatawan yang melintas, terlihat dari banyaknya masyarakat yang berhenti sejenak untuk menyalurkan donasi melalui gawai mereka.

Salah satunya adalah Salsabila, wisatawan asal Bandung. Ia mengatakan bahwa ia tidak menyangka kunjungannya ke Jogja disuguhi momen kemanusiaan yang begitu hangat.

“Saya tadi cuma berniat jalan-jalan di Malioboro, ternyata ada doa bersama dan penggalangan dana. Jujur saya terharu. Jarang sekali saya melihat kota yang warganya kompak seperti ini,” ujarnya.