UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus berkomitmen menekan angka Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2026. Berbagai langkah pengendalian terus dilakukan, mulai dari penemuan kasus secara aktif, penguatan pengobatan hingga tuntas, hingga pemberian terapi pencegahan bagi kelompok kontak erat.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu saat ditemui, pada hari Kamis (12/2).
Pihaknya menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 1.333 kasus TBC yang berobat dan terdiagnosis di fasilitas kesehatan Kota Yogyakarta. “Penemuan kasus kita memang cukup tinggi. Tetapi persoalannya masih ada pada kontak serumah yang belum optimal dilakukan pemeriksaan. Ini yang perlu terus kita tingkatkan,” ujarnya.
Dari total 1.333 kasus tersebut, sekitar 600-an merupakan warga ber-KTP Kota Yogyakarta, sementara sisanya merupakan warga luar kota yang berobat di fasilitas kesehatan di Kota Yogyakarta. Tingginya mobilitas dan kepadatan penduduk menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penularan.
Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit menular melalui udara (airborne disease), sehingga siapa pun berisiko terinfeksi, terutama pada lingkungan dengan kepadatan tinggi dan rumah yang belum memenuhi standar kesehatan.
“Kalau satu rumah ada beberapa orang dan satu terkena TB, maka lebih mudah menular ke yang lain. Apalagi rumah yang lembab, tidak ada sirkulasi udara, dan tidak mendapat akses sinar matahari langsung, itu menjadi faktor risiko,” jelas dr.Endang.
Tambahnya, upaya pencegahan juga telah didukung melalui program bedah rumah yang terus dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Program tersebut dinilai turut berkontribusi dalam menekan risiko penularan TBC melalui perbaikan kualitas hunian agar memenuhi standar kesehatan.
Endang menjelaskan, ditengah efisiensi anggaran yang berdampak pada pengurangan sejumlah kegiatan, Dinkes mengaku mengoptimalkan strategi investigasi kontak sebagai langkah efektif dan relatif minim biaya.
Setiap ditemukan kasus indeks, petugas berupaya melakukan skrining gejala pada seluruh anggota keluarga serumah, rekan kerja satu ruangan, serta tetangga dekat yang memiliki kontak erat. Mereka yang bergejala akan diperiksa lebih lanjut, sedangkan yang belum bergejala dapat diberikan terapi pencegahan.
“Orang yang sudah kontak dengan pasien TB berisiko terinfeksi. Infeksi itu belum tentu langsung sakit, karena proses TB panjang. Dengan terapi pencegahan, harapannya tidak berkembang menjadi sakit TB di kemudian hari,” katanya.
Namun, efisiensi anggaran juga berdampak pada berkurangnya dukungan dari sejumlah mitra, termasuk kader komunitas yang sebelumnya membantu pelacakan pasien putus obat dan sosialisasi di masyarakat. Kini, dukungan lebih difokuskan pada investigasi kontak.
Ia berharap, di tahun 2026 masyarakat semakin peduli dan tidak lagi memberikan stigma terhadap pasien TBC. “Dengan pemahaman yang benar, sebenarnya kita tidak perlu terlalu takut. Ada upaya pencegahan agar tidak menular, dan ada obat untuk menyembuhkan serta mencegah agar infeksi tidak berkembang menjadi sakit,” ujarnya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu didampingi Epidemiolog Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Setyo Gati Candra Dewi, saat ditemui, pada hari Kamis (12/2).

Sementara itu, Epidemiolog Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Setyo Gati Candra Dewi mengungkapkan, terdapat tiga indikator utama dalam pengendalian TBC, yakni penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Target nasional yang diturunkan ke daerah menetapkan, 90 persen dari estimasi kasus harus ditemukan, 90 persen pasien yang diobati harus berhasil menyelesaikan pengobatan, serta 80 persen kontak serumah atau kontak erat harus mendapatkan TPT.
“Untuk penemuan kasus, kita sudah melampaui 90 persen dari estimasi. Tetapi yang masih menjadi tantangan adalah keberhasilan pengobatan dan pemberian TPT,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, tidak semua pasien yang memulai pengobatan berhasil menyelesaikannya. Beberapa kendala yang ditemui antara lain pasien putus obat di tengah jalan, pindah tanpa terlacak, gagal pengobatan, hingga meninggal dunia.
Berdasarkan evaluasi tahun 2025 terhadap pasien yang memulai pengobatan pada 2024, tercatat sebanyak 90 orang meninggal dunia dari sekitar 1.319 pasien yang diobati. Angka tersebut melebihi ambang batas 2 persen yang diharapkan.
“Memang tidak semua kematian murni karena TB. Banyak pasien memiliki penyakit penyerta seperti diabetes (DM), HIV, atau komorbid lainnya. Namun, secara pencatatan tetap masuk sebagai kematian TB,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Dinkes menekankan pentingnya skrining rutin TBC pada kelompok berisiko, seperti pasien HIV dan diabetes, guna mendeteksi lebih dini dan mencegah komplikasi berat hingga kematian.
Sehingga, eliminasi TBC pada tahun 2030 hanya dapat tercapai jika ketiga indikator utama terpenuhi. Dinkes pun mengajak masyarakat yang sedang menjalani pengobatan TBC untuk menyelesaikan terapi hingga tuntas.
“Pengobatan yang tidak selesai bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga berpotensi menularkan ke orang lain. Dengan pengobatan tuntas, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu menurunkan angka penularan di Kota Yogyakarta,” imbuhnya.