Masuk angin ditandai dengan gejala berupa perut kembung, meriang, pegal-pegal, hingga mual.
Di tengah cuaca yang tidak menentu, banyak orang mengeluhkan kondisi yang disebut “masuk angin”. Sebenarnya istilah “masuk angin” tidak dikenal dalam dunia medis.
Masuk angin adalah istilah yang populer di Indonesia untuk menggambarkan berbagai gejala tidak nyaman seperti seperti meriang, perut kembung, pegal-pegal, dan rasa tidak enak badan.
Kondisi ini biasanya muncul setelah tubuh terlalu lelah, kurang tidur, kehujanan, atau terpapar angin di malam hari dalam waktu lama.
Meski terdengar ringan, masuk angin bisa cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk itu, penting bagi kita memahami lebih dalam apa saja gejala khasnya, penyebabnya, dan cara mengatasinya secara efektif. Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Gejala Masuk Angin
Masuk angin bisa menimbulkan banyak keluhan pada seseorang. Berikut beberapa ciri ciri masuk angin:
- Perut kembung atau begah. Perut terasa penuh akibat penumpukan gas, sering kali dikaitkan dengan pola makan yang tidak teratur atau konsumsi makanan yang sulit dicerna.
- Meriang atau menggigil. Rasa dingin atau menggigil ringan meskipun suhu tubuh tidak terlalu tinggi, bisa menjadi pertanda adanya infeksi virus ringan.
- Pegal-pegal dan badan terasa lemas. Otot terasa kaku atau nyeri, yang umum terjadi saat tubuh melawan infeksi atau kelelahan.
- Sakit kepala ringan. Rasa tidak nyaman di kepala yang sering muncul bersamaan dengan flu ringan atau kelelahan.
- Mual dan tidak nafsu makan. Rasa mual yang disertai hilangnya nafsu makan bisa jadi tanda reaksi tubuh terhadap gangguan pencernaan atau stres.
Penyebab Masuk Angin
Berikut beberapa hal yang sering dikaitkan sebagai penyebab masuk angin:
1. Paparan angin atau udara dingin terlalu lama
Saat tubuh terlalu lama terpapar udara dingin, pembuluh darah bisa menyempit sebagai respons alami untuk menjaga suhu inti tubuh. Hal ini dapat melemahkan sistem imun, terutama di saluran pernapasan bagian atas.
2. Kelelahan atau kurang tidur
Kurang tidur dapat menurunkan aktivitas sel-sel imun seperti limfosit, yang membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi virus. Kondisi ini juga memperpanjang waktu pemulihan tubuh terhadap infeksi ringan.
3. Pola makan tidak seimbang dan pencernaan yang terganggu
Makanan tinggi lemak dan rendah serat menyebabkan lambung bekerja lebih keras dan menimbulkan gas berlebih. Kombinasi ini dapat memicu rasa begah dan mual, yang umum dikeluhkan saat masuk angin.
4. Infeksi virus ringan (common cold)
Virus seperti rhinovirus atau coronavirus musiman menyerang saluran pernapasan atas dan menyebabkan gejala mirip flu. Infeksi ini biasanya menyebar melalui udara atau sentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi.
5. Penurunan daya tahan tubuh akibat stres
Hormon stres seperti kortisol dalam jumlah tinggi dapat menekan sistem imun dan membuat tubuh lebih sensitif terhadap perubahan cuaca. Selain itu, stres juga bisa memengaruhi pola makan dan tidur, yang memperburuk kondisi.
6. Paparan polusi udara
Udara yang tercemar bisa mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan gejala seperti batuk, hidung tersumbat, serta tenggorokan gatal. Risiko ini meningkat jika kamu sering beraktivitas di luar ruangan.
7. Aktivitas berat saat cuaca tidak mendukung
Berolahraga atau bekerja berat dalam kondisi hujan atau angin kencang dapat menyebabkan kelelahan pada tubuh. Akibatnya sistem imun menurun dan tubuh mudah terserang penyakit.
Penyakit yang Disamakan dengan Masuk Angin
1. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gejalanya mirip masuk angin seperti batuk, pilek, dan demam, tapi bisa memburuk bila menjalar ke paru-paru.
2. Gangguan pencernaan. Keluhan seperti mual, kembung, dan nyeri ulu hati kerap disangka masuk angin padahal bisa berasal dari masalah lambung atau infeksi saluran cerna.
3. Penyakit jantung. Nyeri dada atau ulu hati yang menjalar ke lengan atau leher bisa jadi tanda serangan jantung, bukan sekadar masuk angin.
4. Demam berdarah dan malaria. Keduanya bisa menyebabkan demam, nyeri tubuh, dan menggigil yang mudah disalahartikan sebagai gejala masuk angin biasa.
Cara Mengatasi Masuk Angin
Beberapa cara berikut bisa membantu meredakan gejala masuk angin secara efektif, seperti:
- Cukup istirahat dan tidur berkualitas. Istirahat mempercepat pemulihan sel tubuh dan menguatkan sistem imun. Idealnya tidur malam berlangsung 7–8 jam tanpa gangguan.
- Konsumsi makanan bergizi dan hangat. Pilih makanan yang mudah dicerna seperti sup ayam, bubur, atau rebusan sayur. Makanan hangat membantu meredakan perut kembung dan meningkatkan metabolisme.
- Minum air putih secara rutin. Air membantu mengeluarkan toksin dan menjaga kelembapan saluran napas. Contohnya, kamu bisa minum teh jahe atau air lemon hangat yang dapat memberikan efek menenangkan bagi tubuh.
- Gunakan minyak esensial atau balsam penghangat. Minyak kayu putih, peppermint, atau eucalyptus bisa meredakan nyeri otot dan hidung tersumbat melalui efek aromaterapi.
- Pijat ringan. Pijatan yang lembut dan ringan dapat membantu melancarkan peredaran darah dan memberikan rasa lega. Namun, kamu perlu menghindarinya jika kulit sensitif atau sedang mengalami infeksi kulit.
- Konsumsi suplemen atau obat-obatan ringan. Suplemen dengan kandungan vitamin C, vitamin D, dan zinc bisa digunakan untuk meredakan gejala ringan seperti nyeri otot dan demam. Namun, sebelum mengonsumsi suplemen, pastikan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter.
- Menghindari aktivitas berat dan paparan udara dingin berlebihan. Biarkan tubuh pulih sebelum kembali beraktivitas normal, terutama jika masih merasa lemas atau belum fit.





