Home / Politik / Megawati Terima Gelar Doktor Kehormatan, Hasto: Pengakuan Kepemimpinan Ideologis

Megawati Terima Gelar Doktor Kehormatan, Hasto: Pengakuan Kepemimpinan Ideologis

 

Jakarta,REDAKSI17.COM – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat memberikan keterangan pers seusai diskusi terbatas PDI Perjuangan Bersama Pakar Ekonomi, Fiskal, dan Moneter di Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (11/2). Diskusi ini bertujuan menggali insight strategis terkait persoalan ekonomi nasional, mulai dari pelemahnya daya beli, kredit UMKM, hingga strategi keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi 5%. Foto : Ricardo

jpnn.com, JAKARTA – Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut pemberian gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) bagi Megawati Soekarnoputri oleh Princess Nourah bint Abdulrahman University, Arab Saudi sebagai tanda pengakuan internasional terhadap kepemimpinan Presiden Kelima RI itu.

Diketahui, pemberian dari Princess Nourah bint Abdulrahman University menjadi gelar Doktor Kehormatan kesebelas yang diperoleh Megawati.

“Ini suatu pengakuan terhadap kepemimpinan ideologis, kemanusiaan, dan keadilan yang terus-menerus diperjuangkan oleh Ibu Megawati,” kata Hasto di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (11/2).

Universitas Pertahanan (Unhan) itu menilai kepemimpinan Megawati di Indonesia selalu mengacu sisi ideologis.

“Kepemimpinan strategis beliau diwarnai oleh ideologi yang dijabarkan secara nyata dalam kultur organisasi,” lanjut Hasto.

Peraih gelar doktor dari Universitas Indonesia (UI) itu mengungkit kepemimpinan Megawati ketika mampu membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensi setelah 1998 serta membangun landasan ekonomi yang kokoh.

“Termasuk ketika beliau menjadi Presiden kelima, beliau mampu menyelesaikan krisis multidimensional dan membangun kepastian, sehingga kabinetnya saat itu dikenal sebagai The Dream Team,” kata Hasto.

Pria kelahiran Yogyakarta itu menuturkan gelar yang diperoleh Megawati juga menjadi pelecut PDIP terus mengedepankan pentingnya kepemimpinan intelektual.

Menurutnya, seorang pemimpin harus memahami problematika rakyat sekaligus memiliki visi masa depan yang kuat.

“Kepemimpinan yang membumi pada problematika rakyat, bangsa, dan negara. Suatu kepemimpinan yang memberi arah masa depan, namun juga siap diuji oleh berbagai guncangan, termasuk kritik,” kata Hasto.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengatakan kepemimpinan intelektual yang akhirnya membuat elite negara tidak boleh antikritik.

Hasto mengatakan tradisi kepemimpinan intelektual inilah yang diwariskan dari Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno hingga Megawati.

“Sejarah sejak Bung Karno hingga Ibu Megawati saat ini memang harus diwarnai dengan kepemimpinan intelektual agar partai bisa terus menentukan arah perjalanan bangsa ke depan,” pungkas dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *